17.3.18

Apakah Tuhan Itu?






Kebanyakan orang dididik untuk mempercayai pernyataan-pernyataan keagamaan tertentu yang bersifat hakiki. Dan mungkin saja ketika suatu saat muncul pertanyaan untuk menjelaskan tentang percayakah kita kepada Tuhan,
mungkin kita baru menyadari bahwa pertanyaan tersebut sulit untuk didefinisikan dan penting bagi kita untuk menjelaskan hal yang kita percayai dan mengapa kita mempercayainya. Akan tetapi, sebelum kita menjelaskan tentang apakah kita percaya kepada Tuhan dan mengapa, terlebih dahulu kita harus mempunyai kepastian tentang apa yang dimaksud dengan agama dan berbagai pengertiannya yang terdapat dalam teori keagamaan karena ada juga sekelompok orang yang menolak untuk memberi nama “agama” bagi kumpulan atau kelompok keyakinan mereka terhadap Tuhan.
Dikarenakan sangat banyaknya istilah untuk mendefinisikan agama, maka terkadang sulit bagi kita untuk mendefinisikan agama secara memadai. Sehingga ada bermacam-macam kepercayaan terhadap Tuhan, mulai dari ateisme, monoteisme, politeisme, deisme, teisme sampai kepada panteisme.
Jika kita mengatakan tentang eksistensi tentang Tuhan, maka setidaknya dengan mengetahui faktor-faktor tertentu hal tersebut merupakan petunjuk dalam mencari bukti bagi adanya Tuhan. Pembuktian-pembuktian ini ada beberapa macam dilihat dari berbagai macam segi dan pertimbangan. Tetapi ternyata belum bisa diterima dari sudut pandang logika. Karena jika dianalisa terdapat beberapa kelemahan-kelemahan dalam pembuktian.
Dari sejumlah penyelesaian yang diajukan, ada beberapa pendekatan dari para ahli yaitu:


            1. Pendekatan berdasarkan positivisme oleh Ayer
Ayer menolak seluruh masalah keagamaan serta memandang tidak mengandung makna. Ayer menganggap bahwa mereka yang mengaku mempunyai pengetahuan keagamaan juga menganggap kalau pengetahuan mereka tidak dapat diuji melalui pengalaman langsung.

       2. Pendekatan berdasarkan naturalisme oleh Dewey
Dewey tidak menolak hal-hal tentang keagamaan dan proposisi-proposisinya. Dalam buku karangan Dewey yang bejudul A Common Faith, dia mendefinisikan bahwa betapa berbeda-bedanya hal-hal yang dinamakan agama dan tidak terdapatnya unsur-unsur yang pokok. Hal tersebut merupakan suatu tugas yang tidak mungkin dijalankan. Agama lebih tepat dipandang sebagai suatu nama himpunan yang menunjukkan berbagai agama.
Menurut Dewey, gagasan akan Tuhan didefinisikan sebagai hubungan yang aktif antara cita-cita dengan keadaan yang sesungguhnya.

     3. Pendekatan berdasarkan empirisisme oleh Brightman
Dengan adanya pertentangan tentang kebaikan dan keburukan yang tidak dapat dijelaskan berdasarkan hipotesa tentang keberadaan Tuhan, ada dua pilihan antara mengingkari adanya pertentangan tersebut atau mengatakan Tuhan bersifat terbatas.
Brightman berpendirian tidak mungkin menentang kenyataan, oleh karena itu ia menerima pendirian Tuhan bersifat terbatas. 



     4. Pendekatan berdasarkan idealisme oleh Hocking
Hocking tidak mencoba untuk membuktikan tentang adanya Tuhan, tetapi ia mencoba untuk menunjukkan bahwa pengalaman kita sesungguhnya merupakan pengalaman tentang Tuhan.

Dari berbagai sudut pandang yang terkait tentang ketuhanan, dari sudut metafisika Tuhan dapat dipandang sebagai keseluruhan alam semesta atau bisa juga dipandang sebagai prinsip yang mendasari segala kenyataan.

Dafttar pustaka
Katsoff, Louiss  (1996). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana

0 comments:

Post a Comment