24.3.18

JUDUL ARTIKEL KEDUA: GANGGUAN KECEMASAN (ANXIETY DISORDER)



JUDUL ARTIKEL KEDUA: GANGGUAN KECEMASAN    

 

I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Dosen Pembimbing. Wahyu Widiantoro, S.Psi, MA.

MATA KULIAH: PSIKOLOGI ABNORMAL

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Gangguan kecemasan adalah gangguan kejiwaan di mana penderita tersebut mengalami kecemasan yang berlebihan dan mempengaruhi hidup normal mereka. Semua orang merasa cemas sekarang dan kemudian hari (At Kinson, Rita L dkk, 2010). Hal ini merupakan suatu emosi yang normal dialami semua orang. Banyak orang merasa gugup ketika menghadapi masalah di tempat kerja, sebelum ujian, atau membuat sebuah keputusan penting. Ada beberapa jenis, termasuk:

Gangguan panik. Orang dengan kondisi ini memiliki perasaan teror yang menyerang tiba-tiba dan berulang kali tanpa peringatan. Gejala lain dari serangan panik termasuk berkeringat, nyeri dada, palpitasi (detak jantung kencang atau tidak teratur), dan perasaan tersedak atau tercekik. Hal ini dapat merasa seperti Anda mengalami serangan jantung atau “tiba-tiba menjadi gila.”
Gangguan kecemasan sosial. Juga disebut fobia sosial, ini melibatkan khawatir berlebihan dan kesadaran diri tentang situasi sosial sehari-hari. khawatir sering berpusat pada takut dihakimi oleh orang lain, atau ketakutan ketika diri ini akan berperilaku memalukan atau menyebabkan ejekan.
Fobia spesifik. Ini adalah ketakutan yang intens dari objek atau situasi tertentu, seperti ketinggian atau tempat sempit. Tingkat ketakutan biasanya tidak pantas untuk situasi yang sebenarnya sederhana dan dapat menyebabkan Anda menghindari situasi sehari-hari.
Gangguan kecemasan umum. Ini adalah rasa khawatir yang berlebihan, khawatir dan ketegangan yang tidak realistis, bahkan meskipun hanya ada sedikit yang menimbulkan kecemasan atau justru tidak ada yang memicu.
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik.
Kecemasan (anxiety) dapat diartikan sebagai perasaan kuatir, cemas, gelisah, dan takut yang muncul secara bersamaan, yang biasanya diikuti dengan naiknya rangsangan pada tubuh, seperti: jantung berdebar-debar, keringat dingin. Kecemasan dapat timbul sebagai reaksi terhadap “bahaya” baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang tidak (hasil dari imajinasi saja) yang seringkali disebut dengan “free-floating anxiety” (kecemasan yang terus mengambang tanpa diketahui penyebabnya)
(Berry, Ruth, 2001).
Kecemasan adalah keadaan yang beroeriantasi pada masa yang akan datang, yang ditandai dengan efak negatif, dimana seseorang memfokuskan diri pada kemungkinan datangnya bahaya atau kemalangan yang tidak dikontrol. Biasanya rasa cemas ini terjadi pada saat adanya kejadian atau peristiwa tertentu, maupun dalam menghadapi suatu hal. Bahkan kecemasan ini perlu dimiliki oleh manusia. Apabila kecemasan itu berlebihan akan berubah menjadi abnormal, ketika kecemasan yang ada dalam diri individu menjadi berlebihan atau melebihi dari kapasitas umumnya. Individu yang mengalami gangguan seperti ini bisa dikatakan mengalami gangguan kecemasan yaitu ketakutan yang berlebihan dan sifatnya tidak rasional. Seseorang dikatakan menderita anxiety disorder apabila kecemasan atau anxietas ini mengganggu aktivitas dalam kehidupan dari diri individu tersebut. salah satunya terganggunya fungsi sosial dalam diriindividu. Misalnya, kecemasan yang berlebihan ini menghambat diri seseorang untuk menjalin hubungan akrab antar individu maupun kelompoknya.
