6.6.17

Profesor Termuda Yang Luar Biasa



 Profesor Termuda Yang Luar Biasa
    

 IRWANTO
NIM.163104101125
PSIKOLOGI UMUM
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

 
Profesor adalah seorang guru senior, dosen dan/atau peneliti yang biasanya dipekerjakan oleh lembaga-lembaga/institusi pendidikan perguruan tinggi ataupun universitas. Sebagai pakar, profesor umumnya memiliki empat kewajiban tambahan memberi kuliah dan memimpin seminar dalam bidang ilmu yang mereka kuasai baik dalam bidang ilmu murni, sastra, ataupun bidang-bidang yang diterapkan langsung seperti seni rancang (desain), musik, pengobatan, hukum, ataupun bisn. Profesor juga harus melakukan penelitian dalam bidang ilmunya. Selain itu profesor berkewajuban melakukan pengabdian pada masyarakat, termasuk konsultatif (baik dalam bidang pemerintahan ataupun bidang-bidang lainnya secara non-profit). Terakhir profesor melatih para akademisi muda/mahasiswa agar mampu membantu menjadi asisten atau bahkan menggantikannya kelak.

Keseimbangan dari empat fungsi ini sangat bergantung pada institusi, tempat (negara), dan waktu. Sebagai contoh, profesor yang mendedikasikan dirinya secara penuh pada penelitian dan ilmu pengetahuandi universitas-universitas di Amerika Serikat (dan universitas-universitas di negara Eropa) dipromosikan untuk mendapat penghargaan utamanya pada bidang ilmu dari subyek penelitiannya.
“Profesor” dapat pula digunakan (utamanya oleh para pelajar di Amerika) sebagai istilah yang lebih sopan untuk seseorang yang memegang gelar kesarjanaan PhD (S3) dari perguruan tinggi, tanpa memperhatikan tingkatan/rating dari perguruan tinggi tersebut.


Nelson Tansu, Profesor Termuda di Amerika

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah warganegara Indonesia.
Prof Nelson Tansu PhD ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat
menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania
18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut. Ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat  sebagai profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri  Paman Sam, itu. Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru  rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3),  bahkan post doctoral.
Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan  akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal  internasional. Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di  berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam  pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC.  Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering  pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.
Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang  dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics  devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya  melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan.  buku tersebut merupakan buku teks  bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.
Nelson Tansu lahir di Medan, 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.
Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia.
Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk “pulang”. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia. Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika, ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia. Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.
Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia. Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah.
Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore, gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia. Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia. Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk “cari makan”.




Profesor Termuda di Dunia

Alia Sabur masih muda, masih 19 tahun. Namun namanya menghentak kalangan akademisi setelah dinobatkan sebagai profesor termuda oleh Guinness World Record.Dia sekarang menjadi profesor di Konkuk University Korea Selatan. Lahir pada 22 Februari 1989, Alia menjalani masa studinya dengan waktu amat singkat. Dari kelas IV SD, gadis ini langsung melompat ke universitas, dan lulus BA dengan predikat sum cum laude dari Universitas Stony Brook di New York ketika usianya baru 14 tahun.
Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Drexel. Di universitas itu dia mendapatkan gelar master of science dan PhD. Tiga hari menjelang ulang tahun ke-19 Februari lalu, dia resmi menjadi dosen di Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan. Buku Rekor Dunia Guinness menobatkannya sebagai guru besar termuda dalam sejarah. Dia menumbangkan rekor sebelumnya yang dicatat oleh Colin MacLaurin, mahasiswa Isaac Newton, pada tahun 1717.
Masa depan cemerlang terbentang luas di hadapan remaja Northport, New York itu. Tapi dia memilih mengajar. “Saya sangat senang mengajar. Karena di bidang itulah kita bisa membuat perbedaan. Dengan mengajar, kita tidak cuma menunjukkan yang bisa kita lakukan, tapi juga memampukan orang lain untuk membuat perbedaan,” katanya
Alia tidak cuma cemerlang di bidang akademis. Ia sudah tampil memainkan klarinet bersama Rockland Symphony Orchestra pada usia 11. Di bidang musik ini ia sudah mendapat berbagai penghargaan. Seni bela diri juga dikuasainya dengan menyandang sabuk hitam Tae Kwon Do.





Profesor microsoft Termuda

Lavinashree, seorang gadis dari desa Tamil Nadu telah menjadi perempuan termuda yang telah lolos ujian kualifikasi sertifikasi professional dari Microsoft. Ujian Microsoft tersebut biasanya dilakukan untuk tes prosek kerja ke depan yang lebih baik, dan sekaligus untuk mengukur skill problem solving dari masing-masing testee. Dari semua tes, Lavinashree (9) telah melaluinya dengan angka yang sangat bagus. Dengan dinobatkannya Lavinashree sebagai professional muda, maka ia telah membuat rekor baru, dan mematahkan rekor yang pernah diraih Arfa Karim, seorang gadis berusia sepuluh tahun asal Pakistan.
Dr. Kalam adalah scientist yang sangat besar, dan saya ingin menjadi seperti dia ? kata Lavinashree. Lavinashree memang sudah terbiasa membuat rekor dunia. Bakat Lavinashree sudah tampak bahkan ketika usianya baru menginjak tiga tahun. Ketika Lavinashree berusia tiga tahun, ia masuk ke dalam Limca Book of Records atas kemampuannya menceritakan 1330 untaian sajak dari Thirukural, salah satu sajak klasik dari Tamil.
Setelah itu, orang tuanya memutuskan untuk terus mendorong memory anaknya yang sangat luar biasa. Namun, sebelumnya, pengakuan atas kemampuan Lavinashree sangat sulit diakui oleh pihak Microsoft. Ketika kami menemui mereka, laki-laki yang pertama menolak hasil ujian Lavinashree mengatakan bahwa ia terlalu muda. Mereka hanya akan mengakui kemampuannya, hanya jika Lavinashree mampu membuktikan kemampuannya ? ungkap Lavanya, kakak dari Lavinashree.
Namun, akhirnya keajaiban Lavinashree diakui, bahkan oleh banyak pemimpn negara dunia, mulai dari president Tamil Nadu sebelumnya, APJ Abdul Kalam, hingga Prime Minister Manmohan Singh, dan Chief Minister Karunanidhi. Fakta yang ada mulai berlanjut, ketika ayah Lavinashree mengatakan bahwa pemerintah Tamil Nadu telah mengakui kemampuan Lavinashree dan mereka akan mengurus pendidikan bocah tersebut. Mungkin saja, Lavinashree akan menjadi Bill Gatesnya India, suatu saat nanti

0 comments:

Post a Comment