8.12.17

Perilaku Abnormal Menurut Teori Psikodinamika



Perilaku Abnormal Menurut Teori Psikodinamika
 

  
I R W A N T O
NIM. 163104101125

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Perilaku Abnormal Menurut Teori Psikodinamika-Perilaku abnormal dapat dijelaskan menurut kajian teori yang melatarbelakanginya. Perilaku abnormal menurut Teori Psikodinamika terjadi karena dua hal, yaitu konflik psikologis yang tidak disadari dan fiksasi pada tahapan perkembangan psikoseksual.


Perilaku Abnormal Menurut Teori Psikodinamika
Perilaku abnormal mencerminkan simtom dari perlawanan dinamis dalam struktur pikiran, yaitu adanya konflik antara id, ego, superego:
Id adalah struktur kepribadian yang mengandung insting seksual dan agresif yang berada sepenuhnya pada lapisn tidak sadar, dan tidak dapat menembus area sadar. Id memiliki kekuatan yang mendorongnya ke arah penemuhan segera akan kebutuhan tersebut.
Ego adalah pusat kesadaran. Ego berfungsi memberikan kekuatan mental untuk membuat penilaian, memori, persepsi, dan pengambilan keputusan yang membantu individu untuk beradaptasi dan menghadapi tekanan dari realitas yang ada di luar dirinya. Ego melibatkan proses penyelesaian masalah secara rasional, berbeda dengan id yang tidak dapat membedakan fantasi dan realitas. Meskipun ego adalah pusat kesadaran, namun ada pengalaman-pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yang tidak dimunculkan dalam kesadaran.
Superego adalah struktur kepribadian yang melakukan kontrol terhadap usaha ego untuk memenuhi hasrat id. Sepurego meliputi juga ego ideal, tentang bagaimana individu seharusnya bertingkah laku.
Ketidakseimbangan id, ego dan superego
Perilaku abnormal muncul karena interaksi antara id, ego, dan superego tidak berjalan dalam titik keseimbangan, sebagai contoh insting seksual akan berubah menjadi perilaku pemerkosaan apabila tidak ada superego yang memberi kontrol. Maka, jika salah satu fungsi struktur kepribadian tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, individu akan mengalami kecenderungan mengembangkan perilaku abnormal.
Selain struktur kepribadian, teori psikodinamika juga memperkenalkan tahapan perkembangan yang terdiri dari 5 fase atau lebih dikenal dengan tahapan psikoseksual, yaitu:
  1. Oral (0 – 18 bulan), fase dengan pusat kenikmatan pada stimulasi mulut dan bibir. Perasaan puas timbul karena menyusu atau makan, dan menggigit apapun yang dimasukkan dalam mulutnya.
  2. Anal (18 bulan – 3 tahun), energi seksual berfokus pada stimulasi daerah anal, yaitu menahan atau mengeluarkan feses.
  3. Phallic (3 – 5 tahun), energi seksual terpusat pada area genital. Anak tertarik secara seksual pada orangtuanya, terutama yang berlawanan jenis.
  4. Latency (5 – 12 tahun), anak tertarik berinteraksi dengan sebayanya dan meniru perilaku dewasa yang berjenis kelamin sama. Seks tidak lagi menjadi fokus pada fase ini.
  5. Genital (12 tahun – usia dewasa), fase dimana terbentuk kembali dorongan seksual menjelang masa pubertas secara bijak.
Ketidakberhasilan dalam menyelesaikan tahapan perkembangan dapat menjadi pencetus bagi munculnya perilaku abnormal. Individu mengalami fiksasi sehingga terjebak dalam fase perkembangan di usia anak-anak tersebut. Sebagai contoh anak mengalami fiksasi pada fase anal, mengembangkan karakter yang ceroboh, impulsif, dan tidak terkontrol yang menyebabkan munculnya perilaku abnormal.

Sumber
Halgin, Richard P. & Whitbourne, Susan Krauss. 2012. Abnormal Psychology, Critical Perspectives on Psychological Disorders. New York: Mc Graw-Hill.
Kring, Ann, M., Johnson, Sheri, L., Davison, Gerald, C., & Neale, John., M. (2010). Abnormal psychology-11th edition (International Student Version). New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

0 comments:

Post a Comment