15.10.17

PSIKOLOGI AGAMA & KESEHATAN MENTAL; Psikoterapi Dalam Perspektif Agama Islam

PSIKOLOGI AGAMA & KESEHATAN MENTAL; Psikoterapi Dalam Perspektif Agama Islam
oleh : Khoirunnisa Istianah 
Fak. Psikologi Univ. Proklamasi 45 Yogyakarta

          Istilah psikoterapi sudah tidak lazim lagi didengar oleh masyarakat luas. Esensi psikoterapi sebagai suatu bentuk bantuan yang diberikan seseorang (terapis) kepada orang lain yang memiliki problema pada psikologisnya (pasien), bukanlah monopoli dari masyarakat Barat atau modern saja. Berbagai bentuk bantuan yang dimaksud sebenarnya dapat ditemui di setiap kalangan masyarakat dari berbagai macam budaya. Hal tersebut dapat dilihat dari peranan yang dilakukan oleh para tokoh spiritual, sesepuh masyarakat ataupun dukun/ shaman dalam masyarakat tradisional.
            Dalam masyarakat Islam, fungsi sebagai psikoterapis telah banyak diperankan oleh para tokoh agama, ulama atau kyai yang khusus untuk menangani masalah-masalah psikologis pada umumnya. Jadi sebenarnya di masyarakat Islam, praktek psikoterapi telah diterapkan bahkan ada yang dilembagakan, hanya saja kelemahannya bahwa sistem yang digunakan itu sering masih implisit dan belum sistematis.
            Tak dapat dipungkiri bahwa teori dan praktek psikoterapi yang dikenal merupakan produk dari masyarakat Barat, karena jelas memang lahirnya teori serta pendekatan-pendekatan dalam psikoterapi adalah dari kondisi dan situasi serta nilai budaya dari masyarakat Barat. Dari konsep-konsep dasar terapi dapat dikatakan bahwa setiap bentuk pendekatan terapi dalam psikologi senantiasa   dilandasi oleh suatu pandangan tertentu tentang manusia. Seperti dalam buku yang berjudul Psikologi Agama & Kesehatan Mental menjelaskan bahwa  pandangan tersebut sangat berpengaruh terhadap aplikasi praktis yang akan dilaksanakan. Misalnya terapi psikoanalitik yang memandang manusia sebagai makhluk yang banyak dipengaruhi proses-proses ketidak sadaran, pada pendekatan behavioritik yang menekankan pengaruh kognitif dan proses belajar terhadap terbentuknya suatu perilaku, pendekatan humanistik yang memandang manusia sebagai makhluk yang sadar dan memiliki tanggung jawab dan potensi-potensi baik serta meneankan empati, demikian pula pendekatan transpersonal yang menekankan aspek spiritual dalam diri manusia. Maka dari itu, dalam mengembangkan psikoterapi yang berwawasan Islam, sangat penting untuk memahami bagaimana konsep manusia. Sebenarnya telah banyak tokoh-tokoh Islam, baik klasik maupun modern yang telah menjabarkan konsep manusia dalam pandangan Islam dengan bersumber langsung pada Al-Qur’an dan Hadits maupun dari hasil proses pemikiran filosofis.

            Pada nyatanya, konsep – konsep dan praktek psikoterapi dalam dunia Islam tidak hanya bersumber pokok dari Al-Qur’an dan Hadits, namun juga dikembangkan berdasarkan pada haisl-hasil pemikiran, pendapat dan perenungan para ulama maupun filosof muslim. Meskipun terkadang pendapat dan konsep tersebut tidak tercantum dalil Qur’an dan hadits secara jelas, namun mengingat bahwa konsep dan praktek psikoterapi Islam ini merupakan “ilmu pengetahuan” umat Islam yang diperoleh melalui pengamatan dan perenungan serta pengalaman, maka akan sangat bijak jika teori-teori dan konsep meupun teknik-tekniknya dipandang dari perspektif ‘keilmuan’ dan bukan ‘keagamaan’.

Sumber : Subandi, M.A. (2013). Psikologi Agama & Kesehatan Mental. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

0 comments:

Post a Comment