16.4.18

Sudut Agama Tentang Berprasangka Buruk



           

                                             Sudut Agama Tentang Berprasangka Buruk 


                                                     Berkati Gaho (17.310.410.1162)


          Dari segi agama, berprasangka buruk adalah sesuatu yang dilarang. Bahaya lain selain dosa yang kita dapatkan, dengan prasangka buruk malah akan menambah buruk keadaan, membuat motivasi turun, dan menghalangi jalan kita menuju keberhasilan. Oleh karena itu mulai sekarang, marilah kita kurangi prasangka buruk terhadap sesama, termasuk untuk diri saya sendiri. John E. Farley mengklasifikasikan prasangka ke dalam tiga kategori.
o   Prasangka kognitif, merujuk pada apa yang dianggap benar.
o   Prasangka afektif, merujuk pada apa yang disukai dan tidak disukai.
o   Prasangka konatif, merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak.
        Menurut Worchel dan kawan-kawan (2000), pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Prasangka atau prejudice merupakan perilaku negatif yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi tentang kelompok. Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial
            Berbagai prasangka perseptual yang dapat diidentifikasi memutar balikan penilaian kita atas orang lain, seperti pengaruh kalo {kita cenderung  berpikir bahwa seseorang yang kita sukai adalah baik dalam segala dimensi}, dan prasangka posifitivitas {kita cenderung menyukai semua orang bahkan mereka yang tidak begitu disukai orang}. Mungkin kita akan mengatakan bahwa yang kita lakukan bukanlah prasangka buruk, Anda akan menunjukan segudang bukti tentang keburukan orang lain. Namun bisa saja keburukan orang lain itu berkat diri kita sendiri juga. Menurut Hukum Daya Tarik, pikiran kita akan menarik berbagi hal yang kita pikirkan. Jika kita pikirkan tentang keburukan seseorang, maka kita secara tidak sadar menarik berbagai keburukan lagi.
Mulailah berpikir positif terhadap orang lain, yaitu dengan berprasangka baik. Anda akan menemukan keajaiban bahwa kita juga akan melihat segudang bukti kalau orang tersebut memang baik. Dengan berprasangka baik kita akan menarik hal-hal yang baik dari orang tersebut. Bayangkan jika kita selalu berprasangka baik terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita, maka kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
Bagaimana jika orang yang sangka buruk sikapnya tersebut benar-benar buruk? Tidak jadi masalah. Hukum Daya Tarik mengatakan bahwa pikiran kita akan menarik hal-hal yang sama, mirip, atau berkaitan dengan apa yang ada di pikiran kita. Berarti hal-hal yang bertentangan akan menjauh dari kita. Jika kita dikelilingi oleh orang yang buruk akhlaqnya, maka kita harus instropeksi, jangan-jangan kita juga bagian dari mereka.
Ada seseorang yang bertanya kepada Anthony Robbins, mengapa saya Cuma berpenghasilan 1 juta dolar pertahun, sedangkan Anda berpenghasilan puluhan juta (ini adalah perbincangan orang-orang kaya). Anthony Robbins, menjawab, penghasilan Anda tergantung dengan siapa Anda berteman. Penghasilan Anda adalah rata-rata orang-orang yang memiliki pengaruh kuat terhadap Anda. Jadi, jika demikian, mulai sekarang mari kita perbaiki akhlaq kita semua. Dimulai dengan berprasangka baik terhadap orang lain. Kita akan berkumpul dengan orang-orang baik dan  kita akan tertular menjadi orang yang baik. Termasuk juga anggaplah orang lain kaya, jangan sebaliknya, sebaliknya kita berprsangka orang lain itu miskin dan menjadi beban. Mudah-mudahan kita juga menarik orang-orang kaya dan kita tertular menjadi kaya.
     
DAFTAR PUSTAKA
Barron, A Robert. Byrne, Donn. 2003. Psikologi Sosial edisi kesepuluh. Jakarta: Erlangga
Hanurrawan, Fattah. 2010. Psikologi Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


0 comments:

Post a Comment