18.3.18

Pentingnya Fase Oral Dalam Pembentukan Kepribadian


Perkembangan kehidupan tiap individu dimulai sejak dalam kandungan. Dalam satu masa kehidupan, agar bisa menjalankan
tugas-tugas perkembangan selanjutnya individu tersebut harus menyelesaikan tugas perkembangan sesuai dengan periode umurnya. Ketika satu tugas perkembangan terselesaikan dengan baik maka rasa perasaan bahagia karena keberhasilan tersebut akan menjadi dasar untuk menjalankan tugas perkembangan selanjutnya. Akan tetapi ketika individu tersebut mengalami kegagalan, maka perasaan tidak bahagia akan menjadikannya sulit untuk menjalankan tugas-tugas selanjutnya. Sebagai contohnya, ketika seorang anak mengalami kegagalan pada fase awal , maka nantinya kelak pada masa dewasa ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak matang.
Seorang ahli psikoanalisis, Sigmund Freud mengatakan bahwa  sebagian kepribadian manusia terbentuk di usia 5 tahun. Jika tugas-tugas perkembangan psikoseksualnya dapat terlewati dengan baik, maka akan menghasilkan anak dengan kepribadian yang sehat. Pada fase awal individu yaitu fase oral, sumber interaksi bayi dalam mencari kesenangan id-nya terfokus pada area mulut. Melalui stimulasi oral ini bayi mengembangkan rasa kenyamanan dan rasa kepercayaan.
Pada saat penyapihan, anak secara tidak langsung akan mengalami konfliknya yang pertama, karena anak akan mulai mengurangi ketergantungannya pada sang ibu. Perasaan tidak bahagia karena proses penyapihan ini akan mengakibatkan rasa ketidakpuasan anak pada masa oral. Sehingga anak akan mengalami kemunduran  pada perkembangan kepribadian anak, dimana sang anak akan merasa kurang aman, selalu meminta perhatian lebih dari orang lain dan bergantung kepada orang lain. Akan tetapi, kepuasan yang berlebihan pada anak juga akan berakibat yang tidak baik untuk perkembangan kepribadiannya. Karena anak akan cenderung berkepribadian kurang bertanggung jawab serta bersikap rakus.
            Penulis menyimpulkan bahwa fase oral adalah saat titik puncak awal dalam pembentukan kepribadian seseorang, maka dari itu penulis sangat memberikan anjuran guna melakukan sosialisasi terhadap para orang tua mengenai pengetahuan ini, para orang tua yang mempunyai anak dalam fase-fase ini diwajibkan melakukan perhatian secara penuh terhadap hal ini guna perkembangan kepribadian yang matang untuk si anak sendiri.
               


Daftar pustaka:


  1. Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
  2. Dr. Sumanto, M.A. 2014. Psikologi Perkembangan. Yoyakarta. CAPS  
  3. http://nad.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=1495&ContentTypeId=0x01003DCABABC04B7084595DA364423DE7897 



Oleh: Widuri Mayangsari 
NIM: 1731.0410.1167
Psikologi Umum 2



0 comments:

Post a Comment