Kecemasan merupakan suatu respon terhadap situasi yang penuh dengan tekanan. Stres dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi ancaman terhadap suatu harapan yang mencetuskan cemas. Hasilnya adalah bekerja untuk melegakan tingkah laku (Rawlins, at al, 1993). Stress dapat berbentuk psikologis, sosial atau fisik. Beberapa teori memberikan kontribusi terhadap kemungkinan faktor etiologi dalam pengembangan kecemasan. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut:
1. Teori Psikodinamik
Freud (1993) mengungkapkan bahwa kecemasan merupakan hasil dari konflik psikis yang tidak disadari. Kecemasan menjadi tanda terhadap ego untuk mengambil aksi penurunan cemas. Ketika mekanisme diri berhasil, kecemasan menurun dan rasa aman datang lagi. Namun bila konflik terus berkepanjangan, maka kecemasan ada pada tingkat tinggi (Daradjat, Zakiah. 1975). Mekanisme pertahanan diri dialami sebagai simptom, seperti phobia, regresi dan tingkah laku ritualistik. Konsep psikodinamik menurut Freud ini juga menerangkan bahwa kecemasan timbul pertama dalam hidup manusia saat lahir dan merasakan lapar yang pertama kali. Saat itu dalam kondisi masih lemah, sehingga belum mampu memberikan respon terhadap kedinginan dan kelaparan, maka lahirlah kecemasan pertama. Kecemasan berikutnya muncul apabila ada suatu keinginan dari Id untuk menuntut pelepasan dari ego, tetapi tidak mendapat restu dari super ego, maka terjadilah konflik dalam ego, antara keinginan Id yang ingin pelepasan dan sangsi dari super ego lahirlah kecemasan yang kedua. Konflik-konflik tersebut ditekan dalam alam bawah sadar, dengan potensi yang tetap tak terpengaruh oleh waktu, sering tidak realistik dan dibesar-besarkan. Tekanan ini akan muncul ke permukaan melalui tiga peristiwa, yaitu : sensor super ego menurun, desakan Id meningkat dan adanya stress psikososial, maka lahirlah kecemasan-kecemasan berikutnya (Prawirohusodo, 1988).
2. Teori Perilaku
Menurut teori perilaku, Kecemasan berasal dari suatu respon terhadap stimulus khusus (fakta), waktu cukup lama, seseorang mengembangkan respon kondisi untuk stimulus yang penting. Kecemasan tersebut merupakan hasil frustasi, sehingga akan mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang di inginkan.
3. Teori Interpersonal
Menjelaskan bahwa kecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan antar individu, sehingga menyebabkan individu bersangkutan merasa tidak berharga.
4.
Teori Keluarga
Menjelaskan bahwa kecemasan dapat terjadi dan timbul secara nyata akibat adanya konflik dalam keluarga.
5. Teori Biologik
Beberapa kasus kecemasan (5 – 42%), merupakan suatu perhatian terhadap proses fisiologis (Hall, 1980). Kecemasan ini dapat disebabkan oleh penyakit fisik atau keabnormalan, tidak oleh konflik emosional. Kecemasan ini termasuk kecemasan sekunder (Rockwell cit stuart & sundeens, 1998).
Menurut Townsend (1996) ada empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat dan panik.
a.    Kecemasan Ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi.
b. Kecemasan Sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar,mudah lupa, marah dan menangis (Sutardjo A. Wiramihardja, 2005).
c.    Kecemasan Berat
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung, disorientasi.
d.
Panik
Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delusi (Supratinya, A, 1995).
Menurut penyebab, dan lama berlangsungnya, kecemasan dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, yakni:
a.    Phobic Anxiety
Yaitu kecemasan yang timbul dikarenakan oleh phobia (ketakutan) tertentu, misalnya:
– Cemas karena takut berada di dalam kamar tertutup.
– Cemas ketika tidur di ruang yang gelap.
– Cemas lantaran berada di tempat tinggi.
b.   Acute Anxiety
Ialah kecemasan yang muncul mendadak dengan intensitas yang tinggi, tapi tidak terlalu lama akan lenyap, misalnya:
o  Ketika melihat orang yang mirip dengan pembunuh keluarganya, ia segera ketakutan dan beberapa saat setelah orang tadi pergi ia tenang kembali.
o  Akibat mendengar hiruk pikuk yang mengingatkannya pada peristiwa Medio Mei, seorang ibu muda langsung histeris ketakutan, namun sesaat sesudah ia sadar bahwa itu bukan peristiwa sesungguhnya, ia menjadi tenang kembali.
c.    Chronic Anxiety
Yakni kecemasan yang berlangsung lama dan terus menerus (dapat terjadi seumur hidup), meski dalam intensitas yang rendah, dan tanpa sebab yang jelas, misalnya:
– Orang “kagetan”.
– Hendak bepergian, selalu ingin kencing.
d.   Normal Anxiety
Yaitu kecemasan yang beralasan, misalnya:
– Menjelang ujian, perasaan cemas muncul begitu besar.
