13.12.17

Konsep Diri Remaja

Konsep Diri Remaja
Wahyu Relisa Ningrum

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke dewasa. Masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, dimana remaja berusaha mengetahui siapa dirinya dan apa peranannya di dalam masyarakat. Setiap remaja memerlukan konsep diri yang positif agar seseorang mampu menjadi pribadi yang kokoh, berdiri tegak, tidak mudah tumbang serta goyah menghadapi tantangan kehidupan, tidak mudah terbawa arus lingkungan bahkan dapat bermanfaat bagi sesama. 
      Konsep diri ialah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya (Hurlock, 1999). Sedangkan menurut Erich Fromm dalam Coulhoun (1990), dengan menerima diri sendiri individu dapat menerima orang lain. Cinta pada diri sendiri adalah prasyarat untuk mencintai orang lain. Konsep diri yang positif akan menuntun seseorang untuk bertindak dengan spontan dan memperlakukan orang lain dengan ramah dan hormat. Orang yang berkonsep diri positif dapat menyongsong masa depannya dengan bebas. 

    Rosenberg dalam Pudjijogyanti (1988), konsep diri juga terbentuk karena adanya interaksi seseorang dengan orang disekitarnya. Individu yang berstatus sosial yang tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang berstatus sosial rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang adalah peran orangtua, peranan faktor sosial dan belajar. Peran orangtua remaja sangat penting dalam pembentukan konsep diri remaja. Kurangnya perhatian, pengertian dan tidak terpenuhinya kebutuhan fisik anak, seperti makan, minum, pakaian dan tempat tinggal serta kebutuhan psikologis anak, seperti  rasa aman, kasih sayang dan penerimaan dapat mempengaruhi kepribadian dan pandangan remaja terhadap orangtua mereka.
       Cara agar remaja memiliki konsep diri yang baik dan kuat adalah sebagai berikut:
1. Memahami Tujuan Hidup
“Sesungguhnya Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah/beribadah kepadaKu” Adz Dariyat : 56 

Islam memiliki konsep yang jelas, yakni ada tujuan dibalik setiap penciptaan. 
2. Mengetahui diri kita
   

Menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan diri akan memudahkan kita menyusun rencana hidup. Nilailah diri kita baik dari sisi positif maupun negatifnya. Gali segala potensi-potensi yang dimiliki baik yang berskala besar maupun yang kecil. Bakat, minat, keterampilan dan hal-hal positif lainnya perlu diinventarisir dengan lengkap. Lihatlah dan amati dengan seksama segala kelebihan spesifik yang dimiliki dibandingkan orang lain. Jangan ragu dan malu untuk mengungkapkan kehebatan kita serta mencatatnya.
      Begitu pula kelemahan dan kekurangan yang ada dalam diri kita. Inventarisir semua yang ada baik dengan yang telah menjadi karakter maupun yang akan menimbulkan potensi-potensi negatif kedepannya. Inventaris sisi positif dan negatif diri kita ini juga bisa dilakukan dari sisi orang lain, dengan meminta pendapat atau masukan dari orang-orang di sekitar kita.

Salah satu cara agar remaja lebih mengenal diri, konsep diri, kelebihan dan kekurangan pada diri, maka mahasiswa psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta (11 Desember 2017) mengadakan kegiatan psikologi berbagi dengan tema “Konsep Diri” di SMK Diponegoro Depok. Acara ini merupakan pendampingan siswa yang bertujuan agar siswa dapat memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana membentuk konsep diri yang positif. 

     Antusiasme siswa dalam acara tersebut sangat terlihat dari awal yaitu pada saat menyambut kakak-kakak dari Fakultas Psikologi UP 45 Yogyakarta hingga saat sesi foto bersama di akhir acara. Acara tersebut memberikan wawasan baru bagi siswa untuk lebih mengenal diri sendiri melalui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Dapat juga menggali dan mengembangkan segala kelebihan yang dimiliki serta meminimalisir segala kekurangan pada diri, sehingga diharapkan konsep diri yang positif dapat terbentuk. Pendampingan siswa merupakan salah satu langkah nyata untuk lebih dekat dengan masyarakat, khususnya remaja yang memerlukan perhatian yang lebih di masa perkembangannya sehingga dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik dan penuh tanggung jawab.


Sumber:
Coulhoun, J. F., & Acocella, J. R. (1995). Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan, Satmoko, R. S. (alih bahasa). Semarang : Penerbit IKIP Semarang Press. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/aktualisasi_diri/bab3-konsep_diri.pdf

Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Materi pendampingan siswa tentang Konsep Diri yang dilaksanakan di SMK Diponegoro Depok Yogyakarta. 11 Desember 2017. 

Pudjijogyanti, C. R. (1988). Konsep Diri dalam Pendidikan. Jakarta : Arcan. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/aktualisasi_diri/bab3-konsep_diri.pdf

0 comments:

Post a Comment