25.10.18

PSIKOLOGI KLINIS, SEBUAH PEMAHAMAN DAN RUANG LINGKUP

            PSIKOLOGI KLINIS, SEBUAH PEMAHAMAN DAN                                          RUANG LINGKUP



Fahrunisa Yeni Astari, NIM. 163104101156
Psikologi klinis
By : Fx Wahyu W, S. Psi, M.A
FAKULTAS PSIKOLOGI UP 45 YOGYAKARTA


Pengantar Psikologi KlinisKali ini saya akan menulis rangkuman dari buku yang berjudul “Psikologi Klinis” yang ditulis oleh Suprapti Slamet I.S dan Sumarmo Markam yang diterbitkan pada tahun 2003.

         LATAR BELAKANG PSIKOLOGI KLINISPsikologi Klinis termasuk salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lainnya. Psikologi klinis menggunakan konsep psikologi abnormal, psikologi perkembangan, psikopatologi dan psikologi kepribadian yang berguna untuk dapat memahami dan memberi bantuan kepada seseorang yang mengalami masalah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku abnormal.

       Definisi dan Ruang Lingkup Psikologi KlinisPsikologi klinis dapat diartikan secara sempit maupun secara luas. Secara sempit, Psikologi klinis tugasnya adalah mempelajari orang-orang yang abnormal atau subnormal. Tugas utamanya adalah menggunakan tes yang merupakan bagian dari suatu pemeriksaan klinis yang biasanya dilakukan di rumah sakit.
Secara luas, Psikologi klinis adalah bidang psikologi yang membahas dan mempelajari kesulitan-kesulitan serta rintangan-rintangan emosional pada umumnya yang dirasakan oleh manusia, tidak memandang apakah itu abnormal atau subnormal.
Menurut Phares (1992) seperti yang dijelaskan dalam buku, psikologi klinis menunjuk pada bidang yang membahas kajian, diagnosis, dan penyembuhan (treatment) atau tingkah laku abnormal.
Psikologi Klinis, Bidang-bidang Kajian Terkait, dan Profesi-profesi Pemberi Pertolongan (Helping Professions) LainnyaYap Kie Hien (1968) yang dijelaskan di dalam buku ini mengemukakan bebrapa istilah lain untuk “Psikologi Klinis.” Istilah-istilah tersebut adalah Psikopatologi, Psikologi Abnormal, Psikologi Medis, Patopsikologi dan Psikologi Mental Health.
Psikopatologi, adalah bidang yang mempelajari patologi atau kelainan dari proses kejiawaan. Istilah ini biasanya digunakan dalam lingkungan psikiatri. Seorangg psikologi klinis harus menguasai psikologi untuk dapat berhasil dalam pekerjaan diagnostiknya.
Psikologi Medis, merupakan suatu penjabaran dari psikologi umum dan psikologi kepribadian untuk ilmu kedokteran. Yang mempunyai tujuan untuk melengkapi pengetahuan seorang dokter tentang gambaran biologi manusia dengan gambaran kehidupan kejiwaan fungsi-fungsi psikis, berpikir, pengamatan.
Psikologi Abnormal, nama ini diciptakan oleh psikolog-psikolog yang ingin mengklasifikasikan keadaan yang tidak normal yang mungkin terjadi pada individu.
Psikologi Konflik dan Pato-Psikologi, kedua nama tersebut diusulkan untuk menunjukkan bahwa seseorang yang membutuhkan pertolongan psikolog tidak selalu ‘sakit’. Pertolongan psikolog seperti ini dapat diberikan kepada mereka yang mengalami kesulitan, misalnya konflik, ketegangan, dan sebagainya yang dapat mengganggu keseimbangan.
Mental Health dan ‘Mental Hygiene’, Istilah mental hygiene lebih dekat dengan bidang kedokteran. Mental hygiene bertugas mempertahankan dan memelihara kesehatan mental dan mencegah terjadinya gangguan mental, membahas tentang bagaimana mempertahankan dan memelihara kesehatan mental dan mencegah terjadinya gangguan mental.

