16.4.18

GANGGUAN SEKSUAL



GANGGUAN SEKSUAL

Berkati Gaho (17.310.410.1162)

                   Dewasa ini terdapat berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari yang sangat kompleks yang akibatnya dapat mempengaruhi psikis ataupun fisik. Dan hubungan atau interaksi individu dengan individu yang lain terkadang terjadi hubungan yang tidak harmonis serta menyebabkan perilaku yang berbeda atau lazimnya disebut kelainan.Manusia merupakan makhluk yang unik dan menarik untuk dipelajari seluk-beluknya. Hal ini mencakup semua aspek yang membentuk pribadi individu, baik dari segi individunya sendiri, ataupun kehidupan sosialnya. 
                   Disfungsi seksual merupakan gangguan seksual dimana seseorang mengalami kesulitan untuk berfungsi secara adekuat ketika melakukan hubungan seksual atau berbagai masalah seksual yang biasanya dianggap mencerminkan hambatan dalam siklus respon seksual normal. Masalah psikologis tidak hanya mempengaruhi mereka yang mengalami disfungsi seksual, namun juga orang-orang yang memiliki hubungan dengan mereka. Aspek masalah emosional manusia ini sangat penting dalam pertimbangan mengenai disfungsi seksual, yang biasanya terjadi dalam konteks hubungan pribadi yang intim. Sebagian besar konseptualisasi kontemporer mengenai siklus respon seksual merupakan penyempurnaan teori Master dan Johnson (1996) dan Kaplan (1974).  Menurut Master dan Johnson, siklus respon seksual pada orang normal ada 4 tahap yaitu: 
·      Exitement atau arousal yaitu timbulnya nafsu atau gairah seksual pada pria dan wanita.
·      Plateau yaitu meningkatkan gairah seksual secara intens.
·      Resolutian yaitu kembali ke tahap sebelum arousal.  Individu dapat di sebut difungsi seksual bila individu mengalami difungsi pada salah satu tahap respon seksual yang normal. Dan diagnosa difungsi seksual di tegakkan bila difungsi tersebut di sebabkan oleh faktor psikososial bukan faktor organis.
·      Orgasme yaitu klimaks gairah seksual

Contoh kasus
Carl (55 Tahun) mengalami kesulitan untuk mempertahankan ereksinya walaupun ia belum menikah ia terlibat hubungan intim dengan seorang wanita (50 Tahun). Karena merasa malu ia enggan ke klinik, Wawancara yang diteliti menemukan bahwa Carl melakukan hubungan seks 2 kali seminggu. Tetapi permintaan klinisnya untuk memberikan deskripsi terperinci tentang aktivitas seksualnya menggungkapkan adanya pola yang tidak lazim. Carl tidak melakukan “pemanasan” dan langsung melakukan penetrasi! Malangnya, karena pasangannya belum terangsang dan terlubrikasi, ia tidak dapat melakukannya. Usaha mati-matiannya kadang-kadang mengakibatkan terjadinya lecet-lecet pada keduanya. Dua sesi pendidikan seks yang tidak ekstensif, termasuk instruksi langkah demi langkah untuk “pemanasan” membuat pandangan Carl terhadap seks berubah. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia berhasil memuaskan pasangannya.

Treatment
          Penyimpangan seksual tidak hanya bersangkutan dengan kepuasan seksual atau pemuasan dorongan seksual semata, akan tetapi sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri terhadap perasaan-perasaan tidak senang, ketakutan-ketakutan, kecemasan-kecemasan, dan rasa depresi yang dialami oleh seseorang. Dengan demikian diketahui bahwa penyebab gangguan seksual bukan hanya bertitik berat pada satu faktor, akan tetapi multifaktor. Artinya dalam penyembuhannya harus menggunakan beberapa metode (multidispliner dan elektis/ dipilih yang paling baik). Antara lain dengan menggunakan metode psikoanalitis, medis, treatmen behavioral, pekerjaan sosial, melalui pendekatan sosial budaya. 

        Kesimpulan
          Istilah “seksual” masih sering dianggap sebagai kata yang sifatnya tabu untuk diperbincangkan. Akibatnya beberapa orang mencari tahu tentang apa itu seksual dengan cara yang tidak semestinya. Yang kita sebut dengan abnormalitas seksual atau gangguan seksual. 
Ada beberapa gangguan seksual yang diantaranya adalah kelompok Parafilia. Parafilia (“Para artinya penyimpangan dan “filia” artinya obyek atau situasi yang disukai). Parafilia menunjuk pada obyek seksual yang menyimpang (misalnya dengan benda atau anak kecil) maupun aktivitas seksual yang menyimpang (misalnya dengan memamerkan alat genital).  Ada juga gangguan seksual yang masuk kelompok disfungsi seksual diantaranya :
       1. Gangguan keinginan seksual
2. Gangguan gairah seksual
3. Orgasme terhambat
4. Ejakulasi dini.
5. Dispareunia 
6. Vaginismus, dan juga gangguan-gangguan seksual lainnya.
          Treatmen yang digunakan untuk menyembuhkan pasien bukan hanya bergantung pada pasien, akan tetapi individu yang bersangkutan juga sangat berperan. Misalnya, seberapa besar keinginan dari dalam diri pasien untuk merubah perilaku seksual yang menyimpang, motivasi yang dimiliki oleh pasien, sikap individu yang bersangkutan terhadap tingkah laku seksual yang menyimpang, treatmnen ini juga tergantung pada struktur kepribadian individu yang bersangkutan, dan usia pasien itu sendiri (jika usia pasien sudah tua, maka akan semakin sulit untuk penyembuhannya). Adakalanya pasien diberi obat medis. Misalnya pada pengidap gangguan seksual yang tidak mampu mengendalikan hasrat seksualnya, maka akan diberi obat anti-estrogen yang fungsinya untuk menurunkan libido

DAFTAR PUSTAKA

Davison, Gerald C. 2003.psikologi Abnormal. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Durand, V Mark dan David H. Barlow. 2007. Psikologi Abnormal. Yogyakarta: Pustaka.
Kartono,Kartini.,2009,Psikologi Abnormalitas seksual. Bandung: Mandar maju
Nevid S, jefferey, Rathus S, Spencer., dan Greene Beverly, 2002, Psikologi Abnormal. Jakarta Erlanga.

0 comments:

Post a Comment