20.12.17

TEORI SIGMUND FREUD



TEORI SIGMUND FREUD
 
 I R W A N T O
NIM. 163104101125

Pembimbing: Fx. Wahyu Widiantoro, S. Psi., MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45Yogyakarta

Model perkembangan psikoanalisis dasar, yang terus menerus dimodifikasi oleh Freud selama 50 tahun terahkir hidupnya, terdiri atas 3 komponen pokok: pertama,  komponen dinamik atau ekonomik yang menggambarkan pikiran manusia sebagai sistem energi yang cair. Kedua, komponen struktural atau topografik berupasistem yang memiliki tiga struktur psikologis berbeda namun saling berhubungan dalam menghasilkan perilaku; dan ketiga komponen sekuensial (urutan) atau menuju tahap lainnya, yang berpusat pada daerah-daerah yang sensitif, tugas-tugas perkembangan, dan konflik-konflik psikologis tertentu (Neil J. Salkin: 2009).
Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya (Alwisol: 2005).
Metode Freud yang digunakan untuk menyembuhkan penderita tekanan psikologis yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode tersebut adalah dari konsep alam bawah sadar, asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang ditekan oleh diri seseorang. Sedangkan analisis mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam. Ketika permasalahan alam bawah sadar ini maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan (Yustinus Semiun: 2006).
Psikodinamika mencerminkan dinamika-dinamika psikis yang menghasilkan gangguan jiwa atau penyakit jiwa. Dinamika psikis terjadi melalui sinergi dan interaksi-interaksi elemen psikis setiap individu. Seksualitas Freud sebagai sebuah dinamika, menangkap ada bermacam-macam potensi psikopatologi dalam setiap peta id, ego, dan superego. Ketiga elemen psikis ini mempunyai kekhasan masing-masing, sebab mereka menggambarkan tiap-tiap ide yang saling paradoks. Hanya saja, mereka tidak akan membuat manusia sepenuhnya nyaman, karena manusia tetap saja orang yang sakit. Sebagaimana tubuh fisik yang mempunyai struktur: kepala, kaki, lengan dan batang tubuh, Sigmund Freud, berkeyakinan bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, meski tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda. Masing-masing sistem tersebut memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang. Ketiga sistem ini meliputi: Id, Ego, dan Superego (Yustinus Semiun: 2006). Sebagaimana akan dijelaskan sebagai berikut:
v  Id
Dalam bahasa Latin berarti ‘sesuatu’. Id berfungsi sebagai gudang tempat penyimpanan semua insting, ini sudah ada sejak lahir dan dengan demikian-secara ilmu perkembangan-id merupakan yang tertua dalam struktur psikologi. Id yang merupakan gudang penyimpanan bagi semua insting , memuat segala sesuatu yang diwariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Dalam prinsip dasarnya, id merupakan struktur biologis bawaan yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan melalui pemenuhan kebutuhan yang serta merta. Sebagai bentuk penyaluran awal energi psikis, id mewujudkan tujuan peredaannya melalui prinsip kenikmatan, prinsip ini menyatakan tujuan pokok operasi mental adalah pencapaian kenikmatan melalui pemenuhan kebutuhan. Energi ini akan membawa individu merasa bebas tampa kekangan apa pun dan tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Pemikiran yang tidak bisa membedakan anatara khayalan dan kenyataan ini disebut sebagia pemikiran proses primer. Misalnya, Anda bisa saja meredakan rasa lapar untuk sementara waktu dengan melamu dan membayangkan makanan kegemaran Anda. Meskipun tindakan ini hanya memuaskan keinginan Anda untuk sementara waktu, namun hal ini terbukti efektif bisa mengurangi ketegangan sehingga tidak menguasai pikiran Anda (Neil     J. Salkin: 2009).
Sigmund Freud mengumpamakan kehidupan psikis seseorang bak gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya saja yang tampak di permukaan laut, sedangkan bagian terbesar dari gunung tersebut tidak tampak, karena terendam di dalam laut. Kehidupan psikis seseorang sebagian besar juga tidak tampak (bagi diri mereka sendiri), dalam arti tidak disadari oleh yang bersangkutan. Meski demikian, hal ini tetap perlu mendapat perhatian atau diperhitungkan, karena mempunyai pengaruh terhadap keutuhan pribadi (integrated personality) seseorang. Dalam pandangan Freud, apa yang dilakukan manusia khususnya yang diinginkan, dicita-citakan, dikehendaki untuk sebagian besar tidak disadari oleh yang bersangkutan. Hal ini dinamakan “ketaksadaran dinamis”, ketaksadaran yang mengerjakan sesuatu. Dengan pandangan seperti itu, Freud telah melakukan sebuah revolusi terhadap pandangan tentang manusia. Karena, psikologi sebelumnya hanya menyelidiki hal-hal yang disadari saja. Segala perilaku yang di luar kesadaran           manusia dianggap bukan wilayah kajian psikologi (Yustinus Semiun: 2006).