MASALAH NORMAL, ABNORMAL DAN PATOLOGIBerikut ini ada empat kasus yang akan saya bahas sesuai dengan bebrapa sudut pandang untuk penilaian normalitas:
1.         Seorang ibu mengeluh tentang putra remajanya (L) yang duduk di kelas 11 SMA. Menurut ibu, L tidak peduli karena ia tidak mau tahu apa yang terjadi di luar kamar tidurnya. Tiap pulang sekolah L langsung masuk kamar, dan hanya keluar untuk makan atau keperluan pribadinya. Ia tidak mau mengantar adiknya ke dokter, dan ia tidak peduli apakah ada tamu atau keluarga yang datang berkunjung.
2.         Seorang mahasiswa (M) mengeluh tentang nilainya yang tidak memuaskan, padahal ia sudah belajar secara intensif. Teman-temannya yang belajar asal-asalan dan menyontek justru mendapat nilai lumayan. M bertanya apakah ia lebih baik menyontek karena menurut M menyontek adalah hal yang sudah umum
3.         Seorang mahasiswa (N) sering gemetaran menghadapi teman-teman yang sering mengejeknya. N telah berusaha melawan perasaan cemas tersebut, namun belum juga berhasil. Akibatnya N sering menyendiri dan tidak mempunyai teman.
4.         Ibu (O) merasa bahwa sejak hamil anak ketiga, ia dapat merasakan apa yang terjadi di masa depan. Misalnya hanya dengan melihat wajah orang, O tahu orang itu baik atau jahat. Hal tersebut tekadang membuat O semakin terganggu. Ia mengaku bahwa kemampuan melihat masa depan seperti itu juga dimiliki ibunya sebelum meninggal. Menurut cerita keluarganya, ibunya masih ada hubungan dengan kyai sakti dari Surabaya.
Berikut ini akan dibahas hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum psikolog menilai tentang abnormal, patologis atau sakit tidaknya seseorang. Ada kecenderungan untuk mengelompokkan individu-individu yang normal dan sehat jiwa di satu pihak, dan yang abnormal, berkelainan, patologis dan sakit di pihak lain.
Ada dua pendekatan yang berbeda dalam membuat pedoman mengenai normalitas yaitu pendekatan kuantitas dan pendekatan kualitatif.
·           Pendekatan KuantitatifPendekatan kuantitatif didasarkan atas sering atau tidaknya sesuatu yang terjadi, yang diperkirakan secara subjektif mengikuti pemikiran awam. Misalnya anggapan bahwa pria berambut gondrong adalah normal dan biasa. Anggapan semacam ini didasarkan atas perkiraan subjektif.
·           Pendekatan KualitatifPendekatan yang kedua adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu menegakkan pedoman-pedoman normatif yang tidak berdasarkan perhitungan atau perkiraan awam, tetapi atas observasi empirik pada tipe-tipe ideal.
Patokan-patokan kualitatif ini sangat terikat dengan keadaan social-budaya setempat dan menggunakan kriteria penilaian kualitatif atau tipe ideal yang memperhatikan keadaan social-budaya setempat.
Berdasarkan kedua pendekatan kualitatif dan kuantitatif, kasus L dan kasus M dapat ditelaah: Pada contoh kasus L, perilaku L yang kelas 11 SMA tidak sesuai dengan apa yang idela menurut ibunya. Tampaknya remaja yang berperilaku demikian cukup banyak. Jika dalam prestasi sekolah dan hubungan antarmanusia (selain di rumah) tidak ada hal-hal yang menganggu, maka kasus L secara kuantitatif dapat dianggap normal meski tidak ideal. Ini bukan berarti perilaku seperti itu tidak perlu diubah. Pada kasus M, perilaku menyontek adalah sesuatu yang dapat dikatakan sebagai menyimpang dalam arti ‘patologis’, meskipun diperkirakan oleh M banyak terjadi dan dianggap sebagai ‘normal’ secara kuantitatif. Tetapi tentu saja tidak akan dianjurkan kepada M untuk melakukan kegiatan yang menyimpang seperti itu.
Normal Menurut Stern (1964)Stern mengusulkan untuk memperhatikan 4 aspek untuk menilai normal atau tidaknya seseorang, yaitu:
a.    Daya Integrasi
Daya integrasi adalah fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi suatu perilaku atau pemikiran, makin baik.
b.    Ada atau tidaknya simtom gangguan
Ada atau tidaknya simtom atau gejala gangguan merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif. Ini dinamakan juga pendekatan medis.
c.     Kriteria psikoanalisis
Kriteria psikoanalisis memperhatikan dua hal untuk dipakai patokan dari kesehatan jiwa, yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, maka semakin baik atau sehat jiwanya. Sebaliknya jika seseorang terlalu banyak dikuasai oleh alam tak sadar, maka berarti ia kurang sehat jiwanya.
Kekuatan pendekatan Psikoanalisis adalah cukup mendalami dan memperhatikan hal-hal khusus yang mungkin terjadi pada diri seseorang. Terdapat kelemahan dalam psikoanalisis adalah fungsi alam sadar terlalu diagungkan dan kemungkinan-kemungkinan yang memiliki arti positif dalam alam tak sadar tidak terlalu diperhatikan, terjadinya penyederhanaan berlebihan dalam menerangkan segala sesuatu yang terjadi di masa dewasa dengan mengembalikan ke masa lalu.
d.    Determinan sosio-kultural
Sosio-kultural berhubungan dengan lingkungan. Lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak. Menurut beberapa penelitian, ada hubungan antara jenis-jenis neurosis dengan keadaan sosial-ekonomi masyarakat. Pada masyarakat dengan tingkatan sosial-ekonomi yang tinggi lebih banyak terdapat psikoneurosis verbal, sedangkan pada tingkatan sosial-ekonomi rendah lebih banyak terdapat neurosis fisik.
Neurosis sering disebut juga dengan psikoneurosis adalah ketidakseimbangan mental yang dapat menyebabkan stress tetapi tidak seperti psikosis atau kelainan kepribadian. Neurosis tidak memengaruhi pemikiran rasional.
Normal Menurut Ulmann dan Krasner (1980)Menurut Ulmann dan Krasner tingkah laku manusia tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai normal atau tidak normalnya seseorang, tetapi harus dilihat dalam hubungannya dengan suatu prinsip, di mana suatu tingkah laku merupakan hasil dari keadaan di masa lalu dan masa kini. Ia mengemukakan kesulitan-kesulitan untuk mendefiniskan abnormalitas secara statistik, medis, dan psikoanalitis serta sosiokultural terhadap abnormalitas. Definisi tersebut menghubungkan tingkah laku manusia dengan kompetensi, tanggung jawab atas perbuatan criminal serta komitmen. Definisi ini digunakan untuk menentukan apakah seseorang sudah harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, penjara, institusi khusus atau tidak.
Normal Menurut Gladstone (1978)William Gladstone dalam bukunya Test Your Own Mental Healthmenguraikan pegangan pegangan praktis untuk menilai kesehatan mental diri sendiri. Ia mengusulkan untuk menilai 7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu: ketegangan, suasana hati, pemikiran, kegiatan (aktivitas), organisasi diri, hubungan antarmanusia, dan keadaan fisik.

