14.4.17

P.U " KUNJUNGAN KE RSJ GRHASIA YOGYAKARTA "

MENGENAL LEBIH DEKAT PENDERITA SCHIZOPHERIA



 Oleh : Ningnurani ( 16.310.410.1146 )
Fakultas  : Psikologi
UP'45 Yogyakarta 


                            Schizophrenia adalah penyakit mental yang menyebabkan orang, sekitar satu dari setiap 100 orang ( 1 % ) mengalami ganguan tersebut dalam masa hidupnya. Hal ini terjadi di setiap negara, setiap kebudayaan, setiap kelompok ras, dan tingkat pendapatan.

                           Schizoperia menyebabkan gejala yang dapat mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat, terutama pekerjaan dan kehidupan sosial. Gejala ini digambarkan sebagai orang yang mirip denagan " bermimpi ketika terjaga ". Gejala lain dapat menyebabkan maslah dengan motivasi, konsentrasi, kesenangan dan kenikmatan.

Gejala schizophrenia adalah :
a. Halusinasi.
b. Delusi.
c. Ganguan pemikiran.
d. Perilaku yang tidak teratur / katatonik.
e. Gejala negatif ( kekurangan energi, tidak tertarik pada kegiatan yang menimbulkan perasaan senang, kekurangan motivasi / emosional ).
                               Menurut hasil observasi dan wawancara saat kunjungan ke RSJ GRHASIA Yogyakarta ( 13/04/2017 ), diperoleh hasil sebagai berikut :
                               Nama responden " S ", kelahiran Kota W. Beliau lahir pada tahun 1948. Dan berdomisili di daerah bernama " T ". Profesi beliau dulunya  adalah sebagai tukang becak yang biasa mangkal dikawasan tempat destinasi wisatawan kota Yogyakarta. Beliau mempunyai seorang istri bernama " ST" dan dikarunia 3 Putri. Putri sulung bapak "S " sudah menikah dengan seorang pengusaha yang mapan. Bapak " S " tanpa di tanya pun, sudah bisa menjelaskan siapa tentang dirinya, dari mana asal nya. Bapak "S " bercerita kalau beliau di bawa ke RSJ GRHASIA oleh menantunya, dengan diantar menggunakan " sebuah mobil yang bagus " katanya.                    
                              Bapak " S " bisa mencerita sesuatu hal secara normal dan masuk logika, bisa ditangkap dengan penalaran yang baik juga.Beliau bercerita tentang kegiatannya selama beliau belum masuk ke RSJ, hobinya, dan alasan kenapa beliau bisa masuk dan dirawat di Grhasia. Beliau bisa berbahasa inggris dengan bagus, banyak menguasai kata - kata /  conversation inggris dengan bagus. Bapak "S " menceritakan kalau beliau adalah orang yang tidak bisa mengontrol emosinya, ketika beliau marah, pasti akan membanting - banting sesuatu, melempar sesuatu dan bahkan sering memukul istrinya. Beliau bisa secara terperinci mencerita  tentang apapun itu yang pernah terjadi dan yang pernah dilalui dalam kehidupannya. Tapi disaat beliau bercerita tentang " Istri dan menantu lelakinya " beliau selalu menangis, terbata - bata dan seolah memendam rasa marah, kejengkelan , rasa sakit hati yang teramat dalam yang beliau rasakan. 
                           Menurut pengamatan selama observasi, bapak " S " adalah pribadi yang introvert, beliau tidak suka bercerita masalah yang dihadapinya dengan siapapun juga. Beliau sering memendam emosi, kemarahan, rasa ketidak berdayaannya, rasa putus asanya, rasa ketidakmampuannya secara terus - menerus di dalam perjalannan kehidupannya.Stressor dari istri yang menginginkan kehidupan yang " layak " adalah bagian yang paling  sangat berat beliau rasakan. Sehingga apabila bapak " S " sudah tidak kuat lagi menahan dan mengendalikan semua stressor - stressor yang beliau hadapi, seketika beliau akan berubah menjadi pribadi yang sangat beda, menjadi seorang yang temperament, dan selalu menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalahnya. Beliau mengatakan " apa yang saya lakukan adalah diluar kendali dan kesadaran saya ".
                          Ketidaksadaran itu  berisi insting,impuls,dan drives yang dibawa sejak lahir,dan pengalaman - pengalaman traumatik ( biasanya pada masa anak - anak ) yang ditekan oleh kesadaran dipindah kedaerah taksadar. Isi / materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari. ( Freud, dalam buku : Psikologi Kepribadian, edisi revisi ,Awisol, taksadar ( unconcious ), hal : 14 )

                         Melihat kenyataan / kasus seperti ini, kita bisa menyimpulkan bahwa orang bisa mengalami " gangguan jiwa " itu ternyata adalah adanya tekanan - tekanan yang justru datang orang - orang terdekat dalam kehidupan kita,dan  dari lingkungan kita, serta label " gangguan jiwa " yang diberikan oleh orang - orang terdekat. Mereka semestinya  menjadi Giver/ pendamping yang baik saat ada seseorang sedang terpuruk didalam kehidupannya, bukan justru  menjerumuskan " orang - orang yang bermasalah" itu kedalam zona ketidak berdayaan, dan pada akhirnya pilihan RSJ adalah solusi bagi keluarga - keluarga itu.

                    Orang dengan penyakit schizopheria bisa sembuh dengan beberapa hal, diantaranya :
* melakukan pengobatan yang efektif.
* belajar untuk mengelola penyakit mereka.
* mengelola emosi.
* memahami tentang penyakitnya dan mengambil peran aktif dalam perawatan penyakitnya, akan membantu proses penyembuhan secara cepat.
* dukungan, motivasi, dari orang - orang terdekat dan lingkungan adalah obat paling utama yang diperlukan oleh orang - orang dengan penyakit seperti ini.

Selalu menjadi pribadi yang bisa memanajemen emosi, dan hati. Bersikap terbuka dan mensyukuri setiap kehidupan yan telah Tuhan berikan, akan menjauhkan diri kita, jiwa kita dari penyakit schizopheria.



Sumber :
http://tirtojiwo.org/wp-content/uploads/2012/06/kuliah-schizophrenia.pdf ( 4/14/2017 : 12//; 28 pm )
( Freud, dalam buku : Psikologi Kepribadian, edisi revisi ,Awisol, taksadar ( unconcious ), hal : 14 )




 

0 comments:

Post a Comment