10.6.17

Review Jurnal : REHABILITASI SOSIAL GELANDANGAN PSIKOTIK BERBASIS MASYARAKAT (Studi Kasusdi Ponpes/Panti REHSOS Nurusslam Sayung Demak)

Review Jurnal : REHABILITASI SOSIAL GELANDANGAN PSIKOTIK BERBASIS MASYARAKAT (Studi Kasusdi Ponpes/Panti REHSOS Nurusslam Sayung Demak)
Siti Asmaul Husna
153104101111
Psikologi Abnormal
Telah banyak penelitin yang mengkaji masalah gelandangan, dan melakukan usaha-usaha yang bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, apabila ditelusuri lebih jauh ternyata setiap perlakuan (treatment) terhadap gelandangan, baik itu disebut penanggulangan, pemberian bantuan, santunan, maupun perlakuanperlakuan yang lain perlu dilandasi informasi yang relevan dan akurat mengenai ciri-ciri gelandangan tersebut, agar perlakuan itu sesuai dengan yang diberi perlakuan dan memberi hasil seperti yang diharapkan. Dalam usaha pemahaman ini pendekatan komprehensif akan sangat besar kontribusinya dalam hal pemahaman terhadap tata nilai yang ada pada para gelandangan. Mengingat permasalahan gelandangan merupakan permasalahan yang kompleks yang mencakup berbagai sektor, maka penanggulangan gelandangan memerlukan pendekatan komprehensif dan terintegratif agar tepat sasaran dan tidak tumpang tindih.
Rehabilitasi merupakan upaya pemulihan yang diberikan kepada klien dari gangguan kondisi fisik, psikis, dan sosial, agar dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Menurut Peraturan Pemerintah No.36/1980, tentang Usaha Kesejahteraan Sosial bagi Penderita Cacat, menyebutkan bahwa rehabilitasi didefinisikan sebagai suatu proses refungsionalisasi dan pengembangan untuk memungkinkan penderita cacat mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Ditinjau dari sifat pelayanan, pada umumnya fungsi rehabilitasi yang diberikan kepada klien adalah untuk pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif), pemulihan/pengembalian (rehabilitatif), dan pemeliharaan/penjagaan (promotive), dan penunjang program-program pemerintah. Sedangkan ditinjau dari bidang pelayanan, rehabilitasi berfungsi sebagai bimbingan spiritual keagamaan, bimbingan sosial, bimbingan psikologis, medik dan keterampilan. Demikian pula dengan bidang pelayanan rehabilitasi dapat digolongkan menjadi tiga bidang, yaitu bidang kesehatan/medik, bidang sosial psikologi, dan bidang kekaryaan/keterampilan. Layanan rehabilitasi sosial terhadap gelandangan berarti upaya pemulihan yang diberikan kepada orangorang yang hidup dalam keadaan yang tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum (PP No. 31 tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis).
Psikotik (sakit jiwa) adalah bentuk disorder mental atau kegalauan jiwa yang dicirikan dengan adanya disintegrasi kepribadian dan terputusnya hubungan jiwa dengan realitas (Kartono, 1981: 115). Seseorang dikatakan sakit jiwa apabila ia tidak mampu lagi berfungsi secara wajar dalam kehidupan sehari-harinya, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, atau di lingkungan sosialnya (Hawari, 1997: 2). Ciri yang menonjol dari sakit jiwa adalah tingkah laku yang menyolok, berlebih-lebihan pada seseorang sehingga menimbulkan kesan aneh, janggal dan berbahaya bagi orang lain. Pada umumnya apa yang disebut pasien jiwa sebenarnya menderita emotional mal adjustment, yaitu orang-orang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami masalah secara realistis (Soejono, 1982: 184).
Hasil rehabilitasi sosial gelandangan psikotik secara komprehensip meliputi : bimbingan sosial, medik, herbal, fisik, rekreatif dan pemberdayaan di bidang ekonomis produktif dengan terapi religius model pondok pesantren lebih manusiawi, karena memandang manusia secara utuh meliputi : fisik, mental maupun sosial, berdampak positif pada upaya secara langsung menghilangkan stigma masyarakat, sehingga tingkat kambuh relatif kecil; 3. Tingkat penyembuhan lebih optimal, terlebih-lebih setelah difasilitasi Hydrotherapy by shower lebih efektif dan efisien. Karena terdapat kenaikan jangkauan pelayanan dari model manual hanya bisa melayani 30 orang per malam dengan 3 shower bisa menjadi 90 orang ( 300 % ) per malam. Penggunaan Hydrotherapy by shower dapat merangsang kesadaran syaraf sensoris, sehingga klien dapat mudah tidur dan selanjutnya merangsang tingkat kesadaran diri yang tinggi yang berdampak positif untuk mudah disembuhkan. Kendala yang ditemui, di samping belum dimilikinya tenaga yang kompeten/profesional juga keterbatasan kemampuan memfasilitasi Hydrotheraphy by shower yang lebih banyak, agar bisa dipergunakan untuk memandikan seluruh klien dalam satu malam, maka hasil yang dicapai belum maksimal. Gambaran ideal apabila fasilitasi Hydrotherapy by shower dapat sesuai rasio kemampuan pelayanan, maka tingkat kesembuhan gelandangan psikotik akan semakin bertambah besar.

Sumber : Karnadi & Kundarto Al Sadiman. Jurnal at-Taqaddum.  MODEL REHABILITASI SOSIAL GELANDANGAN PSIKOTIK BERBASIS MASYARAKAT (Studi Kasusdi Ponpes/Panti REHSOS Nurusslam Sayung Demak) Volume 6, Nomor 2, Nopember 2014

0 comments:

Post a Comment