– Cemas menunggu hasil operasi tumor dari salah satu anggota keluarga.
e.    Neurotic Anxiety
Ialah kecemasan tanpa alasan yang jelas sebagai akibat konflik alam bawah sadar, misalnya: Sering punya perasaan bersalah akibat seringnya dipersalahkan pada masa kecil, dan kini muncul menjadi kecemasan yang berlarut-larut serta secara periodik muncul.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan adalah sebagai berikut:
1.    Faktor Internal
a.  Pengalaman
Menurut Horney dalam Trismiati (2006), sumber-sumber ancaman yang dapatmenimbulkan kecemasan tersebut bersifat lebih umum. Penyebab kecemasan menurut Horney, dapat berasal dari berbagai kejadian di dalam kehidupan atau dapat terletak di dalam diri seseorang, misalnya seseorang yang memiliki pengalaman dalam menjalani suatu tindakan maka dalam dirinya akan lebih mampu beradaptasi atau kecemasan yang timbul tidak terlalu besar (Semiun, Yustinus, 2006).
b.   Respon
Terhadap Stimulus menurut Trismiati (2006), kemampuan seseorang menelaah rangsangan atau besarnya rangsangan yang diterima akan mempengaruhi kecemasan yang timbul.
c.    Usia
Pada usia yang semakin tua maka seseorang semakin banyak pengalamnnyasehingga pengetahuannya semakin bertambah (Notoatmodjo, 2003). Karena pengetahuannya banyak maka seseorang akan lebih siap dalam menghadapi sesuatu.
d. Gender
Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, Myers (1983) dalam Trismiati (2006) mengatakan bahwa perempuan lebih cemas akanketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif,eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan.
2.    Faktor Eksternal
a.    Dukungan Keluarga
Adanya dukungan keluarga akan menyebabkan seorang lebih siap dalam menghadapi permasalahan, hal ini dinyatakan oleh Kasdu (2002).
b. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan sekitar ibu dapat menyebabkan seseorang menjadi lebihkuat dalam menghadapi permasalahan, misalnya lingkungan pekerjaan ataulingkungan bergaul yang tidak memberikan cerita negatif tentang efek negatif suatu permasalahan menyebabkan seseorang lebih kuat dalam menghadapi permasalahan (R, Budimoeljono, 2015).
Menurut Sigmund Freud membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan ke dalam tiga jenis, yakni:
a.    Kecemasan Riel
Adalah kecemasan atau ketakutan individu terhadap bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia luar (api, binatang buas, orang jahat, penganiayaan, hukuman).
b.    Kecemasan Neurotik
Adalah kecemasan atas tidak terkendalinya naluri-naluri primitif oleh ego yang nantinya bias mendatangkan hukuman. Sungguhpun sumbernya berada di dalam diri, kecemasan neurotik pada dasarnya berlandaskan kenyataan, sebab hukuman yang ditakutkan oleh ego individu berasal di dunia luar.
c.    Kecemasan Moral
Adalah kecemasan yang timbul akibat tekanan superego atas ego individutelah atau sedang melakukan tindakan yang melanggar moral. Kecemasan moral ini menyatakan diri dalam bentuk rasa bersalah atau perasaan berdosa. Sama halnya dengan kecemasan neurotik, keecemasan moral bersifat nyata, dalam arti bahwa tekanan superego atas ego yang menimbulkan kecemasan moral itu mengacu kepada otoritas-otoritas yang riel atau nyata ada di luar individu (orang tua, penegak hukum, masyarakat).
Pdt. Dr. Yakub Susabda menyebutkan bahwa kebenaran pandangan Freud tersebut tidak cukup menjelaskan penyebab kecemasan. Sebab, menurut Pdt. Susabda, tidak ada kecemasan yang berdiri sendiri. Yang lebih normal terjadi adalah kombinasi dari ketiganya sebagai reaksi terhadap realita-realita: (a) Ancaman Yaitu kesadaran akan adanya ancaman terhadap dirinya baik secara fisik, maupun psikis. (b) Konflik Kemauan Yakni antara kemauan melakukan (approach) dengan kemauan menghindar (avoidance). Approach, memberikan kepuasan yang diharapkan. Sedangkan Avoidance menghasilkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Terdapat tiga macam konflik kemauan, yaitu: (1) Konflik akibat Approach-Approach. Konflik ini timbul karena adanya kemauan yang sama-sama menyenangkan, tetapi tidak mungkin dilakukan sekaligus, sehingga menimbulkan kecemasan, (2) Konflik akibat Approach-Avoidance. Kemauan dan ketidak-mauan yang sama kuatnya alasan masing-masing dan (3) Konflik akibat Avoidance-Avoidance. Konflik yang ditimbulkan oleh karena dua alternatif yang hasil akhirnya sama-sama tidak diinginkan. (c) Ketakutan Yaitu ketakutan pada sesuatu yang menyebabkan timbulnya kecemasan. Misalnya: takut gagal menimbulkan kecemasan ketika menghadapi ujian, takut ditolak menimbulkan kecemasan di waktu berjumpa dengan orang baru (Panggabean, L, 2003). Bahkan ketakutan tanpa alasan pun dapat menimbulkan kecemasan yang makin lama makin serius, (d) Kebutuhan yang tidak Terpenuhi, sekian banyaknya kebutuhan hidup yang paling mendasar disebutkan oleh berbagai ahli, seperti kebutuhan akan kenikmatan (Freud), kebutuhan akan kuasa (Alfred Adler), kebutuhan akan arti kehidupan (Victor Frankl), sampai pandangan cukup banyak orang akan kebutuhan mengasihi, dikasihi, dan merasa diri berharga. Dan kala kebutuhan, yang oleh Pdt. Susabda diringkaskan menjadi tiga: security, survival, dan self-fulfilment itu, tidak tercukupi maka akan timbul kecemasan. (e) Keunikan Kepribadian
Setiap orang memiliki kepribadian yang unik dalam bersikap hati terhadap realita maupun bukan realita. Ada orang yang tidak tahan menghadapi persoalan kecil lalu timbul kecemasan, tetapi ada tipe orang yang menghadapi tekanan dan konflik hidup yang berat tanpa menimbulkan kecemasan apapun. Beberapa unsur pembentukan kepribadian seringkali menyebabkan besar kecilnya daya tahan terhadap konflik, yaitu:
o  Unsur Psikologis. Setiap orang “belajar” bagaimana ia berreaksi terhadap kesuksesan dan kegagalan. Pengalaman menentukan kadar kecemasan.
