17.3.18

TANTRUM

Oleh : Riyanti
NIM ; 17.310.410.1163




Kali ini saya ingin membahas tentang tantrum. Ada yang sudah mempunyai anak? Atau ada yang pernah melihat anak tantrum? Melihat anak menangis histeris di tempat umum?
 Jadi kondisi tantrum ini biasanya terjadi di empat tahun awal sejak kelahiran,merupakan salah satu bentuk masalah agresifitas dan kemarahan. Temper tantrum berawal dari tangisan menjadi teriakan,tendangan,memukul bahkan menahan nafas. Umumnya ditemukan pada anak usia 1-3 tahun.
Anak ke dua saya sering mengalami tantrum,jika kemauannya tidak dituruti dia bisa menangis,teriak,memukul orang di sekitarnya,bahkan juga membanting barang di sekitarnya. Bukan hanya anak saya saja,beberapa murid yang saya ajar di PAUD ada beberapa juga yang sering mengalami tantrum.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan anak tantrum? 
Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi yang melimpah,dan biasa terjadi kepada anak-anak yang "sulit", seperti sulit menyukai situasi baru,sulit dialihkan perhatiannya,tidur tidak teratur,mudah merasa marah dan sering mempunyai suasana hati yang negatif.
Menurut Sarwono, tantrum dapat disebabkan karena :
1. Terhalangnya anak untuk mendapatkan sesuatu
2. Ketidakmampuan anak dalam menyampaikan keinginan karena keterbatasan bahasa yang dimiliki
3. Tidak terpenuhi kebutuhan anak
4. Pola asuh yang tidak konsisten
Berikut hal yang dapat dilakukan dalam menghadapi tantrum ;
1. Cari tahu kenapa anak merajuk
2. Memberi kontrol kepada anak,ataupun pilihan
3. Biasakan anak untuk mandiri,melakukan apapun dengan sendiri
4. Mengalihkan perhatian saat anak merajuk
5. Pertimbangkan permintaan anak
Ketika anak mulai dalam kondisi tantrum,tetaplah tenang. Karena anak yang sedang meningkat amarahnya,akan lebih marah apabila orang di sekitarnya menjadi frustasi atau kebingungan. Tarik nafas panjang dan tetap berpikir dengan jelas juga tenang. Jika anak sudah mulai menyakiti dirinya sendiri,bawa dia ke tempat yang sepi dan tenang,pegang atau peluk jika memungkinkan untuk beberapa saat,sambil menenangkannya.
Hal yang pernah saya lakukan kepada anak saya dan anak didik saya kala mereka tentrum kurang lebih seperti yang sudah saya sampaikan di atas, namun terkadang saya bisa mengimprove perilaku saya,seperti : saya dekati dia,saya tatap matanya,dengan suara yang rendah saya bilang "ade maunya apa?coba sini kasih tahu". Bisa sambil dipeluk atau dielus bahu bagian belakang. Dan sejauh ini berhasil.
Menjadi seorang ibu seperti saya ini tidak ada sekolah khusus,namun dengan berbagi pengalaman dengan teman,mengikuti kelas edukasi atau bahkan mengikuti seminar parenting itu menjadi bekal buat saya. Karena pola asuh yang baik dan tepat tentunya juga akan berpengaruh baik pula untuk pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut.  


Daftar Pustaka
Sarwono,S. 2003. Amuk (Makalah 4). Jakarta: Universitas Indonesia

0 comments:

Post a Comment