Freud menggunakan istilah Id untuk menunjukkan wilayah ketaksadaran tersebut. Id merupakan lapisan paling dasar dalam struktur psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari, dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia (Sumadi Suryabrata: 2005). Oleh karena itu, Freud memilih istilah “id” (atau bahasa aslinya “Es”) yang merupakan kata ganti orang neutrum atau netral. Pada permulaan hidup manusia, kehidupan psikisnya hanyalah terdiri dari Id saja. Pada janin dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, hidup psikisnya seratus persen sama identik dengan Id. Id tersebut nyaris tanpa struktur apa pun dan secara menyeluruh dalam keadaan kacau balau. Namun demikian, Id itulah yang menjadi bahan baku bagi perkembangan psikis lebih lanjut. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis manusia pusat insting (hawa nafsu, istilah dalam agama). Ada dua insting dominan, yakni: (1) Libido-instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif; (2) Thanatos-instink destruktif dan agresif. Yang pertama disebut juga instink kehidupan (eros), yang dalam konsep Freud bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan kepada Tuhan, cinta diri (narcisisme). Bila yang pertama adalah instink kehidupan, yang kedua merupakan instink kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos (Koeswara: 1991).
Pada mulanya, Id sama sekali berada di luar kontrol individu. Id hanya melakukan apa yang disukai. la dikendalikan oleh “prinsip kesenangan” (the pleasure principle). Pada Id tidak dikenal urutan waktu (timeless). Hukum-hukum logika dan etika sosial tidak berlaku untuknya. Dalam mimpi seringkali kita melihat hal-hal yang sama sekali tidak logis. Atau pada anak kecil, kita bisa melihat bahwa perilaku mereka sangat dikuasai berbagai keinginan. Untuk memuaskan keinginan tersebut, mereka tak mau ambil pusing tentang masuk akal-tidaknya keinginan tersebut. Selain itu, juga tidak peduli apakah pemenuhan keinginan itu akan berbenturan dengan norma-norma yang berlaku. Yang penting baginya adalah keinginannya terpenuhi dan ia memperoleh kepuasan (Ledford J Bischof: 1970).
Demikianlah gambaran selintas tentang Id. Bagaimana pun keadaannya Id tetap menjadi bahan baku kehidupan psikis seseorang. Id merupakan reservoar energi psikis yang menggerakkan Ego dan Superego. Energi psikis dalam Id dapat meningkat karena adanya rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar individu. Apabila energi psikis ini meningkat, akan menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan). Id tidak bisa membiarkan perasaan ini berlangsung lama. Karena itu, segeralah id mereduksikan energi tersebut untuk menghilangkan rasa tidak enak yang dialaminya. Jadi, yang menjadi pedoman dalam berfungsinya Id adalah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan. Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai keenakan ini, id mempunyai dua cara, yang pertama adalah: refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip karena sinar, dan sebagainya, dan yang ke dua adalah proses primer, seperti misalnya ketika orang lapar biasanya segera terbayang akan makanan; orang yang haus terbayang berbagai minuman. Bayangan-bayangan seperti itu adalah upaya-upaya yang dilakukan id untuk mereduksi ketegangan akibat meningkatnya energi psikis dalam dirinya. Cara-cara tersebut sudah tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan. Orang lapar tentu tidak akan menjadi kenyang dengan membayangkan makanan. Orang haus tidak hilang hausnya dengan
membayangkan es campur. Karena itu maka perlu (merupakan keharusan kodrat) adanya sistem lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia objektif. Sistem yang demikian itu ialah Ego (
Ledford J Bischof: 1970).
v  Ego
ego terbentuk sebagain hasil interaksi antara organisme dan akibat terus berlangsungnya pengurangan ketegangan yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu. Teori Freud yang menyatakan ego mulai berkembang karena ketidakmampuan id untuk memenuhi sendiri kebutuhan individu, adap[un cara yang digunakan masing-masing organisme untuk menjalankan masing-masing ego dalam rangka memenuhi kebutuhannya disebut sebagai identifikasi (identification) (Neil J. Salkin: 2009).
