28.1.18

Pendidikan Karakter




KOMPETENSI GURU SEBAGAI PENENTU KESUKSESAN 
PENDIDIKAN KARAKTER

Berkati Gaho, Mahasiswa Fak : Psikologi, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

        Berbicara masalah mutu pendidikan di Indonesia maka tak lepas dari peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru. Guru merupakan unsur yang paling penting dalam proses pendidikan. Tanpa adanya guru, pendidikan hanya menjadi slogan dan pencitraan karena segala bentuk kebijakan dalam sektor pendidikan pada akhirnya yang akan menentukan tercapainya tujuan pendidikan adalah guru. Guru menjadi titik sentral dan awal dari semua pembangunan pendidikan.
       Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan, dimana guru akan melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Melalui proses belajar dan mengajar inilah berawalnya kualitas pendidikan. Artinya, secara keseluruhan kualitas pendidikan berawal dari kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di ruang kelas. Secara kuantitas, jumlah guru di Indonesia cukup memadai. Namun secara distribusi dan mutu, pada umumnya masih rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan ini cukup memprihatinkan, dengan prosentase lebih dari 50% di seluruh Indonesia.
      Untuk membahas peranan guru diindonesia, pihak Fakultas Psikologi Up 45 yogyakarta mengadakan seminar yang berjudul ‘’Kompetensi Guru Sebagai Penentu Kesuksesan Pendidikan Karakter “ yang di ikuti oleh Guru PAUD, SD, SMP, SMA, dan mahasiswa dari berbagai universitas di yogyakarta.  Seminar ini  di pandu oleh Bp. Susilo Nugroho sebagai moderator dan diisi oleh  Narasumber yang berkompeten yaitu : Bp. Armunanto ( staff UNICEF ), Drs. Indra Wahyudi ( Dosen senior di Fakultas Psikologi UP 45 ) dan Bp. Miftah ( DIKPORA ).
        Pada sesi pertama menjelaskan tentang apa itu karakter dan bagaimana menciptakan karakter yang baik sesuai dengan jaman. Hal ini dijelaskan oleh Bp. Armunanto  “ Bahwa sebagian yang di alami anak remaja berkisar antar 39- 64 %  kurang fokus, banyak mengantuk dan cenderung mengutamakan main game daripada belajar. Apalagi saat ini terdapatnya game online yang menyita waktu anak sekolahan, nama game itu MOBILE LEGENDS. Untuk itu perlu diberikan perhatikan lebih dalam pemberian gizi untuk anak- anak agar tidak mengantuk dan juga juga memberi arahan kepada anak didiknya untuk mengurangi bermain game. Perlu diketahui juga bahwa kekurangan gizi ini akan berakibat sangat berbahaya bagi para remaja wanita, yang bisa mengakibatkan pendarahan yang berujung kematian saat melahirkan, dan terjadinya obesitas yang berlebihan di kalangan remaja laki-laki, dan juga mengakibatkan kerusakan mata
         Beliau juga menambahkan bahwa “ Dalam mendidik anak sekolahan perlu memperhatikan 3 hal berikut yaitu : Pendidikan Fisik, Pendidikan Kognitif dan Pendidikan Moral atau Karakter “. Pendidikan fisik adalah pendidikan yang mengutamakan kekuatan tubuh dan juga kekuatan mental kita dalam menghadapi dunia luar. Pendidikan kognitif  adalah kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan setiap masalah. Sedangkan Pendidikan moral adalah pendidikan yang mengembangkan sikap, akhlaq, rohani maupun spiritual dengan harapan akan dihasilkan output peserta didik yang berbudi pekerti luhur.
      Hal yang perlu diperhatikan adalah pendidikan moral atau Karakter. Karakter ini lebih pada tindakan yang dilakukan siswa yang berdasarkan keadaan jiwa yang terjadi secara spontan dan tidak perlu dipikirkan lagi atau bertindak karena telah dilatih secara terus-menerus dan menjadi sebuah kebiasaan sehingga tindakan tersebut terjadi secara spontan. Karakter ini  menjadi sebuah persoalan yang sudah ada sejak anak usia dini, jika tidak di arahkan dengan baik mereka akan sulit menghadapi permasalahan dunia luar. Hal ini juga tidak lepas dari didikan orangtua dalam menasehati anaknya akan lebih berkarakter.
        Menurut Bp. Indra W selaku Dosen UP 45, Bahwa Teman sebaya jauh lebih menyenangkan bagi para remaja jaman sekarang, yang mana terjadi karena pengaruh dari Medsos. Hal ini akan berdampak Secara Langsung Terhadap Karakter, Tetapi Akan Mempengaruhi Pola Berfikir Anak. Seorang ibu yang “ Mengabaikan “ akan berdampak kepada anak yang memberikan reaksi yang tidak berani terjung lapangan terhadap apa yang ada di sekitar dan yang ada di lingkungannya. Sikap seperti ini juga akan membentuk karakter anak yang tidak baik pula di masa depan.  Di tambahkan juga oleh Bp. Miftah (DIKPORA) bahwa Kurikulum 2013 di rancang untuk menyiapkan anak – anak dalam kompetensi untuk menghadapi abad 21. Program 5 hari sekolah yang di cetuskan oleh pemerintah, bertujuan agar dalam 2 hari itu anak-anak lebIh banyak belajar tentang pendidikan karakter yang lebih baik.

Berdasarkan pembahasan seminar diatas maka di ambil kesimpulan bahwa :

1.     Pembentukan karakter dan kesuksesan dari seorang anak itu adalah tanggung jawab utama dari orang tua.
2.   Pembentukan karakter untuk menciptakan kesuksesan seorang anak didik itu tidak hanya menjadi tanggung jawab Guru. Guru hanyalah fasilitator dalam pengembangan karakter anak didik.
3.    Peran orang tua dan pola asuh yang tepat yang di berikan oleh orang tua merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pembentukan karakter yang lebih baik.



0 comments:

Post a Comment