o  Unsur Keturunan. Beberapa sikap hati ditentukan oleh unsur genetika/keturunan. Ada kalanya, seseorang lebih sensitif dikarenakan orang tuanya ber-temperamen Sanguin-Melankolis misalnya.
o  Unsur Sosiologis. Keadaan sosial potensial untuk membentuk kecemasan seseorang. Perasaan aman dan puas dalam kehidupan sosial (social life) menentukan besar kecilnya kadar kecemasan. Misalnya: kondisi sosial politik di Indonesia yang tidak menentu seperti sekarang ini (1999) suatu hari kelak akan membentuk manusia Indonesia yang mudah cemas.
o  Unsur Fisiologis. Kondisi kesehatan tubuh menentukan kadar kecemasan. Seseorang yang kurang sehat atau sakit-sakitan akan rentan terhadap perasaan cemas yang berkepanjangan. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang kerap kali cemas akan terganggu kesehatannya.
o  Unsur Teologis. Kadar iman seseorang menentukan kadar kecemasannya. Semakin tinggi imannya, semakin rendah kecemasannya.
Penderita yang mengalami kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang khas dan terbagi dalam beberapa fase, yaitu:
a.    Fase 1
Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh mempersiapkan diri untuk fight (berjuang), atau flight (lari secepat-cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan nor adrenalin. Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa tegang di otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam persiapannya untuk berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok agonis dan antagonis akan menimbulkan tremor dan gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jari-jari tangan (Wilkie, 1985). Pada fase ini kecemasan merupakan mekanisme peningkatan dari sistem syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah informasi yang ada secara benar (Kuswara, E. 1991.
b.   Fase 2 (dua)
Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah, ketegangan otot, gangguan tidur dan keluhan perut, penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada motifasi diri (Wilkie, 1985). Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah menangis tanpa sebab, yang beberapa saat kemudian menjadi tertawa. Mudah menangis yang berkaitan dengan stres mudah diketahui. Akan tetapi kadang-kadang dari cara tertawa yang agak keras dapat menunjukkan tanda adanya gangguan kecemasan fase dua (Asdie, 1988). Kehilangan motivasi diri bisa terlihat pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan barang ke tanah, kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat barang yang jatuh tanpa berbuat sesuatu (Asdie, 1988).
c. Fase 3
Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan stresor tetap saja berlanjut, penderita akan jatuh kedalam kecemasan fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala yang terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres, gejala kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres. Pada fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti : intoleransi dengan rangsang sensoris, kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang sebelumnya telah mampu ia tolerir, gangguan reaksi terhadap sesuatu yang sepintas terlihat sebagai gangguan kepribadian (Asdie, 1988).
Selain fase-fase diatas, terdapat juga respon fisologi dan psikologi yang terjadi pada gejala gangguan kecemasan diantaranya sebagai berikut:
a.    Respon Fisiologi terhadap Kecemasan
1.    Kardio vaskuler; Peningkatan tekanan darah, palpitasi, jantung berdebar, denyut nadi meningkat, tekanan nadi menurun, syock dan lain-lain.
2.    Respirasi; napas cepat dan dangkal, rasa tertekan pada dada, rasa tercekik.
3.    Kulit: perasaan panas atau dingin pada kulit, muka pucat, berkeringat seluruh tubuh, rasa terbakar pada muka, telapak tangan berkeringat, gatal-gatal.