Meski id mampu melahirkan keinginan, namun ia tidak mampu memuaskannya. Subsistem yang kedua, ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego merupakan mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewani manusia dan hidup sebagai wujud yang rasional (pada pribadi yang normal). Ketika id mendesak Anda untuk menampar orang yang telah menyakiti Anda, ego segera mengingatkan jika itu Anda lakukan, Anda akan diseret ke kantor polisi karena telah main hakim sendiri. Jika Anda menuruti desakan id, Anda akan konyol. Jadi, ego adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena kebutuhan manusia untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Orang lapar tentu perlu makan untuk menghilangkan ketegangan yang ada di dalam dirinya. Ini berarti bahwa individu harus dapat membedakan antara khayalan dengan kenyataan tentang makanan. Di sinilah letak perbedaan pokok antara id dan ego. Id hanya mengenal dunia subjektif (dunia batin), sementara ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di dunia luar (dunia objektif, dunia kenyataan). Lain dengan id, ego berpegang pada prinsip kenyataan (reality principle) dan berhubungan dengan proses sekunder (Jalli: 2008).
Tujuan prinsip realitas adalah mencari objek yang tepat sesuai dengan kenyataan untuk mereduksi ketegangan yang timbul di dalam diri. Proses sekunder ini adalah proses berpikir realistik. Dengan mempergunakan proses sekunder, Ego merumuskan sesuatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan untuk mengetahui apakah rencananya itu berhasil atau tidak. Aktivitas Ego ini bisa sadar, pra sadar atau tak disadari. Namun untuk sebagian besar adalah disadari. Contoh aktivitas Ego yang disadari antara lain: persepsi lahiriah (saya melihat teman saya tertawa di ruang itu); persepsi batiniah (saya merasa sedih) dan berbagai ragam proses intelektual. Aktivitas pra sadar dapat dicontohkan fungsi ingatan (saya mengingat kembali nama teman yang tadinya telah saya lupakan). Sedangkan aktivitas tak sadar muncul dalam bentuk mekanisme pertahanan diri (defence mechanisme), misalnya orang yang selalu menampilkan perangai temperamental untuk menutupi ketidakpercayaan dirinya; ketidakmampuannya atau untuk menutupi berbagai kesalahannya. Aktivitas Ego ini tampak dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang objektif, yang sesuai dengan dunia nyata dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Di sini, the pleasure principle dari Id diganti dengan the reality principle. Sebagai misal, ketika seseorang merasa lapar. Rasa lapar ini bersumber dari dorongan Id untuk fungsi menjaga kelangsungan hidup. Id tidak peduli apakah makanan yang dibutuhkan nyata atau sekadar angan-angan. Baginya, ia butuh makanan untuk memuaskan diri dari dorongan rasa lapar tersebut. Pada saat yang bersangkutan hendak memuaskan diri dengan mencari makanan, Ego mengambil peran. Ego berpendapat bahwa angan-angan tentang makanan tidak bisa memuaskan kebutuhan akan makanan. Harus dicari makanan yang benar-benar nyata. Selanjutnya, Ego mencari cara untuk mendapatkan makanan tersebut. Menurut Freud, tugas pokok Ego adalah menjaga integritas pribadi dan menjamin penyesuaian dengan alam realitas. Selain itu, juga berperan memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik dengan keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dilakukan. Jadi, Fungsi Ego adalah menjaga integritas kepribadian dengan mengadakan sintesis psikis (Siti Rahayu: 2006).
Meskipun ego tidak menggunakan prinsip kenikmatan seperti pada id, tetapi ego mendapatkan kenikmatan (redanya ketegangan atau hilangnya rasa sakit) melalui prinsip realitas. Realitas-realitas eksternal yang tergambar dalam nalar dan pikiran dan bukan dalam emosi. Selain pertimbangan realitas terhadap lingkungan, ego menjalankan fungsi penting lainnya seperti pengatur proses-proses mental, atau terkadang menjadi penenga antara id dan superego, atau bisa  sebagai pengendali level dan arah energi yang tersalur ke dunia luar. Dalam pengaruh yang lebih spesifik, indrawi lebih banyak mempengaruhi ego dari pada id dan superego(Neil J. Salkin: 2009).
v  Superego
