12.11.18

PENGERTIAN PSIKOLOGI KLINIS DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI KLINIS

Pengertian Psikologi Klinis Menurut J.H.Resinck adalah bidang dalam psikologi yang meliputi riset, pelayanan dan pengajaran yang relevan dengan prinsip-prinsip, metode-metode dan prosedur aplikasi untuk memahami, meduga dan mengurangi maladjustmen, ketidaknyamanan dan ketidakmampuan, diterapkan pada populasi klien untuk rentang yang luas.

Menurut Witmer, Pengertian Psikologi Klinis adalah metode yang digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik penanganan pedagosis.

Corsini mengatakan bahwa Pengertian Psikologi Klinis merupakan cabang psikologi yang bersifat spesialis dalam studi, prevensi, diagnosis dan penanganan gangguan-gangguan perilaku dan gangguan mental dan tekanan-tekanan mental yang negatif.

Pengertian Psikologi Klinis Menurut American Psychological Association Clinical Section adalah suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan karakteristik individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis dan pemberian saran serta rekomendasi agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut.

Dari pengertian psikologi klinis yang diungkapkan para pakar diatas, dapat disimpuLkan bahwa Pengertian Psikologi Klinis adalah cabang dari psikologi yang bersifat spesifik, dimana bertujuan untuk memahami periliaku individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis serta pemberian saran dan rekomendasi agar individu mampu melakukan penyesuaian.

Ada beberapa ciri atau sifat yang terdapat pada Psikologi Klinis, yaitu :
1. Memiliki orientasi ilmiah-profesional. Yang dimaksudkan dalam hal ini ialah adanya ciri berupa penggunaan kaidah psikologi dan metode ilmu, dalam pemberian bantuan terhadap individu yang menderita masalah-masalah psikologis melalui intervensi dan evaluasi psikologis.
2. Menampilkan kompetensi psikolog, sebab psikolog klinis terlatih di dalam menggunakan petunjuk dan pengetahuan psikologi dalam kerja profesionalnya.
3. Menampilkan kompetensi klinikus, karena berusaha mengerti orang lain dalam kompleksitas alamiah dan transformasi adaptif secara berkelanjutan.
4. Ilmiah, karena penggunaan metode ilmiah untuk mencapai presisi dan objektivitas untuk setiap individu yang ditanganinya.
5. Profesional, karena dalam hal ini lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang penting bagi individual, komunitas dan kelompok sosial untuk memecahkan masalah psikososial dan meningkatkan kualitas hidup.

Ruang Lingkup Psikologi Klinis
Ruang lingkup psikologi klinis mencakup assesment, intervensi, dan penelitian.
1)      Assesment, merupakan proses pengumpulan informasi mengenai klien atau subyek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang (Wiramihardja S.A., 2004: 38). Sedangkan menurut Bern dan Nietzel (Markam, 2003) assesmen dalam psikologi klinis, ialah pengumpulan informasi untuk digunakan sebagai dasar bagi keputusan yang akan disampaikan oleh penilaian.
2)       Intervensi, secara umum adalah upaya untuk mengubah perilaku, pikiran, perasaan seseorang. Kendall dan Norton Ford berpendapat bahwa intervensi klinis meliputi penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang menangani masalah-masalah dan mengembangkan kehidupannya yang memuaskan.
3)      Penelitian, dalam psikologi klinis penelitian bertujuan untuk membuktikan kebenaran suatu teori dalam praktiknya, dan untuk lebih memahami keunikan perilaku, perasaan, dan pikiran individu klien, bukan untuk mengadakan generalisasi.tujuan dan penekanannya adalah untuk keperluan populasi khusus, misalnya
a)      mengetahui efektivitas suatu perlakuan pada kelompok tertentu,
b)       menentukan tes yang dapat meramalkan kerentanan seseorsng terhadap serangan stroke, dan lain-lain. Metode-metode yang digunakan ialah: metode observasi, penelitian epidemiologi, meode korelasi, eksperimen, penelitian longitudinal, dan desain satu kasus.
Konsep abnormalisasi
1. Abnormalitas menurut Konsepsi Statistik
Secara  statistik  suatu  gejala  dinyatakan  sebagai  abnormal  bila menyimpang dari mayoritas. Dengan demikian seorang  yang jenius sama-sama  abnormalnya  dengan  seorang  idiot,  seorang  yang jujur  menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur.
2. Abnormal menurut Konsepsi Patologis
Dinyatakan  tidak normal  bila  terdapat  simptom-simptom  klinis  tertentu,  misalnya  ilusi, halusinasi,  obsesi,  fobia,dst.  Sebaliknya  individu  yang  tingkah  lakunya tidak  menunjukkan  adanya  simptom-simptom  tersebut  adalah  individu yang normal.
3. Abnormal menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi
Seseorang  dinyatakan  penyesuaiannya  baik bila  yang  bersangkutan  mampu  menangani  setiap  masalah  yang dihadapinya  dengan  berhasil, itu  menunjukkan  bahwa  dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi maslah dirinya menunjukkan  kecemasan,  kesedihan,  ketakutan,  dst.  yang  pada akhirnya  masalah  tidak  terpecahkan,  maka  dikatakan  bahwa penyesuaian  pribadinya  tidak  baik,  sehingga  dinyatakan  jiwanya  tidak normal.
4. Abnormalitas menurut Konsepsi Sosio-kultural
Seperangkat  norma  yang berfungsi  sebagai  pengatur  tingkah  laku .Individu sebagai  anggota  masyarakat  dituntut  untuk  menyesuaikan  diri  dengan norma-norma sosial dan susila di mana dia berada. Bila tingkah lakunya  menyimpang  dari  norma-norma  tersebut,  maka  dirinya dinyatakan sebagai individu yang tidak normal.
5. Abnormalitas menurut Konsepsi Kematangan Pribadi
Menurut konsepsi kematangan pribadi, seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya, yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Sutardjo A. Wiramihardja, 2007. Pengantar Psikologi Klinis. Yang menerbitkan PT Refika Aditama : Bandung.

http://edwinmunip.blogspot.com/2013/10/definisi-dan-ruang-lingkup-psikologi.html

0 comments:

Post a Comment