4.    Gastro intestinal; Anoreksia, rasa tidak nyaman pada perut, rasa terbakar di epigastrium nausea, diare.
5.    Neuromuskuler; Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, kejang, , wajah tegang, gerakan lambat.
b.    Respon Psikologis terhadap Kecemasan
1.    Perilaku; Gelisah, tremor, gugup, bicara cepat dan tidak ada koordinasi, menarik diri, menghindar.
2.    Kognitif; Gangguan perhatian, konsentrasi hilang, mudah lupa, salah tafsir, bloking, bingung, lapangan persepsi menurun, kesadaran diri yang berlebihan, kawatir yang berlebihan, obyektifitas menurun, takut kecelakaan, takut mati dan lain-lain.
3.    Afektif; tidak sabar, tegang, neurosis,tremor, gugup yang luar biasanya, sangat gelisah, dan lain-lain.
Penanganan gangguan kecemasan, pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut sama-sama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber kecemasan mereka. Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa pendekatan:
1.    Pendekatan-Pendekatan Psikodinamika
Dari perspektif psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi. Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan simbolisasi dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan demikian ego dapat member perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih kreatif dan memberi peningkatan. Begitu juga dengan yang modern, akan tetapi yang modern lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaaan hubungan sekarang daripada hubungan masa lampau. Selain itu mereka mendorong klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
2.    Pendekatan-Pendekatan Humanistik
Para tokoh humanistik percaya bahwa kecemasan itu berasal dari represi sosial diri kita yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidaksadaran antara inner self seseorangyang sesungguhnya dan kedok sosialnya mendekat ke taraf kesadaran. Oleh sebab itu terapis-terapis humanistik bertujuan membantu orang untuk memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya. Sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan menerima diri mereka yang sesunggguhnya dan tidak bereaksi dengan kecemasan bila perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan-kebutuhan mereka mulai muncul ke permukaan.
3.    Pendekatan-Pendekatan Biologis
Pendekatan ini biasanya menggunakan variasi obat- obatan untuk mengobati gangguan kecemasan. Diantaranya golongan benzodiazepine, valium dan Xanax. Meskipunbenzodiazepine mempunyai efek menenangkan tatapi mengakibatkan depansi fisik adiksi (USDHHSS,1999a). orang-orang yang tergantung kedapanya dapat mengalami serangkaian sintom putus zat bila mereka berhenti menggunakannya dengan tiba-tiba. Obat  antidepresi mempunyai efek antikecemasan dan anti panik selain jiga mempunyai efek anti depresi
4.    Pendekatan-Pendekatan Belajar
Efektifitas penanganan kecemasan dengan pendekatan belajar telah banyak dibenarkan oleh beberapa riset. Inti dari pendekatan belajar adalah usaha untuk membantu individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi penyebab munculnya kecemasan tersebut. Ada beberapa macam model terapi dalam pendekatan belajar, diantaranya:

a.    Pemaparan Gradual
Metode ini membantu mengatasi fobia ataupun kecemasan melalui pendekatan setapak demi setapak atau (stepwise) dari pemaparan aktual terhadap stimulus fobik. Efektifitas terapi pemaparan (exposure therapy) sudah sangat terbukti, membuat terapi ini sebagai terapi pilihan untuk menangani fobia spesifik. Pemaparan gradual juga banyak dipakai pada penanganan agorafobia. Terapi bersifat bertahap menghadapkan individu yangagorafobik kepada situasi stimulus yang makin menakutkan, sasaran akhirnya adalah kesuksesan individu ketika dihadapkan pada tahap terakhir yang merupakan tahap terberattanpa ada perasaan tidak nyaman dan tanpa suatu dorongan untuk menghindar. Keuntungan dari pemaparan gradual adalah hasilnya yang dapat bertahan lama. Cara menanggulangi ataupun cara membantu memperkecil kecemasan.
b.    Rekonstruksi Pikiran
Yaitu membantu individu untuk berpikir secara logis apa yang terjadi sebenarnya.biasanya digunakan pada seorang psikolog terhadap penderita fobia.
c.    Flooding
Yaitu individu dibantu dengan memberikan stimulus yang paling membuatnya takut dan dikondisikan sedemikan rupa serta memaksa individu yang menderita anxiety untuk menghadapinya sendiri.
