30.10.17

ARTIKEL: KASUS BUNUH DIRI MENINGKAT

KASUS BUNUH DIRI MENINGKAT

WAHYU RELISA NINGRUM
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


    Bunuh diri dilakukan karena pelaku mengalami obsesif kompulsif atau pikiran negatif yang berulang ulang. Misalnya sakit menahun atau memiliki hutang yang tidak terbayarkan. Alasannya adalah pelaku tidak menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi, ditambah dengan beban pikiran yang terlalu berat, akhirnya muncul pemikiran dalam benak pelaku untuk bunuh diri. Pelaku menganggap bahwa dengan bunuh diri masalahnya dapat terselesaikan atau yang dikenal di Gunungkidul dengan istilah “Pulung Gantung”
     Koentjoro mengatakan, seseorang yang telah mengalami pulung gantung akan selalu berusaha untuk bunuh diri. Jika hari tertentu gagal maka akan mencoba bunuh diri di hari berikutnya sampai keesokan harinya ditemukan orang tersebut telah gantung diri. Orang yang telah putus asa akan mencari pembenaran untuk melakukan bunuh diri, yaitu dengan mengkaitkan tanda-tanda alam seperti melihat cahaya di langit atau mendengar sebuah bisikan.
Menurut Koentjoro, penyebab utama orang nekat bunuh diri karena minimnya pemahaman tentang agama. Agama jelas-jelas melarang perbuatan bunuh diri dan diancam dengan siksa yang sangat berat. 
       Data menjelaskan bahwa di tahun 2017 telah tercatat korban bunuh diri di Gunungkidul sejumlah 29 orang. Kasus bunuh diri (suicide) tahun ini tercatat mencapai rekor tertinggi dalam dua dekade terakhir. 
    Lebih jelasnya bahwa obsesif kompulsif ialah hal-hal yang harus dilakukan walaupun ketika seseorang tersebut tidak ingin melakukannya. Pikiran dan desakan untuk melakukan sesuatu perilaku ritualistik akan memenuhi benaknya sepanjang waktu. Faktor-faktor penyebab obsesif kompulsif diantaranya, konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan dan trauma mental emosional, yaitu pengalaman masa lalu (masa kecil). Orang yang bergangguan obsesif kompulsif menjadi sangat cemas bila mereka mencoba menahan kompulsinya dan merasa lega begitu tindakannya dilakukan. 
      Perilaku bunuh diri juga bisa disebabkan karena seseorang mengalami frustasi. Frustasi ini timbul karena tingkat agresivitas seseorang yang berbeda-beda. Dalam situasi frustasi, biasanya seseorang akan tampak gelisah, tidak senang, menggerutu, resah dan mengeluh. Agresivitas, kadang-kadang diekspresikan secara langsung terhadap orang atau benda sumber frustasi. Ketika uang dan pekerjaaan sulit diperoleh, orang cenderung menimpakan kesulitannya pada sejumlah kelompok minoritas yang relatif tidak memiliki kekuasaan. 
   Terapi untuk penderita obsesif kompulsif ialah psikoterapi suportif, penjelasan dan pendidikan, serta terapi perilaku. Dibutuhkan peran para pemuka agama untuk lebih meningkatkan pembinaan umat melalui pengajian-pengajian. Selain itu perlu membentuk Satuan Tugas Berani Hidup. Hargailah hidupmu sebelum maut menjemput. Karena penyesalan akan selalu datang diakhir.


Sumber:

Anonim. (2017). Kasus Bunuh Diri Meningkat. Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta. (1, 7).
Dharma, A. & Taufiq, N. (1993). Pengantar Psikologi. Penerbit Erlangga. Jakarta. (58-59, 254-256).
Kuntjojo. (2009). Psikologi Abnormal. Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Nusantara PGRI Kediri. (21-22). 

0 comments:

Post a Comment