9.3.19

bullying pada peserta didik


                                                      Bullying pada peserta didik
Rr.Sekarlangit Ayuningtyas Rahawarin                                                                                                                  18.310.410.1179                                                                                                                                                psikologi umum 2

           Pembahasan masalah bullying tidak pernah habis dari masa kemasa. Setiap tahun selalu ada kasus-kasus baru tentang perilaku peserta didik yang diketegorikan sebagai perilaku menyimpang, dilakukan secara sengaja dengan niat untuk melemahkan korban, mempermalukan, dan dilakukan berulang-ulang.
           Tentunya kita pernah mendengar kata "Bullying", bukan? Bullying tergolong kepada perilaku yang tidak baik atau perilaku menyimpang, hal ini dikarenakan bahwa perilaku tersebut memiliki dampak yang cukup serius. Bullying dalam jangka pendek dapat menimbulkan perasaan tidak aman, terisolasi, perasaan harga diri yang rendah, depresi, atau menderita stress yang dapat berakhir dengan bunuh diri. Dalam jangka panjang, korban bullying dapat menderita masalah emosional dan perilaku.
           Apakah perilaku bullying itu dipengaruhi oleh teman-temanya yang juga melakukan perilaku bullying? Sehingga peserta didik mencoba mencontoh perilaku tersebut untuk mendapatkan rasa aman dari lingkungannya? Atau sebagai bentuk penyeragaman perilaku dengan lingkungannya? Apakah kebutuhan akan rasa aman menyebabkan seseorang melakukan perilaku bullying? Atau karena peserta didik melakukan perilaku bullying menyebabkan seseorang merasa aman?
           Menurut Bandura dalam teori belajar sosialnya, perilaku tersebut dapat terjadi karena dua metode yaitu pembelajaran instrumental yaitu terjadi jika sesuatu perilaku di beri penguat atau diberi reward (hadiah), maka perilaku tersebut cenderung akan diulang pada waktu yang lain. Dan pembelajaran observasional yaitu terjadi jika seseorang belajar perilaku yang baru melalui observasi atau pengamatan kepada orang lain yang disebut ―model‖. Lebih lanjut Bandura mengatakan bahwa, perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukannya perilaku yang dibawa individu sejak lahir perilaku agresif ini dipelajari dari lingkungan sosial seperti interaksi dengan keluarga, interaksi, dengan rekan sebaya dan media massa melalui modelling. Selain karena akibat dari mencontoh (model ) melalui mengamatan serta adanya penguatan dari lingkungan terhadap perilaku tersebut, bullying ini terjadi juga kerena bully juga tidak mendapatkan konsekuensi dari pihak guru atau sekolah, maka dari sudut terori belajar, bully mendapatkan reward atau penguatan dari prilakunya. Si bully akan mempresepsikan bahwa perilakunya justru mendapatkan pembenaran bahkan memberinya identitas sosial yang membanggakan pihak-pihak outsider
            Pemberian efek yang jera kepada para pelaku akan memberikan antisipasi untuk mencegah timbulnya perilaku bullying  yang baru. Sikap dari sekolah yang tidak memberikan terguran terhadap pelaku bullying verbal serta sikap apatis  dari ligkungan menjadi penguat oleh peserta didik melakukan perilaku bullying
Referensi
Djuwita, Ratna, 2008.Bullying :Kekerasan Terselubung Di Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara, 2008
Gk

0 comments:

Post a Comment