d.   Terapi Kognitif
Terapi yang dilakukan adalah melalui pendekatan terapi perilaku rasional-emotif,terapi kognitif menunjukkan kepada individu dengan fobia sosial bahwa kebutuhan-kebutuhan irrasional untuk penerimaan-penerimaan sosial dan perfeksionisme melahirkankecemasan yang tidak perlu dalam interaksi sosial. Kunci terapeutik adalah menghilangkan kebutuhan berlebih dalam penerimaan sosial. Terapi kognitif berusaha mengoreksi keyakinan-keyakinan yang disfungsional. Misalnya, orang dengan fobia sosial mungkinberpikir bahwa tidak ada seorangpun dalam suatu pesta yang ingin bercakap-cakapdengannya dan bahwa mereka akhirnya akan kesepian dan terisolasi sepanjang sisa hidupmereka. Terapi kognitif membantu mereka untuk mengenali cacat-cacat logis dalam pikiranmereka dan membantu mereka untuk melihat situasi secara rasional. Salah satu contohtekhnik kognitif adalah restrukturisasi kognitif, suatu proses dimana terapis membantu klienmencari pikiran-pikiran dan mencari alternatif rasional sehingga mereka bisa belajar menghadapi situasi pembangkit kecemasan.
e.    Terapi Kognitif Behavioral (CBT)
Terapi ini memadukan tehnik-tehnik behavioral seperti pemaparan dan tehnik-tehnik kognitif seperti restrukturisasi kognitif. Beberapa gangguan kecemasan yang mungkin dapatdikaji dengan penggunaan CBT antara lain : fobia sosial, gangguan stres pasca trauma,gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan panik.Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan pada pemaparandan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien mampu menghadapi sendirisituasi tersebut.

CONTOH KASUS

NAMA                : RINA
PEKERJAAN    : SISWA SMP
UMUR                : 12 TAHUN

1.  LATAR BELAKANG MASALAH
Rina kelihatannya pintar dan selalu ingin melakukan yang terbaik.Rina menyukai hal yang berhubungan dengan seni dan pandai melukis. Tetapi ia sangat berbeda ketika diminta untuk mengerjakan soal-soal di depan kelas. Ia sering mengeluhkan beberapa kata yang menurut dia tidak ada maknanya. Ketakutan terhadap kemampuan membacanya menimbulkan masalah di sekolahnya, juga dengan temannya. Ia kadang merasa marah akan sesuatu dan sulit menenangkan diri, ia tampak khawatir  terhadap segala hal, selalu cemas akan bencana yang akan menimpah dirinya ketika ia berinteraksi dengan orang lain terutama teman-teman di sekolahnya. Jika ia gagal menciptakan sesuatu seperti yang ia harapkan, ia akan marah dan memukul ke segala arah dan membentur-benturkan kepalanya di tembok. Di rumah, keluarga Rina sering melihat tingkah lakunya yang selalu menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran mengenai suatu hal yg mengganggu tidurnya, ia selalu gelisah dan menyebabkannya jatuh sakit. Kecemasannya itu  membuat dia selalu menolak membaca buku pelajaran dan selalu merasa takut untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain karena tahu tidak terlalu banyak kata yang dikuasainya (LAB/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa, 1994).
2.  CIRI-CIRI GANGGUAN GAD
o    Tidak mampu membaca
o    Tidak mampu memaknai kata
o    Tidak mampu berinteraksi dengan orang lain secara baik
o    Sering marah
o    Sulit menenangkan diri
o    Emosional agresif
o    Gangguan tidur
o    Sering sakit
o    Sering khawatir
o    Menolak membaca buku
o    Mengeluhkan kata yang dibaca ynag menurutnya maknanya sangat sulit
o    Sulit menenangkan diri
o    Memukul kesegala arah dan membenturkan kepalanya ke tembok
3.  PENJELASAN GANGGUAN
          Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (GAD) ditandai oleh perasaan cemas, sering kali dengan hal-hal kecil.Ciri utama GAD adalah rasa cemas.Orang dengan GAD adalah pencemasan yang kronis.Mungkin mereka mencemaskan secara berlebihan keadaan hidup mereka, seperti keuangan, kesejahteraan anak-anak, dan hubungan sosial mereka. Menurut suatu study, 9 dari 10 orang dengan GAD melaporkan kecemasan yang berlebihan bahkan mengenai hal-hal kecil (Sanderson & Barlow, 1990). Anak-anak dengan gangguan ini mencemaskan prestasi akademik, atletik, dan aspek sosial lain dari kehidupan sekolah. Ciri lain yang terkait adalah: merasa tegang, waswas, atau khawatir, mudah lelah, mempunyai kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannya menjadi kosong, iribilitas, ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur, seperti sulit untuk tidur, dan tidur yang gelisah dan tidak memuaskan.
GAD cenderung merupakan suatu gangguan yang stabil, muncul pada pertengahan remaja sampai pertengahan umur 20-an tahun dan kemudian berlangsung sepanjang hidup. Gangguan ini muncul dua kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan pada laki-laki (APA, 2000; USDHHS, 1999a). Meskipun GAD secara tipikal kurang intens dalam respons fisiologisnya dibandingkan dengan gangguan panik, distres emosional yang diasosiasikan dengan GAD cukup parah untuk mengganggu kehidupan orang sehari-hari. GAD sering ada bersama dengan gangguan lain seperti depresi  atau gangguan kecemasan lainnya seperti agorafobia dan obsesif-kompulsif (Alloy, Lauren B dkk, 1996).
