3.6.17

Mengelola Sampah Membangun Sekolah

Mengelola Sampah Membangun Sekolah

Oleh : Hanafi ( 153104101095) Psikologi Lingkunga


Mengembangkan sekolah sekaligus mengelola sampah. Impian itu sudah lama tumbuh dalam diri Syalfitri (50), aktivis perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan. Baru, tahun 2013, gagasan itu terwujud lewat sekolah dan posko kesehatan yang antara lain dibiayai dengan menggunakan sampah.
Syalfitri membangun Taman Kanak-kanak Junjung Birru di sebelah rumahnya di Jalan Demak, Nomor 3, Kelurahan Tuan Kentang, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. Satu ruangan, berukuran 3 meter x 5 meter, menjadi bangunan utama sekolah. Satu ruangan lagi, berukuran 3 meter x 4 meter, adalah garasi mobil yang juga dirancang menjadi ruang kelas.
Ruang kelas dihiasi sejumlah produk kerajinan buatan siswa yang bahannya berasal dari sampah non-organik. Sampah tersebut disulap menjadi berbagai produk kerajinan, seperti tas, aksesori, kotak pensil, dan sejumlah barang lain.
”Semua kerajinan ini dibuat oleh anak didik. Biar mereka dapat membuat karya dari lingkungannya sendiri,” ujar Syalfitri saat ditemui di sekolahnya, Rabu (18/1) pagi.
Hasil karya itu pun dapat digunakan untuk sarana belajar. Contohnya, botol yang dijadikan kotak pensil. Tutup botol yang beraneka warna juga dimanfaatkan siswa untuk menyebutkan nama warna dalam bahasa Inggris. Sejumlah karya lain juga dipajang di galeri di samping halaman depan.
Pagi itu, sekitar 35 siswa TK Junjung Birru sedang menggambar dan mewarnai di kelas. Firliya Firdaus (5), salah satu siswa, serius mewarnai gambar komedi putar yang ada di bukunya. Sesekali ia berdiri ke jendela untuk melihat kondisi di luar kelas atau bermain dengan teman sekelasnya sembari berlari-lari.
Lalu, tiba waktu makan siang. ”Ayo sebelum makan, periksa bawah meja,” ajak Syalfitri kepada anak didiknya. Kalau ada sampah, segera dibuang ke tempatnya. ”Baik, Bu,” jawab anak-anak serentak.
Sebelum makan, satu per satu siswa mengantre untuk mencuci tangan. Firliya masuk dalam barisan. Dapat giliran, ia mencuci tangannya dengan bersih. Semua siswa memang terbiasa membersihkan tangan sebelum makan.
Syalfitri mengatakan, semua guru di TK Junjung Birru memiliki misi untuk mengajarkan siswa hidup sehat dan bersih. Bahkan, ada sejumlah lagu bertemakan kebersihan yang selalu disenandungkan sejak mulai belajar.

Dari proses semacam ini, Syalfitri berharap nilai-nilai yang baik tertanam dalam diri siswa, terutama kesadaran untuk menjaga lingkungan. ”Jika dari dini sudah diajarkan bersih dan mencintai lingkungan, maka ketika anak-anak ini sudah besar, sifat itu akan terbawa,” ujarnya.
Bayar dengan sampah
Tidak sebatas di sekolah, Syalfitri juga mengajak setiap siswa untuk menjaga kebersihan di rumah masing-masing. Mereka diminta untuk membawa sampah dari rumah ke sekolah dan kemudian ditabung. Hasil tabungan sampah selanjutnya akan diakumulasikan untuk meringankan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).
”Ada potongan biaya dari setiap sampah yang dikumpulkan. Bahkan, jika ada siswa yang sering membawa sampah, SPP-nya bisa gratis,” ujarnya.
Syalfitri menerangkan, SPP tetap ada untuk membayar tenaga pengajar di sekolah. Namun, meskipun tergolong murah, masih saja ada orangtua siswa yang tidak mampu membayar. ”Ya, mau diapakan lagi, mereka membayar sesuai dengan kemampuan,” ujarnya.
Ningsih (27), salah satu orangtua murid, mengaku membayar SPP sebesar Rp 60.000 setiap bulan. Namun, ia rutin mengantarkan sampah melalui anaknya yang menjadi siswa di TK tersebut. Dari sana, ia mendapat potongan sampai Rp 20.000 per bulan. ”Selain untuk mengajarkan anak hidup bersih, dengan mengumpulkan sampah, biaya SPP bisa lebih ringan,” katanya.

Ditempat terpisah Adi Supriadi selaku direktur Bank Sampah Eretan, Kecamatan Kandanghaur – Jawa Barat disela sela kesibukannya juga memaparkan 3 program Tabungan sampah, yaitu:
1. Program Tabungan Sampah Sekolah
2. Program tabungan sampah Lebaran
3. Program Tabungan Sampah Baratan

Tiga program tabungan ini sangat diminati oleh para nasabah di wilayah tersebut disbanding yang lain,karena menurut Adi program tersebut sangat sesuai dengan kondisi warga sekitar Bank Sampah, misalnya : Program Tabungan Sampah untuk Sekolah bisa digunakan pada saat anaknya untuk mendaftar masuk sekolah, bayar biaya keperluan sekolah, demikian juga Program tabungan sampah Lebaran, nasabah yang mengambil program ini sudah merencanakan kebutuhan hari raya atau lebaran dengan mengambil hasil tabungannya ketika menjelang Hari Raya Idul fitri. Program tabungan yang cukup unik di sini yaitu Tabungan Baratan artinya hasil tabungan ini diambil pada waktu musim baratan atau lebih dikenal dengan musim paceklik bagi para nelayan kecil, karena yang di maksud baratan disini adalah musim angina barat ombak besar yang mengakibatkan para nelayan tradisional sulit mencari ikan atau bahkan banyak yang tidak berani melaut karena sudah banyak kejadian kapal nelayan yang karam ditelan ombak.


Sumber:
http://binaswadaya.org/bs3/syalfitri-mengelola-sampah-membangun-sekolah/

0 comments:

Post a Comment