Superego adalah sistem kepribadian terakhir yang ditemukan oleh Sigmund Freud. Sistem kepribadian ini seolah-olah berkedudukan di atas Ego, karena itu dinamakan Superego. Fungsinya adalah mengkontrol ego. la selalu bersikap kritis terhadap aktivitas ego, bahkan tak jarang menghantam dan menyerang ego (Siti Rahayu: 2006). Superego ini termasuk ego, dan seperti ego ia mempunyai susunan psikologis lebih kompleks, tetapi ia juga memiliki perkaitan sangat erat dengan id. Superego dapat menempatkan diri di hadapan Ego serta memperlakukannya sebagai objek dan caranya kerapkali sangat keras. Bagi Ego sama penting mempunyai hubungan baik dengan Superego sebagaimana halnya dengan Id. Ketidak cocokan antara ego dan superego mempunyai konsekuensi besar bagi psikis. Seperti dikemukakan di atas, Superego merupakan sistem  kepribadian yang melepaskan diri dari Ego. Aktivitas Superego dapat berupa self observation, kritik diri, larangan dan berbagai tindakan refleksif lainnya. Superego terbentuk melalui internalisasi (proses memasukkan ke dalam diri) berbagai nilai dan norma yang represif yang dialami seseorang sepanjang perkembangan kontak sosialnya dengan dunia luar, terutama di masa kanak-kanak. Nilai dan norma yang semula “asing” bagi seseorang, lambat laun diterima dan dianggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari dalam dirinya. Larangan, perintah, anjuran, cita-cita, dan sebagainya yang berasal dari luar (misalnya orangtua dan guru) diterima sepenuhnya oleh seseorang, yang lambat laun dihayati sebagai miliknya. Larangan “Engkau tidak boleh berbohong” Engkau harus menghormati orang yang lebih tua” dari orangtuanya menjadi “Aku tidak boleh berbohong “Aku harus menghormati orang yang lebih tua”. Dengan demikian, Superego berdasarkan nilai dan norma-norma yang berlaku di dunia eksternal, kemudian melalui proses internalisasi, nilai dan norma-norma tersebut menjadi acuan bagi perilaku yang bersangkutan. Superego merupakan dasar moral dari hati nurani. Aktivitas superego terlihat dari konflik yang terjadi dengan ego, yang dapat dilihat dari emosi-emosi, seperti rasa bersalah, rasa menyesal, juga seperti sikap observasi diri, dan kritik kepada diri sendiri (Koeswara, E: 1991).
Konflik antara ego dan superego, dalam kadar yang tidak sehat, berakibat timbulnya emosi-emosi seperti rasa bersalah, menyesal, rasa malu dan seterusnya. Dalam batas yang wajar, perasaan demikian normal adanya. Namun, pada beberapa orang hidupnya sangat disiksa oleh superegonya, sehingga tidak mungkin lagi untuk hidup normal (Koeswara, E: 1991).
Ketiga komponen diatas berkembang melalui tahap-tahap perkembangan psikoseksual. Freud menggunakan istilah seksual untuk segala tindakan dan fikiran yang memberi kenikmatan atau kepuasan, istilah psikoseksual digunakan untuk menunjukkan bahwa proses perkembangan psikologis ditandai dengan adanya libido (energi seksual) yang dipusatkan pada daerah-daerah tubuh tertentu yang berbeda-beda. Freud yakin bahwa perkembangan manusia melewati lima tahap perkembangan psikoseksual dan bahwa setiap perkembangan tersebut individu mengalami pada satu bagian tubuh lebih dari pada bagian tubuh yang lain (Masrun; 1977).
Tahap-tahap Perkembangan Psikoseksual Freud
Tahap
Usia/
Tahun
Ciri-ciri Perkembangan
Oral
0-1
Bayi merasakan kenikmatan pada daerah mulut. Mengunyah, menggigit, dan mengisap adalah sumber utama kenikmatan.
Anal
1-3
Kenikmatan terbesar anak terdapat di sekitar daerah lubang anus. Rangsangan pada daerah anus ini berkaitan erat dengan kegiatan buang air besar.
Phalic
3-6
Kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa manipulasi diri dapat memberikan kenikmatan. Anak melalui menaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan anatomik antara laki-laki dan perempuan, terhadap asal-usul bayi dan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seks.
Latency
6-12
Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan sosial dan Intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energi anak ke dalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phalic yang sangat menekan.
Genital
12-Dewasa
Dorongan-dorongan seks yang ada pada masaphalic kembali berkembang, setelah berada dalam keadaan tenang selama masa latency. Kematangan fisiologis ketika anak memasuki masa remaja, mempengaruhi timbulnya daerah-daerah erogen pada alat kelamin sebagai sumber kenikmatan.
Sumber: Diadaptasi dari Zigler & Stevenson (1998) dalam (Masrun; 1977).