Dari kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa orang tersebut(Rina) menderita gangguan anxiety menyeluruh. Karena kita dapat menemukan beberapa ciri penyakit dari gangguan anxiety menyeluruh.
4.  CARA MENANGANI
Terapi yang digunakan untuk Gangguan Anxietas Menyeluruh
  Pendekatan Psikoanalisis, karena memandang gangguan anxietas menyeluruh berakar dari konflik-konflik yang ditekan, sebagian besar psikoanalisis bekerja untuk membantu pasien untuk menghadapi sumber-sumber konflik yang sebenarnya. Penanganannya hampir sama dengan penanganan fobia. Satu studi tanpa kontrol menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflik interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini, sama dengan para terapi behavioral mendorong penyelesaian masalah sosial.
 Pendekatan Behavioral, para ahli klinis behavioral menangani kecemasan menyeluruh dengan berbagai cara. Jika terapis menganggap kecemasan  sebagai serangkaian respons terhadap berbagai situasi yang diidentifikasi, apa yang tampak sebagai kecemasan yang bebas mengalir dapat diformulasi ulang pada satu fobia atau lebih atau kecemasan berisyarat. Sebagai contoh, seorang terapis behavioral dapat menyimpulkan bahwa klien yang mengalami kecemasan menyeluruh tampaknya lebih spesifik memiliki ketakutan untuk mengkritik dan dikritik orang lain. Terapis perilaku harus memformulsi ulang apa yang awalnya tampak sebagai GAD menjadi semacam fobia. Walaupun demikian, dapat terjadi kesulitan untuk menemukan penyebab spesifik kecemasan yang diderita pasien semacam itu. Kesulitan ini memicu para ahli klinis behavioral untuk memberikan penanganan yang lebih umum, seperti training relaksasi intensif, dengan harapan bahwa belajar untuk rileks ketika mulai merasa tegang seiring mereka menjali hidup akan mencegah kecemasan berkembang tanpa kendali. Para pasien diajarkan untuk melemaskan ketegangan tinkat rendah, merespon kecemasan yang baru muncul dengan relaksasi dari pada dengan kepanikan.
 Terapis kognitif-behavioral juga memakai kombinasi teknik untuk menangani gangguan kecemasan menyeluruh (GAD).Termasuk dalam teknik-teknik ini adalah pelatihan keterampilan self-relaxation; belajar untuk mengganti pikiran-pikiran intrusif dan mencemaskan dengan pikiran-pikiran yang adaptif; belajar keterampilan-keterampilan untuk dekatastrofisasi (menghindari kecenderungan untuk berpikir yang buruk). Dalam studi yang terkontrol, pendekatan kognitif-behavioral dalam menangani GAD telah menunjukkan manfaat yang lebih besar dibandingkan kondisi terkontrol lain atau terapi alternatif lain (Barlow, esler & Vitali, 1998; DeRubies & Crits-Cristoph, 1998; Ladouceur dkk, 2000).

KESIMPULAN
Orang-orang yang menderita gangguan anxietas menunjukkan kekhawatiran berlebihan yang sebenarnya tidak perlu. DSM-IV-TR membuat enam diagnosis utama: gangguan fobik, gangguan panik, gangguan anxietas menyeluruh, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stress pasca trauma, dan gangguan stress akut.
Fobia adalah ketakutan luar biasa yang tidak masuk akal yang mengganggu kehidupan seseorang yang sebenarnya normal.Gangguan ini relative umum terjadi. fobia sosial adalah ketakutan terhadap situasi sosialdimana seseorang mungkin diamati oleh orang lain. Fobia spesifik mencakup ketakutan terhadap hewan, ketinggian, tempat tertutup, dan darah serta penyuntikan.
Pandangan psikoanalis tentang fobia adalah fobia merupakan pertahanan terhadap konflik yang ditekan. Para teoris behavioral mempunyai beberapa pemikiran mengenai terjadinya fobia melalui pengondisian klasik, pemasangan suatu objek atau situasi yang tidak berbahaya dengan suatu kejadian traumatik; melalui pengondisian operant, dimana seseorang mendapatkan hadiah dengan melakukan penghindaran; melalui modeling, meniru ketakutan dan penghindaran orang lain; dan melalui kognisi, dengan menganggapkecelakaan sosial sebagai suatu bencana yang sebenarnya dapat dipahami dengan cara yang tidak terlalu negative. Namun, tidak semua orang yang memiliki pengalaman semacam itu kemudian menderita fobia. Kemungkinan terdapat diathesis fisiologis yang diturunkan secara genetik yang memicu beberapa orang menderita fobia.
