6.6.17

DEMOGRAFI: PENDUDUK LANSIA BISA TETAP PRODUKTIF



RESENSI ARTIKEL:
 DEMOGRAFI: PENDUDUK LANSIA BISA

TETAP PRODUKTIF


  NAMA: I R W A N T O
NIM. 163104101125

TUGAS MATA KULIAH: PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI UMUM
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

            Penduduk lanjut usia kerap diposisikan sebagai beban yang harus ditanggung warga usia produktif dalam kajian bonus demografi. Padahal, dengan pendampingan agar tetap sehat dan aktif, warga lansia tak membebani, bahkan bisa menghasilkan pendapatan. Menurut Marzuki Usman, ketua perkumpulan Api Nan Tak Kunjung Padam, lansia perlu mendapat kesempatan berkarya sesuai kemampuan di usianya. “Jangan dikasihani, tapi beri kesibukan”, ucapnya di sela “Gebyar Lansia Radio Republik Indonesia Jakarta 2016”. Hal itu diterapkan di Negara lain, misalnya warga lansia Jepang jadi penerima tamu di restoran dan hotel. Di Indonesia, warga lansia bisa terlibat budi daya tanaman obat tradisional, seperti temulawak, yang hasilnya diserap industri jamu. “Jika berjalan lansia harus hati-hati”, sekali jatuh langsung fatal, ujarnya. Selain warga usia produktif (15-64 tahun), penduduk lansia usia 65 tahun ke atas perlu dihitung berkontribusi dalam pembangunan.
            Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Sonny Harry B. Harmadi, dalam artikel di Kompas, 20 Agustus 2015, menyebutkan, Indonesia masuk periode bonus demokrafi sejak 2012 karena rasio ketergantungan di bawah 50 (setiap 100 penduduk usia produktif menanggung kurang dari 50 warga usia nonproduktif, yakni kelompok lansia dan berusia 0-14 tahun. Puncak bonus demokrafi pada tahun 2028-2031.

            Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Eni Agustina menyatakan, kesehatan warga lansiaperlu rutin dijaga agar produktivitas tak turun. Untuk itu, Kemenkes memfasilitasi pengembangan puskesmasramah lansia dan pos pembinaan terpadu (posbindu) lansia. Namun, penambahan puskesmas ramah lansia tergantung komitmen pemerintah daerah dan kepala puskesmas karena pemda jadi pemilik puskesmas. Di puskesmas ramah lansia, antrean pasien lansia dibedakan dari antrean umum.
            Sementara 86.000 posbindu dikelola warga. Di posbindu lansia, tenaga kesehatan dating setiap bulan guna memeriksa kesehatan fisik dan mental warga lansia. Selain itu, tenaga kesehatan dan kepala puskesmas ramah lansia didorong memberdayakan warga lansia, misalnya budidaya tanaman obat dan pembuatan kerajinan tangan. Ada posbindu di Tangerang dan Bandung yang membuka kesempatan lansia mengajar perilaku di pendidikan anak usia dini (PAUD). Untuk itu, pemda didorong untuk menerbitkan peraturan daerah yang menjamin lansia hidup nyaman, lengkap dengan fasilitas ramah lansia.             

Hal-hal yang negatif dalam penulisan opini yang berjudul demokrafi penduduk lansia bisa tetap produktif yaitu kurang fokus pada pembahasan penduduk lansia, karena kebanyakan yang dibahas hanya rencana-rencana untuk memberikan pelayanan penduduk lansia supaya bisa tetap hidup produktif. Penanganan penduduk lansia belum di jelaskan begitu mendalam mengenai usaha-usaha para perangkat warga sehingga penduduk lansia di berikan suatu ruang untuk memberikan kenyamanan mengenai dirinya sendiri.       

Hal-hal yang positif dalam penulisan opini yang berjudul demokrafi penduduk lansia bisa tetap produktif  yaitu adalah:
1.      Ada rencana pemerintah untuk memberikan suatu ruang publik yang menyenangkan untuk penduduk lansia.
2.      Penduduk lansia di berikan suatu tips-tips untuk menjaga kesehatan melalui usaha-usaha dalam pembinaan terpadu (posbindu) lansia di masing-masing daerah.
3.      Memberikan pengarahan mengenai penduduk usia lanjut, untuk mendorong kreativitas lansia agar tetap hidup bahagia.    
  
Sumber:
Jog. (2017). Demokrafi Penduduk Lansia Bisa Tetap Produktif. Kompas, 24 Mei, Halaman 8.
 
  

0 comments:

Post a Comment