29.3.19

Mengenal Gangguan Disosiatif


Gangguan Disosiatif (dissociative disorder) adalah merupakan suatu kondisi dimana seseorang memiliki dua atau lebih jenis kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian ganda merupakan suatu hal yang tergolong kontroversial di dunia psikiatri maupun hukum. Karena itulah beberapa kasusnya kemudian menjadi berita menggemparkan publik. Beberapa di antaranya bahkan sempat diangkat menjadi buku atau menginspirasi beberapa kisah fiksi terkenal. Salah satunya adalah film berjudul Split (2016) yang menceritakan tentang pria dengan 23 kepribadian itu terinspirasi dari kisah hidup seorang pasien gangguan identitas disosiatif bernama Billy Milligan (Tantri, 2019).

Gangguan identitas disosiatif adalah bentuk disosiasi yang lebih parah, mengakibatkan seseorang kehilangan kontrol atas pikiran, memori, perasaan, perbuatan, hingga kesadaran atas identitasnya. Orang yang mengalami gangguan ini mengalami kesulitan untuk mengingat peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada dirinya, melupakan identitas dirinya bahkan membentuk identitas baru. Identitas yang berbeda ini biasanya juga memiliki dengan nama yang berbeda, temperamen yang berbeda, bahkan self-image yang juga berbeda. (Monica, 2017)

Tidak ada penjelasan pasti mengapa seseorang bisa menderita gangguan ini. Walaupun banyak faktor yang terlibat dalam penyakit ini, tetapi penderita gangguan identitas disosiatif biasanya memiliki latar belakang pengalaman traumatis, terutama pada saat masa kecilnya. Seperti trauma masa anak-anak, penyiksaan fisik, pelecehan seksual, kecemasan yang luar biasa akibat munculnya ingatan menyakitkan.

Gangguan kepribadian ganda mempunyai karakteristik munculnya dua atau lebih kepribadian berbeda-beda yang secara bergiliran mengambil alih atau kendali atas diri penderitanya. Masing-masing dari kepribadian ini memiliki nama, pola pikir, kebiasaan, gaya berbicara, ciri fisik, bahkan gaya tulisan yang berbeda-beda. Adanya predisposisi kelemahan sistem syaraf, depresi, kecemasan berlebihan, sering merasa bersalah, hingga agresif dapat muncul. Perubahan mood, serangan panik, fobia, gangguan tidur (seperti insomnia dan berjalan saat tidur), serta sakit kepala berlebihan juga biasanya menyertai gangguan identitas disosiatif. Masalah dalam hal memori juga sering ditemui, terutama ingatan terkait kejadian saat ini maupun masa lampau, orang yang terlibat, tempat, hingga waktu. Masing-masing kepribadian dalam satu orang mungkin memiliki ingatan yang berbeda. Ketika kepribadian pasif sedang mengambil alih, ingatan yang muncul biasanya samar-samar atau bahkan bertentangan dengan kejadian aslinya. Sementara kepribadian yang lebih dominan memiliki ingatan yang lebih lengkap atas suatu kejadian. Sehingga tidak jarang penderita tidak mengingat mengapa ia ada di waktu dan tempat tertentu. (Mirza,  2018).

Treatment untuk penderita gangguan identitas disosiatif dapat berlangsung secara berkelanjutan hingga bertahun-tahun, karena gangguan ini tidak mudah untuk dihilangkan. Beberapa jenis terapi yang disarankan bagi penderita gangguan identitas disosiatif yaitu:

Psikoterapi

Terapi ini bertujuan untuk menyatukan beberapa kepribadian yang ada menjadi satu kepribadian yang utuh. Tahapan yang dilakukan degan cara menelusuri penyebab utama dari trauma di masa lalu dan membantu penderita menghadapi trauma yang memicu munculnya kepribadian lain agar individu menemukan kepribadiannya yang sebenarnya. Tahapan yang dilakukan biasanya mempelajari kepribadian apa saja yang muncul, mengatasi trauma, dan menyatukan beberapa kepribadian yang ada menjadi satu.

Terapi keluarga

Terapi ini dilakukan untuk memberi penjelasan lebih kepada keluarga dengan mengedukasi tentang gangguan yang dialami penderita. Keluarga kemudian dilatih untuk mengamati tanda tanda perubahan kepribadian dan juga gejala yang muncul. Keluarga diberikan edukasi untuk memberikan dukungan pada penderita agar apapun bentuk kepribadian yang muncul, tidak bersikap menyimpang. Bentuk dukungan seperti ini sangat dibutuhkan untuk penderita dalam membentuk kepribadian aslinya kembali. Terapi keluarga memberikan pemahaman lebih pada keluarga bagaimana cara merawat dan memberi dukungan pada anggota keluarga yang memiliki kepribadian ganda.



Widuri Mayangsari
1731.0410.1167
Mata Kuliah : Psikologi Abnormal
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A


Referensi:

1. Tantri Setyorini. 2019. 5 Kasus Kepribadian Ganda Fenomenal yang Jadi Inspirasi Fiksi Terkenal dalam https://www.merdeka.com/gaya/6-kasus-kepribadian-ganda-fenomenal-yang-jadi-inspirasi-fiksi-terkenal.html diakses pada 27 maret 2019

2. Mirza Iqbal. 2018. Direktori Psikologi: Gangguan Disosiatif dalam https://pijarpsikologi.org/direktori-psikologi-gangguan-disosiatif/ diakses pada 27 maret 2019

3. Monica Nanda. 2017. Mengenal Kepribadian Ganda Alias Gangguan Disosiatif dalam https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/mengenal-gangguan-disosiatif-kepribadian-ganda/ diakses pada 27 maret 2019


0 comments:

Post a Comment