6.6.17

GAGAL PAHAM



RESENSI ARTIKEL:
GAGAL PAHAM

NAMA: I R W A N T O
NIM. 163104101125

TUGAS MATA KULIAH: PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI UMUM
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Belakangan ini, terutama di media sosial, kita banyak menemukan kata-kata yang sudah lama tidak menjadi default dalam percakapan. Kata-kata kasar seperti dungu, pander, bodoh terasa sudah kuno, dan sudah kurang sesuai dengan budaya yang canggih dan global saat ini. Namun, entah karena hati yang panas ataupun memang kegeraman menghadapi logika atau common sense banyak orang yang tiba-tiba jadi membingungkan, kata-kata itu kemudian muncul ke permukaan.

Ini adalah realitas yang cukup mengejutkan. Dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi dan kesempatan belajar yang semakin meluas, fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Fakta dalam kehidupan nyata, saya sendiri pun sering terjebak pada kesalahan pola piker, yang hamper-hampir masuk kea lam bawah sadar. Tidak terasa lagi. Katakanlah dari pengalaman-pengalaman buruk dengan suku bangsa tertentu, kita sering membuat rangka stereotip, yang semakin hari semakin kita perkuat. Ini membentuk sikap mental kita penuh bias sehingga terkadang kita menjadi tidak obyektif lagi.
Dengan demikian, untuk memperbaikinya, kita perlu bekerja keras, apalagi bila ingin memerangi kebiasaan berpikir yang sudah menahun ini. Repotnya, banyak individu yang tidak mempunyai niat untuk memperbaiki cara pikirnya, dan berkilah bahwa pendapatnya benar adanya. Orang yang demikian, alih-alih bisa menjadi ilmuan andal, bahkan kehidupan social di masyarakatnya pun tidaklah simpatik.
POLA PIKIR DESTRUKTIF: banyak orang yang sulit tersenyum, mereka beranggapan bahwa hal-hal yang terburuk memang terjadi pada dirinya. Mereka mempunyai kebiasaan melihat kepada orang-orang yang lebih beruntung dan lupa melihat ke bawah. Orang-orang seperti ini kemudian terbiasa memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang buruk semata. Begitu berita negative dating, rangkaian pemikiran bernada suram terpicu untuk bergerak. Hal-hal yang mengalir keluar bisa berbentuk gossip politik, kebencian, juga caci maki terhadap golongan tertentu. Dampaknya adalah hidup terasa pahit, berwarna abu-abu dan tak pernah merah muda.
Orang-orang ini pun cepat sekali mengambil kesimpulan. Pria yang sedikit melambai sudah dicap LGBT. Orang yang tiba-tiba sedikit boros, langsung dicap koruptor. Namun, penilaian dan segala dalil yang dibuat biasanya mengandung satu pengecualian, yaitu dirinya sendiri. Tanpa disadari orang-orang ini cenderung mempunyai cirri “the negative psychic”. Hanya karena kemasan, pangkat, atau pun profesinya gejala ini ini tidak begitu terlihat. Contoh Menteri Susi pernah mengatakan bahwa dalam rapat-rapat kita perlu mengurangi kata-kata seharusnya karena hal ini akan menjauhkan kita dari realitas, dan terdorong hanya kepada pendapat-pendapat.
POLA PIKIR MAJU: pada zaman sekarang, kita para generasi yang lebih muda semakin cepat berpikir, berinovasi, dan berkreasi, kita perlu memperbaiki pola pikir yang tidak produktif. Zaman keemasan, di mana kita bisa menikmati hasil pendidikan tanpa berdisiplin menjaga kesehatan pola pikir, sudah berlalu. Pola pikir kita sekarang harus tetapi fit. Kita harus selalu mampu mencerna informasi, baik itu data maupun fakta baru dengan tepat. Untuk mencapai kebugaran ini, kita perlu mengenali kesalahan-kesalahan maupun hambatan-hambatan berpikir kita.
Mawas diri adalah langkah pertama yang sangat baik untuk ditempuh. Langkah selanjutnya adalah sedikit mundur ke belakang dan berupaya keras mempertanyakan kesimpulan, penilaian, maupun asumsi yang kita buat secara kilat. Apakah kesimpulan saya sudah benar? Atau salah.                                                       
             
Hal-hal yang negatif dalam penulisan opini yang berjudul Gagal Paham yaitu dalam opini masih kurang pembahasan mengenai alam bawah sadar dan alam tidak sadar.      

Hal-hal yang positif dalam penulisan opini yang berjudul Gagal Paham yaitu adalah: dalam opini sangat menarik sekali karena tulisannya memberikan suatu gambaran mengenai pola pikir secara detail sekali.
Sumber:
Experd. (2017). Gagal Paham. Kompas, 18 Maret, Halaman 11. 


0 comments:

Post a Comment