SEBAB-SEBAB TINGKAH LAKU ABNORMAL DAN KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA SEBELUM DSM IIIColeman (1984) seperti yang dijelaskan dalam  buku ini membahas beberapa perspektif penyebab tingkah laku abnormal dengan membedakan antara penyebab primer, penyebab predisposisi, penyebab yang mencetuskan dan penyebab yang menguatkan (reinforcing).
Penyebab primer adalah kondisi yang harus dipenuhi agar suatu gangguan dapat muncul, meskipun dalam kenyataan gangguan tersebut tidak atau belum muncul. Penyebab predisposisi adalah keadaan sebelum munculnya suatu gangguan yang merintis kemungkinan terjadinya suatu gangguan di masa yang akan datang. Penyebab yang mencetuskan ialah suatu peristiwa yang sebenarnya tidak begitu parah namun seolah-olah merupakan sebab timbulnya perilaku abnormal itu. Penyebab yang menguatkan (reinforcing) adalah peristiwa yang terjadi pada seseorang yang memantapkan suatu keadaan atau kecenderungan tertentu, yang telah ada sebelumnya.
Kebanyakan tingkah laku abnormal adalah hasil dari tekanan (stress) yang bekerja pada seseorang yang memiliki suatu diathesis untuk jenis gangguan yang akan muncul kemudian. Diatesis adalah perisposisi (dalam aspek biologis, psikososial dan sosiokultural) untuk berkembangnya suatu gangguan tertentu di masa yang akan datang.
Frustasi, Stres dan Penyesuaian DiriSepanjang masa perkembangan dari lahir hingga dewasa, kebutuhan-kebutuhan seseorang tidaklah selalu terpenuhi dan sering kali terjadi hambatan dalam rasa puas untuk suatu kebutuhan dan keinginan. Keadaan terhambat tersebut dinamakan frustasi. Keadaan frustasi yang berlangsung terlalu lama dan tidak dapat diatasi oleh seseorang akan dapat menimbulkan stress. Stres adalah suatu keadaan di mana beban yang dirasakan seseorang tidak sepadan dengan kemampuan untuk mengatasi beban tersebut.
Seseorang dapat melakukan bermacam-macam cara penyesuaian diri untuk mengatasi berbagai macam stress tergantung dari kemampuan yang dimiliki, pengaruh-pengaruh lingkungan, pendidikan, dan bagaimana ia mengembangkan dirinya. Dan adapun langkah yang dapat dilakukan untuk penyesuaian diri terhadap stress yaitu:
·      Menilai situasi stress, yaitu menggolongkan jenis stress (kategorisasi), dan memperkirakan bahaya yang berkaitan dengan stress itu
·      Merumuskan alternatif tindakan yang dapat dilakukan dan menentukan tindakan yang paling mungkin untuk dilakukan
·      Melaksanakan tindakan adalah langkah yang paling sukar
·      Melihat feedback

