10.6.17

MAKNA PERILAKU MINUM OBAT PADA PASIEN HIV/AIDS RAWAT JALAN DI VCT RSUP DR.KARIADI SEMARANG



MAKNA PERILAKU MINUM OBAT PADA PASIEN HIV/AIDS RAWAT JALAN DI VCT RSUP DR.KARIADI SEMARANG

Oleh : Subur Triyono
15.310.410.1119
Psikologi abnormal

 Kasus AIDS (acquired immune deficiency syndrome) di Indonesia menunjukkan peningkatan yang tajam. Istilah lain yang kerap dipertukarkan dengan AIDS adalah HIV (Human Immunodeficiency Virus). Data statistik dari Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Hidup (Dirjen PPM&PL) Departemen Kesehatan RI menyebutkan bahwa sampai akhir maret 2009 sebanyak 6.668 orang mengidap HIV dan 16.964 orang menderita AIDS. Dari jumlah kasus di atas, 3.492 orang atau 20,58% penderita AIDS dinyatakan telah meninggal dunia.
AIDS merupakan kumpulan penyakit yang disebabkan oleh virus yang dinamakan 191 Sari, Dewi, & La Kahija
Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Kaplan, 1999) . Virus tersebut menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia dan sistem saraf (Seligson, 1992). HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang masuk dalam kriteria penyakit kronis. Penyakit kronis merupakan penyakit yang dapat dikontrol perkembangannya, namun tidak dapat disembuhkan, sehingga semua kegiatan pemulihan dapat dilakukan seumur hidup yang membawa dampak besar dalam kehidupan manusia (Sanderson, 2004).
Salah satu akibat dari infeksi HIV adalah kerusakan pada sistem kekebalan tubuh kita. HIV membunuh satu jenis sel darah putih yang disebut sel CD4. Sel ini adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh. Jika jumlah sel ini berkurang, sistem tersebut menjadi terlalu lemah untuk melawan infeksi. Jumlah sel CD4 dapat dihitung melalui tes darah khusus. Agar sistem kekebalan tubuh tetap sehat, perkembangan penyakit dari HIV menjadi AIDS dapat ditahan dengan memakai obat antiretroviral/ARV. ARV bekerja memperlambat reproduksi HIV dan memperpanjang kualitas hidup, dan mencegah terjadinya penyakit otak, bukan untuk mengobati penyakit. Terapi Antiretroviral (ART) menggunakan kombinasi dari beberapa obat. ART hanya berhasil jika dipakai secara patuh, sesuai dengan jadwal yaitu dua kali sehari pada waktu pagi dan malam. Apabila dosis terlupa, keefektifan terapi akan cepat hilang. Beberapa individu akan mengalami efek samping ketika memakai ART, terutama pada minggu-minggu pertama penggunaannya sehingga pengguna ART perlu diawasi oleh dokter yang berpengalaman dengan terapi ini (“Apa terapi antiretroviral itu?,” 2009).
Dalam Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan bagi ODHA (2003) dijelaskan bahwa walaupun ART sudah menjadi kunci dalam penatalaksanaan penyakit HIV, ART memiliki beberapa keterbatasan yaitu: pertama, ART tidak mampu memberantas virus. Terapi ini gagal mengendalikan virus dalam kurang lebih sepertiga pasien pada uji klinis. Virus cepat meningkat kembali setelah berhenti terapi, atau menghentikan salah satu obat dalam kombinasi. Penderita harus melanjutkan terapi seumur hidup agar memperoleh manfaat yang optimal. Keterbatasan ART yang kedua adalah jenis HIV yang resisten sering muncul, terutama jika kepatuhan penderita pada terapi tidak sempurna. Kegagalan lebih mungkin terjadi pada tahap penyakit yang sudah lanjut. Ketiga, penularan HIV melalui perilaku yang berisiko dapat terus terjadi, walaupun viral load tidak terdeteksi. Keempat, Efek samping ART sering terjadi mulai dari yang ringan termasuk anemia, neutropenia, mual, sakit kepala, hepatitis akut, reaksi hipersensitif dan sindrom Stevens Johnson.
Efek samping yang ditimbulkan obat ARV ini dapat menurunkan kondisi kesehatan (Nursalam, 2007). Kasus inilah yang terkadang membuat penderita HIV/AIDS tidak mudah untuk membuat keputusan untuk mau minum obat dan menjalani berbagai pengobatan karena membawa dampak yang besar bagi penderitanya. Meski demikian pada individu-individu tertentu, krisis dan situasi ini justru dapat berfungsi sebagai pendorong untuk terus bertahan hidup menyelesaikan tugas perkembangannya sehingga mau minum obat agar kualitas hidupnya meningkat, walaupun dihadapkan dengan masalah yang berkaitan dengan peran, efek samping obat, kondisi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Minum obat merupakan upaya yang dilakukan penderita sebagai perilaku peran sakit yang bertujuan untuk menjadi sehat dan memperpanjang hidup penderita.
makna meminum obat bagi penderita HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS harus mengalami penderitaan fisik dan psikis dari efek samping dari obat yang 195 Sari, Dewi, & La Kahija
Jurnal Psikologi Undip Vol.13 No.2 Oktober 2014, 190-195

0 comments:

Post a Comment