Freud menggunakan istilah “erogenous zones” (daerah kenikmatan seksual) untuk menunjukkan tiga bagian tubuh-mulut, dubur, dan alat kelamin sebagai daerah yang mengalami kenikmatan khusus yang sangat kuat dan yang memberikan kualitas pada setiap tahap perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, anak merasakan kenikmatan tertentu pada daerah tersebut, dan selalu berusaha mencari objek atau pun melakukan kegiatan yang dapat memuaskan. Tetapi pada saat yang sama muncul konflik dengan tuntutan-tuntutan realitas yang harus diatasi (Berry, Ruth: 2001).

DAFTAR PUSTAKA

Gabbard, G.O, 2004, Long Term Psychodynamic Psychotherapy a Basic Text, London, American University Press.
Sabur, Alex, 2003,  Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia. 
Rahayu, Siti, 2006, Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya, Yogyakarta, UGM Press.
Alwisol, 2005, Psikologi Kepribadian, Malang, Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang.
Semiun, Yustinus, 2006, Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud, Yogyakarta, Kanisius.
Sumadi Suryabrata, 2005, Psikologi Kepribadian, Jakarta, CV. Rajawali.
Koeswara, E, 1991,  Teori-teori Kepribadian, Bandung,  Eresco.
Bischof, Ledford J, 1970, Interprening Personality Theories,  Harper and Row Publisher, 2nd Edition, New York.
Jaali, H, 2008, Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta.
Rahayu, Siti, dkk. 2006, Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya, Yogyakarta, UGM Press
Koeswara, E, 1991,  Teori-teori Kepribadian, Bandung,  PT. Eresco.
Masrun, 1977,  Aliran-aliran Psikologi, Yogyakarta,  Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Berry, Ruth, 2001, Freud: Seri Siapa Dia, Jakarta, Erlangga. 
Boeree, C.G, 2005, Sejarah Psikolog,  Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern (Alih Bahasa: Abdul Qodir Shaleh),  Yogyakarta, Primasophie.
Boeree, C. G, 1997, Personality Theories,  Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia, (Alih bahasa, Inyiak Ridwan Muzir),  Yogyakarta,  Primasonhie.
Koeswara, E, 1991, Teori-teori Kepribadian, Bandung,  Eresco.
Supratik, 1993, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Yogyakarta,  Kanisius.
Alwisol, 2005,  Psikologi Kepribadia,  Malang,  Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.  
Payne, Malcolm, 2005, Modern Social Work Theory, Edisi Ketiga, New York, Palgrave Macmillan.
Rahayu, Siti, dkk,  2006,  Psikologi Perkembangan dalam Berbagai Bagiannya,  Yogyakarta, UGM Press.
Bimo Walgito, 2010, pengantar psikologi umum, Andi, Yogyakarta.
Neil J. Salkin, 2009, Teori-Teori Perkembangan Manusia, Bandung, Nusa Media.
Calvin s. Hall dan Garden Lindzey, 1993, Teori-Teori Psikodinasmika (klinis),Yogyakarta, Kanisius


0 comments:

Post a Comment