26.9.18

REVIEW : SEKILAS TENTANG PSIKOLOGI KLINIS

Nama : Sri Sunu Widyaningsih
NIM : 183104201178
"Psikologi Klinis"



Psikologi klinis merupakan salah satu ilmu terapan. Tujuannya adalah untuk mensejahterakan kehidupan manusia. Dalam bahasa Yunani, kata klinis atau kline berarti sesuatu yang berkaitan dengan tempat tidur.  
Witmer (1912) mengatakan bahwa psikologi klinis merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik pedagogis. 
Menurut Phares (1992), psikologi klinis lebih merujuk pada bidang yang membahas tentang kajian, diagnosis, serta penyembuhan pada masalah-masalah psikologis.
Dalam American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa psikologi klinis merupakan salah satu wujud psikologi terapan untuk dapat memahami kapasitas perilaku dan karakteristik individu melalui metode pengukuran, analisis, saran dan rekomendasi supaya individu mampu melakukan penyesuaian diri.
Adapun beberapa ciri atau sifat dalam psikologi klinis yaitu memiliki orientasi ilmiah profesional, menampilkan kompetensi psikolog, menampilkan kompetensi klinikus, bersifat ilmiah dan tentunya harus profesional demi meningkatkan kualitas hidup. Dan orientasinya lebih mengacu pada psikopatologi tradisional. Dimana psikopatologi tradisional lebih fokus pada perilaku maladjustment dan mental disease.
Kemudian kita akan membahas mengenai terapan dalam psikologi klinis. Terapan psikologi klinis erat kaitannya dengan assessment (pengiraan) dan treatment (penanganan/tindakan). Dimana assessment dan treatment lebih mengarah pada perorangan maupun kelompok. Misal pada perorangan dimana dilakukan psikotes melalui laporan diri untuk sebuah pengiraan dan penelitian. Adapun kelemahan dan kelebihan dari hal tersebut. Yang mana kelemahannya adalah laporan diri lebih mengarah pada persepsi seseorang atas sampel perilakunya. Dan kelebihannya jika seseorang mampu mengerti dirinya sendiri daripada orang lain. Saat ini adapun perkembangan terbaru yang muncul yaitu terapan mikro dan makro. Dimana terapan mikro lebih fokus untuk perorangan, biasanya pengukuran berupa psikotes. Pengukuran tersebut misalnya tentang kecemasan, depresi, intelegensi, narsisme, obsesif kompulsif, dll. Orientasi pengukuran tersebut lebih mengarah pada psikopatologi. Namun orientasinya dapat berubah dari psikopatologi menjadi kesejahteraan. Kemudian pada terapan makro perlu pendekatan khusus termasuk dalam hal pengukurannya. Lebih mengarah pada pendekatan kualitatif. Bukan hanya dilihat dalam skala interval namun perlu diperhatikan dalam penggunaan skala rasio. Misalnya, seberapa intensnya masyarakat melakukan pertemuan untuk membicarakan kesejahteraan demi kepentingan bersama.
Kesimpulannya adalah terapan psikologi klinis mikro lebih mengarah pada individu atau perorangan. Sedangkan pada terapan psikologi klinis makro lebih mengarah pada pendekatan kualitatif. Cara kerjanya pada terapan mikro mampu bekerja sendiri. Sedangkan pada terapan makro ia harus bekerja sama dengan orang lain.  

1. Prawitasari, Johana E. (2011), Psikologi Klinis : Pengantar Terapan Mikro & Makro,                      Erlangga, Surabaya. 
2. Markam, S. & S, Suprapti S. I. 2008 . Pengantar Psikologi Klinis Jakarta. Penerbit                          Universitas Indonesia (UI-Press). 
3. A. Wiramihardja, Sutardjo, (2003). Pengantar Psikologi Klinis. Bandung : PT. Refika                      Aditama.
22
2. 
                                          

0 comments:

Post a Comment