15.10.17

Aliran Ketiga Psikologi

ALIRAN KETIGA PSIKOLOGI
Ana Istiqomah
16.310.410.1126

Fakultas Psikologi



Psikologi Humanistik lahir sebagai alternatif dari dua aliran kuat, yakni Freudianisme dan Behaviorisme. Teori ini tercipta akibat pemberontakan Maslow akan psikologi yang objektivistik dan Freudianisme yang ortodoks. Psikologi humanistik lebih memusatkan perhatiannya pada “humanisasi” psikologi, yang menekankan pada keunikan manusia.
Teori Maslow bukanlah suatu bentuk penolakan sepenuhnya akan teori behavioral maupun Freudian. Akan tetapi, lebih merupakan suatu usaha menelaah segi-segi yang bermanfaat, bermakna, dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan pada kedua aliran psikologi tersebut.
Mengenai Freudianisme, Maslow keberatan atas sikap Freud yang memusatkan konsentrasinya pada penyelidikan-penyelidikan tentang orang-orang yang mengalami gangguan mental, tanpa diimbangi dengan penyelidikan tentang orang-orang yang sehat mental. Maslow sendiri memiliki keyakinan bahwa orang tidak akan memahami penyakit mental sebelum orang itu paham akan kesehatan mental. Sedangkan berbagai sifat positif dalam tingkah laku manusia telah diabaikan oleh para ilmuwan yang sibuk berkutat pada hal-hal negatif yang menjadi objek penelitiannya.
Dikutip dari buku Mazhab Ketiga, Maslow menyatakan bahwa apabila kita terlampau asyik dengan orang-orang yang tidak waras, para psikopat, para penjahat, anak-anak delinkuen, para penderita lemah mental, maka harapan kita terhadap kemanusiaan kian lama akan kian sederhana, kian ‘realistik’, kian merosot; makin sedikit melulu yang kita dapatkan dari manusia. Menjadi makin jelas kiranya bahwa studi tentang sekelompok kecil orang yang lumpuh, orang yang terhambat perkembangannya, orang yang tidak masak dan orang-orang yang tidak sehat hanya akan melahirkan sebuah psikologi yang buntung dan sebuah filsafat yang juga buntung. Studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya mutlak menjadi fundasi bagi sebuah ilmu psikologi yang lebih semesta. (hlm. 34) Maslow berkeyakinan bahwa manusia haruslah diselidiki sebagai suatu totalitas, sebagai suatu sistem. Karena manusia adalah makhluk yang kreatif, bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran, melainkan oleh nilai-nilai dan pilihannya sendiri.
 Sedangkan di sisi kaum Behavioris, mereka cenderung menyelidiki rata-rata orang pada umumnya, dengan mengagungkan metode-metode statistik. Kaum Behavioris lebih suka menyelidiki apa yang ‘ada’ ketimbang ‘apa yang seharusnya ada’ ataupun ‘apa yang mungkin ada’. Studi yang serba rata-rata ini menghasilkan konsep ‘pribadi yang berpenyesuaian baik’, melainkan ‘kepribadian yang berkembang baik’. Kesimpulan Maslow, dari bermacam-macam behavioris, menghasilkan suatu gambaran mengenai manusia bahwa manusia hanyalah makhluk pasif tanpa daya yang tak kuasa berbicara mengenai nasibnya sendiri. Dikutip dari ucapan Maslow pada suatu wawancara, “...saya ingin menegaskan bahwa seseorang yang mempunyai anak tidak mungkin menjadi seorang Behavioris.” Hal ini sekaligus menyatakan betapa kompleksnya manusia dan betapa piciknya behavioris bila hanya menjadikan manusia sebagai objek yang tanpa daya dan hanya dipengaruhi oleh lingkungan tanpa dapat menentukan nasibnya sendiri.
Maslow berpendapat bahwa psikologi haruslah lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi juga harus mempelajari kedalaman sifat-sifat manusia, selain mempelajari perilaku yang tampak, juga mempelajari perilaku yang tidak tampak; mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran; instrospeksi sebagai suatu metode penelitian yang sudah disingkirkan, harus dikembalikan sebagai metode penelitian psikologi. Psikologi harus mempelajari manusia bukan hanya sebagai makhluk yang pasif, yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang aktif yang dapat menentukan geraknya sendiri, ada kekuatan dari dalam untuk mendorong perilakunya.  
Dari uraian di atas, menurut saya teori Maslow merupakan teori yang paling rasional diantara kedua teori lainnya. Mempelajari manusia tidak dapat dilakukan hanya sebagian-sebagian saja, karena pada dasarnya manusia adalah suatu kesatuan yang kompleks. Manusia tidak dapat disamakan dengan binatang, meskipun sebagain perilaku binatang memiliki persamaan dengan perilaku manusia. Namun jangan lupakan bahwa manusia memiliki nilai-nilai yang tidak dimiliki oleh binatang.    

Referensi

Goble, Frank G. (2002). Mazhab Ketiga “Psikologi Humanistik Abraham Maslow”. Yogyakarta: Kanisius. 

0 comments:

Post a Comment