25.9.18

TEORI ERIK H. ERIKSON


PSI KEPRIBADIAN II TEORI ERIK H. ERIKSON
                Erikson memberi jiwa baru kedalam teori psikoanalisis, denan memberi perhatian yang lebih kepada ego dari pada id dan superego. Dia masih tetap mengharai teori freud, namun mengembangkan ide-ide khususnya dalam hubungannya dengan tahap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentukan ego. Erikson masih mengakui adanya kualitas dan inisiarif sebagai bentuk dasr pada tahap awal, namun hal itu hanya bisa berkembang dan masak melalui pengalaman sosial dan lingkungan. Dia juga mengakui sifat rentan ego, defense yang irisional, efek trauma-anxiety-uilt yang langgeng, dan dampak lingkungan yang membatasi dan tidak peduli terhadap individu. Dia memandang lingkungan bukan semata-mata menghambat dan menghukum freud, tetapi juga mendorong dan membantu individu. Ego menjadi mampu, terkadang dengan sedikit  bantuan dan terapis, menangani masalah secara efektif.
 I. Stuktur kepribadian
Ø Ego kreatif
Erikson mengambarkan adanya sejumlah kualtas yang dimiliki ego, yang tidak ada pada psikoanalisis Freud, yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego semacam itu disebut juga ego-kreatif, ego yan dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Ego bukan budak tetapi justru menjadi tuan/pengatur id,superego dan dunia luar. Jadi, ego disamping hasil proses faktor genetic, fisiologik, dan anatomis, juga dibentuk oleh konteks kultular dan historic. Ego yang sempurna digambarkan Erikson memiliki tiga dimensi.
1.Faktualitas adalah kumpulan fakta, data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku.
2. Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan (sens of reality) yang menggabungkan halyang praktisdan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan prinsip realita dari Freud
3. Aktualitas adalah cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama
                Menurut Erikson, ego sebagian bersifat taksadar, mengorganisir dan mensintesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan dating. Dia menemukan tiga aspek
1.       Body ego: menace kepengalaman orang dengan tubuh/fisiknya sendiri.
2.       Ego ideal: gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal.
3.       Ego identity: gambaran meengenai diri dalam berbagai peran sosial.

Ø  CIRI KHAS PSIKOLOGI EGO DARI ERIKSON
1.       Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kemassakan ego yang sehat, alih-alih konf;ik salah suai yang neourotik.
2.       Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetic kepribadian
3.       Erikson secara ekspilisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari impuls id yang taksdar, namun motif itu bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan peran sosial di masa lalunya. Fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari id membangun system kerja sendiri yang terlepas dari system kerja id.
4.       Erikson mengangggap ego sebagai sumber kesadaran dari seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan berkelanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.
Ø  PENGARUH MASYARAKAT
Erikson lebih mementingkan faktor sosial dan historical- kebalikan dengan Freud yang pandangannya sebagian besar biological. Bagi Erikson, ego muncul bersama kelahiran sebagai potensi yang harus di tegakkan didalam lingkungan kultural. Masyarakt yang berbeda, dengan perbedaan kebiasaan cara mengasuh anak, cenderung membentuk kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai budayanya. Missal suku Sioux  yang menyusui anaknya hingga umur 4-5 tahun, akan membentuk kepribadian yang oleh Freud dinamakan “kepribadian oral.” Suku soux menilai tinggi kedermawanan dan menurut Erikson layanan pemberian air susu ibu yang tak terbatas menjadi dasar dari sifat kedermawanan.
Ø PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
·         FASE BAYI (0-1 TAHUN)
Pararel dengan fase oral dari Freud, namun bagi Erikson kegiatan bayi tidak terikat dengan mulut semata; bayi adalah saat untuk memasukkan (incorporation), bukan hanya melalui mulut tetapi juga dari semua indra.
·         FASE ANAK-ANAK (1-3 TAHUN)
Tahap ini pararel dengan fase anal daari Freud. Menurut Freud anak mula memperoleh kepuasan dengan menghancurkan atau membuang/menghilangkan objek, dan anak kemudian memperoleh kepuasan dari defakasi. Teori Erikson lebih luas: anak memperoleh kepuasan bukan dari keberhasilan mengontrol otot anus saja, tetapi juga dari keberhasilan mengontrol fungsi tubuh yang lain, seperti berjalan, melempar, memegang, dan sebagainya. Kesemuanya itu dikembangkan melalui hubungan interpersonal, sehingga anak juga mengalami ragu dan malu belajar bahwa usahanya untuk menjadi otonom bisa berhasil bisa juga gagal.
·         USIA BERMAIN (3-6 TAHUN)
Tahap ini sama dengan periode falis dari Freud, namun isi kegiatan atau proses perkembangan didalamnya antara Freud dengan Erikson berbeda. Freud memakai tema sentral odipus kompleks, sedangkan menurut Erikson, ada banyak perkembangan penting pada fase bermain ini, yakni: identifikasi dengan orang tua, mengembangkan gerakan tubuh, ketrampilan bahasa, rasa ingin tahu, imajinasi, dan kemampuan menentukan tujuan.
·         USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN)
Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini keingin tahuan sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan. Anak yang berkembang normal akan tekun belajar membaca dan menulis, belajar memburu dan menangkap ikan, atau belajar ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan di masyarakatnya.
·         ADOLESEN (12-20 TAHUN)
Tahap in merupakan tahap paling penting  diantara perkembangan yang lainnya, karena pada akhir tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup baik. Walaupun pencarian identitas ego tidak itu tidak dimulai dan tidak berakhir pada usia remaja. Pada fase ini individu sibuk dengan diri sendir, dilatarbelakangi oleh pubertas genital yang memberi berbagai peluang konflik, baik yang berhubungan dengan seks, pekerjaan, keyakinan diri dan filsafat hidup.
·         DEWASA AWAL (20-30 TAHUN)
Tahap dewasa awal waktunya relative tidak dibatasi. Tahap ini ditandai dengan perolehan keintiman pada awal periode, dan ditandai perkembangan berketurunanpada akhir periode. Bagi sebagian orang dewasa awal,periode ini cukup singkat, mungkin hanya beberapa tahun. Tetapi bagi dewasa awal yang lain bisa membutuhkan waktu puluhan tahun
·         DEWASA (30-65 TAHUN)
Menurut Erikson, manusia mempunyai insting untuk mempertahankan kehidupan baru, serta produk dan ide baru. Generativita  berkaitan dengan membina dan membimbing generasi peneerus, termasuk merawat anak bekerja produktif menciptakan benda dan ide baru yang menyumbang pembangunan dunia menjadi lebih baik.
·         USIA TUA (>65 TAHUN)
Menjadi tua bukan berarti menjadi tidak generative. Sudah tidak menghasilakan keturunan, tetapi masih produktif dan kreatif dalam hal lain, misalnya memberi perhatian/merawat enerasi penerus – cucu dan remaja pada umumnya. Usia tua bisa menjadi waktu yang orang senang bermain, menyenangkan, dan keajaiban, tetapi juga bisa menjadi tempat orang pikun, depresi, dan putus asa.
DAFTAR PUSTAKA
1. Alwisol. (2009). Psikologi kepribadian. Ed revisi. Malang: UMMpress. Hal 85-103
Nama: Nico hari al araafi
Nim: 17.310.410.1165
Fak: Psikologi

0 comments:

Post a Comment