15.5.17

JUDUL RESENSI: PENCARIAN ASAL USUL



JUDUL RESENSI:
PENCARIAN ASAL USUL

TUGAS MATA KULIAH: PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI

NAMA: IRWANTO
NIM. 163104101125
 
 
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI UMUM
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
         
          Saroo menulis buku yang mengisahkan pengalamannya saat berusia 5 tahun kehilangan keluarganya di Khandwa, Madhya Pradesh, India. Pada usia semudah itu, Saroo yang berasal dari keluarga miskin kerap ikut kakaknya, Guddu, yang berusia 12 tahun untuk mencari makan. Suatu hari dia mengantuk, kemudian tertidur di gerbong kereta api yang kosong. Saat dia terlelap, keretan api melaju menjauh. Tanpa sadar, dia terpisah dari Guddu. Saroo kecil pun terdampar di stasium Howrah, Kalkutta, 1600 kilometer dari rumahnya.

          Kedua orang tua angkatnya menetap di Hobart, Tasmania. Walaupun menjadi kota tertua kedua di Australia sekaligus kota ke-12 terbesar di benua tersebut, Hobart bukan kota dengan jutaan penduduk. Populasi kota ini relatif kecil, sekitar 200.000 jiwa. Kota yang indah, nyaman dan aman. Sangat cocok untuk membesarkan anak, karena alamnya bersih, luas dan memiliki pantai nan cantik. Begitu pula orang-orangnya yang dekat, saling mengenal, tetapi tidak ambil pusing dengan urusan orang lain. Ujar Saroo yang tiba di Australia tahun 1987.
          Ketika usianya merambah ke angka 25 tahun, Saroo mulai bertanya kepada dirinya, hendak menjadi apa dirinya dan apa yang ingin dilakukannya dalam hidup ini. Tiba-tiba saya ada di persimpangan jalan. Kuliah sudah selesai, bekerja juga sudah, lantas apa lagi. Banyak orang pada usia itu memutuskan untuk menikah, kemudian mempunyai anak. Sebagian lagi memutuskan untuk pindah ke kota atau negara lain dan hidup di sana. Apa yang sebenarnya saya inginkan, tanya Saroo gundah. Dia mengakui, keputusannya untuk mencari sang Ibu kandung, Fatima Munshi, bukan datang tiba-tiba. Di bagian terdalam benaknya, selalu ada kenangan akan wajah orang-orang terkasih yang dia tinggalkan di suatu tempat di India.
          Saya ingin tahu asal-usul saya, dari mana saya berasal. Batin ini terus mencari. Saya ingin mengerti diri saya. Pencarian ini penting bagi saya untuk menemukan fondasi hidup dan melanjutkan hidu saya. Tanpa ini, hidup saya mungkin akan penuh pertanyaan yang tak terjawab, ucap Saroo serius. Saroo pun mulai pencarian dengan berbekal ingatan akan rel kereta api. Dia mencari melalui Google Earth dari laptopnya untuk tahu nama kota-kota yang dilalui kereta api. Dia tidak ingat apa nama daerahnya dulu. Dia hanya tahu rel dan daerahnya berawalan B.
          Tak lancar berbahasa Hindia ini pula yang membuat Saroo semasa kecil tak punya banyak kesulitan belajar berbicara dalam bahasa Inggris. Soal makanan pun, Saroo tak terlalu menggemari hidangan khas India. Perut saya malah lebih nyaman dengan masakan Indonesia atau Malaysia yang tidak setajam bumbu masakan India. Saya juga suka terasi, loh, he-he ujar Saroo.

Referensi
Setyorini, I. (18 Maret 2017). Sosok: Pencarian asal usul. Kumpas: Terbit: Hari Sabtu. Halaman 16.                          

0 comments:

Post a Comment