17.4.18

Pencemaran udara : Pembangunan abaikan kesehatan masyarakat


NAMA : SITI HANIFAH 
NIM : 16.310.410.1151

  Tingkat pencemaran udara dari tahun ke tahun semakin meningkat karena pembangunan yang terus meningkat,.  Karena itu pemerintah didesak untuk mempertimbangan aspek kesehatan udara dalam pembangunannya.
  Perencanaan pembangunan mengabaikan kualitas udara. Berdasarkan parameter baku, sejumlah indikasi menunjukkan kondisi udara melebihi standar mutu. Hasil pemantauan kualitas udara yang dilakukan kementrian lingkungan hidup dan kehutanan di sejumlah kota besar tahu 2012-2017 mengungkapkan resiko laten dengan tinggginya paparan polutan. Salah satu parameter yang dipakai adalah P.M 2.5 yakni partikel miskroskopis (PM) yang dihasilkan dari semua jenis pembakaran, termasuk kendaraan bermotor, pembangkit listrik dan industry. Sifat PM 2.5 Bergerak bebas diudara, mudah dihirup dan masuk kealiran darah manusia. Partikel ini memacu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terutama pada anak-anak dan kanker paru-paru. Di Jakarta 58,3 persen warga terpapar penyakit yang dipicu pencemaran udara, seperti ISPA, Asma, dan pneumonia. Biaya kesehatan atas penyakit- penyakit itu mencapai Rp 51,2 triliun.
   Kesimpulannya, Pencemaran udara di Indonesia umumnya bersumber dari sektor transportasi, industry, sampah (pembakaran) . Seharusnya pemerintah penanganannya lebih terara. Kita pribadi juga harus ikut sadar
, jangan sampai menambah tingkat pencemaran udara seperti bakar sampah dll.


Sumber : Kompas, 19 Desember 2017

0 comments:

Post a Comment