29.9.18

PSIKOLOGI KLINIS, SEBUAH PEMAHAMAN DAN RUANG LINGKUP


PSIKOLOGI KLINIS, SEBUAH PEMAHAMAN DAN RUANG LINGKUP

Nurul Widiastoni, NIM. 163104101152
Psikologi klinis
By : Fx Wahyu W, S. Psi, M.A
FAKULTAS PSIKOLOGI UP 45 YOGYAKARTA
Psikologi klinis adalah cabang psikologi yang berfokus pada penanganan, penganalisisan, dan diagnosa penyakit-penyakit jiwa. Psikologi Klinis merupakan bidang yang membahas kajian, diagnosis dan penyembuhan (treatment) masalah-masalah psikologis, gangguan (disorder) atau tingkah laku abnormal (Phares : 1992).
Dalam American Psychological Association (1935), Psikologi klinis merupakan psikologi terapan untuk menentukan kapasitas dan karakteristik tingkah laku individu dengan menggunakan metode pengukuran assessment, analisa dan observasi serta uji fisik dan riwayat sosial agar dapat diperoleh saran dan rekomendasi untuk membantu penyesuaian diri individu secara tepat. Psikologi klinis merupakan integrasi dari sains, teori, dan pengetahuan klinis.
Psikologi Klinis dapat diartikan secara sempit maupun luas, yaitu mempelajari orang-orang abnormal dengan menggunakan assessment sebagai bagian integral yang biasa digunakan, membahas kesulitan-kesulitan maupun rintangan emosional pada manusia tanpa memandang normal atau abnormal serta melihat gejala yang dapat memungkinkan mengurangi kebahagiaan manusia.
Psikologi Klinis menggunakan konsep-konsep psikologi abnormal, psikologi perkembangan, psikopatologi dan psikologi kepribadian, serta prinsip-prinsip dalam asesmen dan intervensi, untuk dapat memahami dan memberi bantuan bagi mereka yang mengalami masalah-masalah psikologis. Permasalahan psikologis yang ditangani oleh psikologi klinis meliputi banyak hal, mulai dari Kelainan emosi jangka pendek, seperti konflik keluarga, hingga kelainan mental yang sangat parah, seperti schizophrenia.
Jadi, psikologi klinis adalah bagian dari psikologi yang membahas tentang pola prilaku dan proses mental yang terjadi pada manusia. Psikologi klinis secara gampang dapat dipahami sebagai cara menolong dan memahami masalah atau kesulitan psikologis yang terjadi pada seseorang. Untuk mencapai itu semua dapat di lakukan dengan asesment yang kemudian di analisa dan ditafsirkan (kesimpulan) sehingga bisa dilakukan intervensi atau treatment yang sesuai dengan gejala-gejala psikologis.
Sejarah Psikologi Klinis
Ditelisik dari sisi sejarah, psikologi klinis ditemukan oleh pria berkebangsaan Amerika, Lightner Witmer. Dia merupakan alumni Universitas Pensylvana tahun 1988. Witmer bekerja di program doktoral bidang psikologi bersama Wilhem Wundt di Leipzig. Setelah menyelesaikan program doktoralnya, dia langsung ditunjuk sebagai direktur laboratorium psikologi Universitas Leipzig.
Dimulai ketika ada seorang guru sekolah bernama Margareth Maguire yang meminta Witmer untuk membantu salah seorang muridnya Charles Gilman yang didiagnosa mengalami kesulitan dalam mengeja. Witmer kemudian menerima tawaran tersebut. Tak disangka, hal ini menghantarkan dia sebagai psikolog klinis pertama, dan pada saat yang sama, ia memulai usaha untuk mendirikan klinik psikologi pertama di dunia.
Pendekatan yang pertama kali dilakukan oleh Witmer adalah dengan assesmen (menilai) masalah Charles disusul menyusun rangkaian pengobatan yang tepat. Penilaian psikologis menunjukkan bahwa Charles mengalami kerusakan visual, baik dalam hal membaca dan masalah mengingat. Hal tersebut diberi istilah oleh Witmer dengan "amnesia verbal-visual, atau sekarang disebut disleksia. Witmer menggunakan tutorial yang intensif guna membantu si anak dalam mengenal kata tanpa terlebih dahulu mengejanya. Cara ini berhasil sehingga Charles bisa kembali normal membaca.
Hal-hal yang dapat dilakukan dalam bidang psikolgi klinis yaitu: 
  1. Penelitian. Dalam hal ini penelitian digunakan untuk menunjang asesmen, terapi dan pemahaman terhadap klien dengan lebih baik dan sesuai dengan standar yang telat ditetapkan. 
  2. Assesment. Penegakan diagnosis berupa asesmen kognitid seperti tes inteligensi, asesmen kepribadian seperti tes TAT, pengukuran perilaku melalui observasi, dan  neouropsikologik seperti respon detak jantung, nadi yang berhubungan dengan fisik. 
  3. Treatment. Melakukan suatu terapi kepada klien yang membutuhkan sesuai dengan hasil asesmen yang sudah dilakukan dan melakukan intervensi psikologi dan psikoterapi. 
  4. Pengajaran. Seorang psikolog klinis uga dapat membagikan ilmu yang dimiliki dengan mengajar baik formal maupun non formal. 
  5. Konsultasi. Dalam ranah psikologi, psikolog klinis memiliki harus mampu dan memuliki keahlan dalam bidang konseling, baik diskusi informal ataupun pelayanan secara individual.
  6. Administrasi. Administrasi yang dimaksudkan adalah seperti membuat suatu program studi psikologi atau biro pelayanan psikologi.
Demikianlah sedikit review dari saya tentunya masih banyak kekurangan. Penulis selalu mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna meningkatkan proses belajar untuk menjadi yang lebih baik.


Referensi :
Trull, T J. & Phares E J. 2001. Clinical Psychology. Concepts, Method, and Profession. Stamfort; Thomson Learning.


0 comments:

Post a Comment