22.3.19

GALAU CENDERUNG MEMUNCULKAN PENYAKIT PSIKOLOGIS



Oleh: Nirbita Melani
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

           
          Artikel ini sebuah pengalaman yang saya alami sendiri.Hasil refleksi saya bahwa galau lebih disebabkan kurangnya kepemahaman tentang diri endiri dan kurang mencintai diri sendiri.Jika kita mampu memahami potensi yang kita miliki,maka kita akan mengelola rasa galau serta terus mencoba untuk melakukan hal-hal positif.

            Galau merupakan sebuah perasaan yang menyerupai rasa bingung dan kondisi pikiran tidak tenang.Banyak hal yang yang dapat memunculkan galau diantaranya kondisi cemas,ketakutan,dan kurang percaya diri,dan kesedihan.

            Menurut Maslow dalam teori kebutuhan dasar manusia,sesudah kebutuhan fisiologis dan keamanan relatif terpuaskan,kebutuhan dimiliki atau menjadi bagian dari kelompok sosial dan cinta menjadi tujuan yang dominan.Orang sangat peka dengan kesendirian,pengasingan,ditolak lingkungan,dan keilangan sahabat atau kehilangan cinta.Cinta tidak sinonim dengan seks,cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai,menghormati,dan mempercayai.Dicintai dan diterima adalah jalan menuju perasaan yang sehat dan berharga,sebaliknya tanpa cinta menimbulkan kesia-siaan,kekosongan dan kemarahan.

          Fokkinga dan Desmet (2013) yang mengemukakan bahwa emosi negatif akan mudah memunculkan pengalaman yang kaya akan emosi.

           Remaja akan mengetahui kondisi emosional saat emosi diekspresikan dalam kata atau aksi dan menjadi sadar bahwa sebuah emosi mulai mengendalikan perilakunya,mempertimbangkan apakah reaksi emosional layak dengan situasi yang dihadapi,dan apakah reaksi yang muncul pada intensitas yang benar dan memanifestasikan dirinya sendiri pada perilaku yang konstruktif atau destruktif.

         Galau banyak sekali dialami oleh remaja atau kaum muda,terutama hal percintaan.Ketika putus cinta terjai suatu permasalahan karena perbedaan pendapat dan rasa cemburu.Rasa galau tersebut berakibat pada sikap murung,kehilangan selera,kurang semangat,bahkan menangis.

     Apakah kita akan memilih galau atau senang,semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.Seberapapun rasa galau yang kita rasakan apa bila kita mampu menyikapi dengan hati riang maka semua akan terasa lebih baik dan menyenangkan.

        Demikian halnya ketika kita berani mencintai,berani menyukai berarti kita pun harus harus berani menghadapi dua pilihan gagal dan goal atau berhasil.Sebuah kondisi yang selalu memiliki konsekwensi menjadi sebuah tantangan tentang bagaimana kita bersikap dan cerminan kedewasaan kita dalam menghadapi seuatu.

      Sedikit uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kita tidak perlu merasa galau secara berlebihan.Galau cenderung memunculkan penyakit psikologis,bahkan mungkin berdampak pada kondisi frustasi.Penting bagi kita untuk lebih mencintai diri sendiri.Banyak kali yang terjadi kita paham betul tentang diri seseorang yang kita kagumi tapi kita sendiri tidak paham terhadap diri kita sendiri.
Yuk,kurangi tren galau.


Referensi
Alwisol,Psikologi Kepribadian,Malang:UM Press,2014.
Dody,L.P.,Ahyani,R.F.,Hidayat.(2014).Makna Kesedihan Bagi Remaja,Jurnal Psikologi. Vol.10 Nomor 2, Desember 2014
https://media.neliti.com/media/publications/127338-ID-makna-kesedihan-bagi-remaja.pdf

0 comments:

Post a Comment