Interaksi Antara Bawaan-Lingkungan dan Terbentuknya “Aku” (Self)Faktor-faktor bawaan yang dapat dilihat dari ciri fisik dan juga ciri reaksi primer yang dimiliki oleh seseorang. Ciri fisik seperti warna kulit, mata, rambut, selain ciri fisik dan untuk ciri reaksi primer seperti kepekaan, adaptabilitas, dan aktivitas.
Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik (keadaan rumah, udara, gizi) dan lingkungan social-budaya (orang tua, sekolah, pesantren, dan kelompok lainnya). Lingkungan sosial dapat memberntuk perilaku dan sikap seseorang yang diharapkan dalam suatu lingkungan budaya.
Interaksi antara bawaan dan lingkungan terjadi secara terus menerus dan lambat laun menumbuhkan perasaan adanya “Aku”. “Aku” menjadi, pusat aktif yang mengarah pada diri sendiri, menentukan tindakan, tujuan yang ingin dicapai. “Aku” mengintegrasikan perasaan, pemikiran, dan tindakan seseorang. Melalui proses belajar, “Aku” memperkirakan yang ada untuk mengenali realitas, nilai-nilai, dan lebih mengembangkan diri. Dengan melalui proses belajar, maka “Aku” individu dengan lingkungan dapat mengatasi dengan baik atau tidak dapat diatasi dengan baik pada saat timbulnya stress.

Pentingnya Pengalaman Masa Dini dan Asuhan Keibuan (Mothering)Deprivasi atau keterlantaran yang dalam hal kasih sayang ibu di masa dini, atau trauma psikis yang terjadi di masa dini dapat memengaruhi kepribadian seseorang (emosi, sikap, predisposisi) yang berakibat jauh ke masa depannya sehingga sangat dibutuhkan adanya pengasuhan oleh ibu.
Mothering atau pengasuhan anak oleh ibu di masa kecil serta pengaruhnya dalam perkembangan emosi anak. Hal tersebut telah diselidiki oleh Yarrow dan Ribble yang dijelaskan di dalam buku ini.

