10.6.17

Review jurnal : Cognitive Behaviour Therapy pada Bipolar Disorder

Review jurnal : Cognitive Behaviour Therapy pada Bipolar Disorder
Siti Asmaul Husna
153104101111
Psikologi Abnormal
Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem berupa mania dan depresi, karena itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive. Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang berlebihan tanpa pola atau waktu yang pasti.
Gangguan mood adalah bagian integral dari psikologi klinis. Terdapat dua jenis gangguan mood yaitu mania dan depresi. Depresi adalah gangguan nomor 2 di dunia yang paling “mematikan”, dan diperkirakan pada 2020 akan menjadi “wabah” diseluruh penjuru dunia. Bunuh diri sebagai akibat dari tidak tertanganinya pasien penderita depresi dengan baik adalah masalah utama dalam kesehatan publik. (Stein, Dan J., 2006). Kasus bunuh diri juga terjadi pada remaja. Bahkan ada kecenderungan meningkat. Ini terlihat dari data World Health Organization (WHO) di tahun 2001 yang menyebutkan bahwa angka bunuh diri akibat depresi di Indonesia sekitar 1,6 – 1,8 orang per 100.000 penduduk, sementara laporan WHO di tahun 2005, 4 tahun kemudian menyebutkan ada sekitar 24 orang dari 100.000 penduduk Indonesia. Data terakhir dari Kementerian Kesehatan RI untuk wilayah Jakarta saja, angka kematian akibat bunuh diri karena depresi mencapai 160 orang per tahun. (Veronica, 2011). Meskipun banyak faktor penyebab depresi ditengarai sebagai penyebabnya, seperti kesulitan ekonomi, masalah keluarga, juga rasa putus asa, penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ghanshyam Pandey beserta timnya dari University of Illinois, Chicago, menemukan bahwa 9 dari 17 remaja yang meninggal akibat bunuh diri memiliki sejarah gangguan mental. Salah satu gangguan mental yang bisa membawa seseorang menuju pada keputusan bunuh diri adalah Bipolar Disorder (BD). (Veronica, 2011).
Mood Chart adalah sebuah grafik yang menunjukkan naik turunnya tingkat suasana hati dari waktu ke waktu. Grafik suasana hati yang sangat berguna dalam memprediksi terjadinya episode mood dan mendokumentasikan respon subjek penelitian terhadap obat-obatan yang diberikan. Mood chart diaplikasikan sejak tanggal 16 April 2012 diisi setiap hari dan dimonitor setiap seminggu sekali.
Selama ini penderita Bipolar Disorder hanya memperoleh terapi farmakologi saja, tanpa adanya terapi pendamping, karena itu dalam penelitiannya menganggap diperlukan terapi pendamping berupa Cognitive Behaviour Therapy dalam hal ini CBT. CBT dipilih karena adanya penelitian terdahulu yang mengatakan bahwa pengobatan psikososial, khususnya CBT, adalah tritmen utama untuk penderita BD utamanya pasien rawat jalan, sebelum era farmakoterapi dan dikenalnya litium dan obat penstabil mood yang lain. CBT yang diterapkan adalah dengan penggunaan mood chart guna mengurangi frekuensi kekambuhan/hospitalisasi, selain itu peneliti juga ingin mengetahui adakah pengaruh intervensi CBT pada penderita BD.
Grafik suasana hati yang sangat berguna dalam memprediksi terjadinya episode mood dan mendokumentasikan respon terhadap obat-obatan yang diberikan. Seperti,
1. Mood chart memaksa penggunanya untuk lebih berfikir tentang kesehatan mental harian dan pemikiran yang sedang dipikirkan kala itu.
2. Mood chart dapat merekam kejadian penting pada saat itu dan bagaimana penggunanya merespon kejadian tersebut. Sebagai contoh, menerima berita buruk, atau promosi jabatan, atau peristiwa lain yang mampu mempengaruhi perubahaan mood
3. Mood chart dapat melacak jam tidur, siklus personal (haid) dan faktor lain yang dapat menjadi pencetus. Sebagai contoh, ketika pengguna mood chart terdeteksi tidur kurang dari 4 jam dan menjadi mudah marah, hal itu bisa jadi sebagai tanda awal dari gejala mania, sementara itu, jika pengguna terdeteksi tidur lebih dari 8 jam, hal itu adalah tanda awal dari gejala depresi.
4. Mood chart dapat merekam penggantian obat yang digunakan oleh penggunanya.
Sedangkan dari data yang dihasilkan penggunaan mood chart cukup efektif digunakan sebagai alat deteksi dini kekambuhan dan perbaikan pada subjek penelitian yang didiagnosis menderita gangguan afektif bipolar (F.31), dengan indikator yang didapatkan dengan menggunakan mood chart adalah data mengenai perkembangan tinggi rendah mood dan energi subjek setiap minggu sehingga kondisi terkini subjek dapat terus dipantau, jam tidur subjek, serta dapat mengetahui ketaatan subjek dalam meminum obat (psikofarmaka).
Sumber : Yosianto, F H. Satiningsih. Karimah, Azimatul. Jurnal Ilmiah. Studi Kualitatif Cognitive Behaviour Therapy pada Bipolar Disorder. Universitas Negeri Surabaya





0 comments:

Post a Comment