8.6.17

REVIEW JURNAL: HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DENGAN IDE BUNUH DIRI PADA REMAJA DENGAN ORANGTUA YANG BERCERAI

REVIEW JURNAL: HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DENGAN IDE BUNUH DIRI PADA REMAJA DENGAN ORANGTUA YANG BERCERAI
Wahyu Relisa Ningrum
15.310.410.1087
Psikologi Abnormal


        Perceraian merupakan salah satu langkah yang diambil orangtua untuk menyelesaikan masalah kedua belah pihak. Tentunya ada dampak yang dapat ditimbulkan baik positif dan negatifnya, tergantung dari sisi mana menilai. Anak merupakan bagian dari keluarga yang terkena dampak dari perceraian tersebut. Secara psikologis, remaja yang berasal dari keluarga bercerai jauh lebih mungkin mengalami masalah emosi seperti kesepian (Yuliawati, Setiawan, & Mulya, 2007 dalam Dewi, L.A.K & Hamidah, 2013), namun belum tentu semuanya mengalami kesepian ataupun muncul ide bunuh diri. 
     Kesepian merupakan suatu kondisi subjektif yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, tertekan, dan membuat orang menjadi kontra produktif dalam segala aspek kehidupannya (Erikson, 1968 dalam Santrock, 2003 dalam Dewi, L.A.K & Hamidah, 2013). Bunuh diri sendiri didalamnya terdapat tahapan ide bunuh diri yang merupakan sebuah proses yang dilalui tanpa melakukan aksi atau tindakan, dimana seseorang tidak akan mengungkapkan pikirannya untuk bunuh diri apabila tidak ditekan (Captain, 2008 dalam Dewi, L.A.K & Hamidah, 2013). Sekitar 90 persen orang yang meninggal karena bunuh diri sebenarnya menderita penyakit kejiwaan. Penyebab tersering gangguan jiwa itu adalah depresi. Depresi bukanlah perasaan stres atau sedih biasa, namun perasaan yang tidak bahagia dan merasa tak punya harapan. Kondisi ini akan diikuti oleh berbagai gejala klinis (Anna, L.K, 2017).
      Remaja dalam keluarga yang bercerai lebih menunjukkan masalah penyesuaian dibandingkan dengan remaja dalam keluarga utuh. Tahun pertama setelah perceraian, kualitas pengasuhan orangtua terhadap remaja seringkali buruk. Orangtua kelihatan lebih sibuk dengan kebutuhan dan penyesuaian mereka sendiri. Orangtua menjadi kurang dekat dengan anaknya, meski banyak waktu tersedia untuk itu. Remajapun berkembang tidak stabil terutama ketika bergaul dengan teman-temannya. Pengaruh ini dapat terus berlanjut sampai mereka dewasa dan dapat mengganggu interaksi sosialnya sampai mereka dewasa (Dagun, 1990 dalam Dewi, L.A.K & Hamidah, 2013). 
       Ide bunuh diri kemungkinan dapat muncul apabila remaja mengalami perasaan kesepian disertai dengan depresi, ketidakberdayaan, atau kondisi psikopatologis lainnya.  Ada pula remaja yang justru mengalami perubahan positif setelah terjadinya perceraian pada orangtua mereka, yaitu menjadi pribadi yang lebih mandiri, tegar, lebih rajin beribadah, lebih patuh dengan orangtua, dan bahkan ada remaja yang tidak mengalami perubahan apapun pasca perceraian orangtuanya. Tidak adanya hubungan antara kesepian dengan ide bunuh diri dapat disebabkan oleh perbedaan setting budaya dan nilai budaya yang ada di Indonesia. Di Indonesia, masih adanya sanak saudara dari keluarga yang bercerai sehingga anak belum tentu mengalami kesepian atau bahkan muncul ide bunuh diri. Keimanan dan ketaqwaan masing-masing remaja, selalu berpikiran positif dan mengisi kegiatan dengan hal-hal yang positif serta bergaul dengan teman-teman yang mendatangkan dampak positif dapat menghindarkan individu dari perasaan kesepian apalagi muncul ide bunuh diri.

Daftar Pustaka: 

Anna, Lucia, Kus. (2017). Pemicu Utama bunuh diri adalah Depresi, Kenali Gejalanya!. Kompas Health. http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/03/pemicu-utama-bunuh-diri-adalah-depresi-kenali-gejalanya. Diakses tanggal 3 Juni 2017. 

Dewi, Lita, A. K., & Hamidah. (2013). Hubungan Antara Kesepian Dengan Ide Bunuh Diri Pada Remaja Dengan Orangtua Yang Bercerai. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental. Vol.02, No.03, Desember 2013. https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj0_r-5uKTUAhWKPo8KHfO7D7UQFggiMAA&url=http%3A%2F%2Fjournal.unair.ac.id%2Fdownload-fullpapers-jpkk60c4d11a8cfull.pdf&usg=AFQjCNFn7ZmtMRBEwONBrF6DMnkssKX8bg&sig2=rcqMQ_uo55D5R0Oa_uQqWg. Diakses tanggal 3 Juni 2017. 

0 comments:

Post a Comment