Pasien yang mengalami gangguan panic mengalami serangan kecemasan luar biasa secara mendadak, tanpa dapat dipahami, dan periodik. Serangan panik kadangkala memicu ketakutan dan penghindaran untuk berada diluar rumah, yang dikenal sebagai agoraphobia.
Gangguan panik terjadi dalam keluarga, mengindikasikan kemungkinan diathesis genetik. Teori-teori psikologis tentang serangan panik menyatakan bahwa serangan tersebut dikondisikan secara klasik terhadap berbagai sensasi fisik internal atau sensasi tersebut dipahami secara salah, dan mengakibatkan terjadinya serangan panik.
Dalam gangguan anxietas menyeluruh, yang terkadang disebut free-floating anxiety, individu dikuasai dengan ketegangan, kecemasan, dan kekhawatiran yang hamper selalu dialami.
Teori psikoanalisis mengenai penyebab gangguan anxietas menyeluruh merupakan konflik bawah sadar antara ego dan impuls-impuls id. Teori-teori kognitif-behavioral menyatakan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh proses-proses kognitif yang menyimpang. Pendekatan biologis memfokuskan pada neurotransmitter GABA, yang jumlahnya mungkin kurang pada penderita gangguan tersebut.
Orang-orang yang menderita gangguan obsesif-kompulsif memiliki pemikiran yang mengganggu serta tidak dikehendaki dan merasakan dorongan kuat untuk melakukan ritual stereotip yang jika tidak dilakukan akanmenyebabkan merasa dikuasai tingkat kecemasan yang menakutkan. Gangguan ini dapat melumpuhkan, tidak hanya mengganggu kehdupan orang yang mengalaminya namun juga orang-orang didekat si penderita.
Menurut Teori Psikoanalisis gangguan obsesif-kompulsif disebabkan oleh dorongan instingtual, seksual, atau agresif yang tidak dapat dikendalikan karena toilet training yang terlalu keras. Yang bersangkutan kemudian terfiksasi pada tahap anal. Simtom-simtom yang muncul dianggap mencerminkan hasil perjuangan antara id dan mekanisme pertahanan; kadangkala insting agresif id mendominasi, kadangkala mekanisme pertahanan yang mendominasi. Sebagai contoh, ketika pikiran obsesif untuk membunuh muncul, saat itu dorongan id mendominasi. Namun demikian, lebih sering simtom-simtom yang muncul mencerminkan bekerjanya salah satu mekanisme pertahanan yang hanya separuh berhasil.
Gangguan Stress Pascatrauma adalah masa setelah pengalaman traumatis dimana seseorang mengalami peningkatan kemunculan, penolakan stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian traumatis yang dialami, dan kecemasan yang disebabkan oleh ingatan terhadap peristiwa tersebut
Ditandai dengan adanya kejadian traumatis. Simtom-simtom PTSD dikategorikan menjadi 3 kelompok utama: (a) Mengalami Kembali kejadian traumatis, (b) Penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian terkait atau Mati rasa dalam responsivitas dan (c) Simtom-simtom peningkatan ketegangan
Kecemasan merupakan suatu sensasi aphrehensif atau takut yang menyeluruh. Dan hal ini merupakan suatu kewajaran atau normal saja, akan tetapi bila hal ini terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Sedangkan gangguan kecemasan yang menyeluruh adalah suatu tipe gangguan kecemasan yang melibatkan kecemasan persisten yang sepertinya “mengapung bebas” (Free floating) atau tidak terikat pada suatu yang spesifik.
DAFTAR PUSTAKA
Alloy, Lauren B dkk. 1996. Abnormal Psychology. Amerika: Mc Graw-Hill, INC.
At Kinson, Rita L dkk. 2010. Pengantar Psikologi. Tangerang: Interaksara.
Berry, Ruth. 2001. Freud. Seri Siapa Dia?. Jakarta: Erlangga.
Daradjat, Zakiah. 1975. Kesehatan Mental. Jakarta: P.T. Gunung Agung.
Kuswara, E. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: PT. Eresco
Makalah online.
http://www.scribd.com/doc/52579464/MAKALAH-KECEMASAN-EDIT.
LAB/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa. 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya: Fakultas kedokteran Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo.
Panggabean, L. (2003). Pengembangan Kesehatan Perkotaan ditinjau dari Aspek Psikososial. (makalah). Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat DepKes. Rs. Tidak dipublikasikan.
R, Budimoeljono. Seri Sikap Hati. Kecemasan. Artikel (Online). Malang: Gandum Mas.
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Supratinya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius.
Sutardjo A. Wiramihardja. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: PT. Refika Aditama.

0 comments:

Post a Comment