Pola Hubungan Keluarga dan Keluarga PatogenikContoh pola hubungan keluarga yang patogenik misalnya anak yang terlalu dilindungi atau dibatasi aktivitasnya oleh orang tua, pemanjaan dan pemenuhan kebutuhan secara berlebihan, tuntutan terhadap anak yang tidak realistic atau terlalu berat, kegagalan berkomunikasi. Akan tetapi Coleman memberikan 4 contoh dari apa yang disebutnya sebagai keluarga patogenik yaitu keluarga yang tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah keluarga sehari-hari, keluarga terganggu (keluarga yang membuat suasana di rumah dalam ketegangan emosional terus menerus), keluarga antisosial, dan yang terakhir adalah keluarga terpecah.

Klasifikasi Tingkah Laku AbnormalBuku ini menjelaskan bahwa Henderson dan Gillespie (1956) menguraikan bebrapa jenis klasifikasi gangguan jiwa sebagai berikut:
·      Klasifikasi Psikologis
Dikemukanan oleh Linneaus, Arnold, Pritchard, Heinroth, Bucknill&Tuke, Ziehen (dalam Henderson et. al., 1956)
-          Linneaus membedakan antara ganguan-gangguan dalam ide, imajinasi dan emosi
-          Arnold membedakan antara gangguan ‘ideal’ dan ‘notional’ atau dalam fungsi persepsi dan imajinasi, serta gangguan dalam bidang konseptual/pemikiran
-          Pritchard membedakan antara ‘moral-insanity’ dan ‘intelectual insanity
-          Heinroth membedakan antara gangguan dalam pengertian, gangguan dalam kehendak, dan gangguan campuran
-          Bucknill&Tuke membedakan antara gangguan intelek dan gangguan afektif (emosi) yang selanjutnya dibagi menjadi gangguan afektif moral dan afektif animal
-          Ziehen membedakan antara gangguan tanpa efek atau kerusakan intelektual dan gangguan dengan efek intelektual baik dari lahir maupun yang diperoleh kemudian
·      Klasifikasi Fisiologis
Tuke, Maynart, Wernicke (dalam Henderson etal., 1956) mengemukakan sistem klasifikasi sebagai berikut:
-          Tuke  mengadakan pembagian gangguan atas gangguan fungsi sensorik, fungsi motorik, dan ide
-          Maynart membagi kelainan tingkah laku menurut 3 penyebab yaitu perubahan anatomis, gangguan gizi, dan intoksikasi atau keracunan
-          Wernicke membuat asumsi-asumsi psikofiologis antara lain bahwa tiap isi kesdaran tergantung pada seperangkat elemen tertentu
·      Klasifikasi Etiologis
Klasifikasi etiologis ini yang dimaksud adalah pengelompokkan sesuai dengan gangguan fisik yang dapat menyebabkan penyakit jiwa
·      Klasifikasi Simtomatologis
Metode klasifikasi simtomatologis yaitu mencari gejala-gejala dan menyimpulkan jenis gangguan berdasarkan gejala-gejala tersebut. Metodenya merupakan metode yang paling penting dalam psikiatri.
·      Klasifikasi Mutakhir

Diagnosis Tingkah Laku AbnormalAda beberapa konsep yang perlu diketahui untuk mendiskripsikan suatu keadaan abnormal yakni: disfungsi, keadaan, dan sifat. Suatu keadaan abnormal belum tentu merupakan gangguan ataupun penyakit mungkin saja hanya merupakan suatu keadaan  yang bersifat sementara, suatu disfungsi, yakni tidak atau kurang berfungsi salah satu kemampuan atau ekspresi dari suatu sifat kepribadian.
Referensi :
Suorpti Slamet I.S  & Sumarno Markam. 2003. PENGANTAR PSIKOLOGI KLINIS
Di kutip pada tanggal 2 oktober 2016


0 comments:

Post a Comment