14.4.17

Mengenal ciri penderita dan prilaku schizophrenia pada pasien RSJ Grhasia



Oleh : Subur Triyono ( 16.310.410.1119 )
Fakultas  : Psikologi
UP'45 Yogyakarta 


                           Untuk menambah pengetahuan dan juga melakukan observasi secara langsung mengenai  ciri dan juga prilaku schizophrenia kamis 13 april 2017 mahasiswa fakultas psikologi universitas proklamasi 45 berkesempatan untuk melakukan observasi dan juga wawancara terhadap pasien RSJ Grhasia. Acara di mulai dengan sambutan dari dosen pembimbing Fx.Wahyu Widiantoro, S.psi.,M.A  yang kemudian di lanjutkan pengenalan profile RSJ  oleh kepala Seksi Litbag Dra.s Retna M.si .
RSJ yang berada di kawasan pakem ini  ternyata sudah ada sejak tahun 1938 dengan nama koloni orang sakit jiwa , yang kemudian pada tahun 2011 dengan SK No.7 tahun 2012 namanya berubah menjadi Rumah Sakit Jiwa Grhasia provinsi Diy .
                        Dengan misi menjadi pusat pelayanan kesehatan jiwa dan napza  paripurna yang berkualitas dan beretika. Rumah sakit ini menjadi rumah sakit jiwa rujukan kelas A di provinsi Diy. Rumah sakit ini juga menerima pasien dengan pembayaran dengan jaminan  kesehatan dari pemerintah ( Bpjs ) , seperti salah satu pasien yang sempat kami wawancara , sebut saja “o” pria yang sudah memasuki usia 21 th ini terpaksa harus di rawat karena 2 minggu terakhir mengalami halusinasi dengan menunjukan prilaku berteriak dan juga berbicara sendiri selang beberapa hari  ayah nya meninggal , menurut nya ada bisikan ghoib yang selelu datang bahwa warga sekitar akan membunuh nya sehingga membuat pasien cemas dan berteriak dan tidak jarang melakukan tindakan pemukulan terhadap benda yang ada di sekitar nya.
                        Namun ternyata bukan pertama kali pria yang pernah bekerja di sebuah usaha percetakan di kawasan Jogjakarta ini di bawa ke RS. Grhasia pada waktu kami wawancara ini merupakan kedua kalinya semenjak di tahun 2012 di nyatakan bisa rawat jalan oleh fihak Rsj namun  pada tahun 2017  timbul gejala yang sama yang informasinya di akibatkan pasien tidak mengkonsumsi obat secara rutin selama 3 bulan berturut turut  pasien di diagnostik mengalami gangguan Skizo Afektif tipe Manik
Dari rekam medis yang sempat di informasikan bahwa ada keluarga yang memiliki kondisi serupa yaitu paman nya , hal ini juga yang di mungkinkan pasien mengalami gangguan jiwa kalo di lihat dari faktor genetic .
                        Dari kondisi yang di lihat pada waktu kita melakukan wawancara pasien sangat menunjukan bahwa pasien sudah bisa di ajak komunikasi dengan baik  hal ini di buktikan ketika kami melakukan konfirmasi ulang kepada fihak perawat yang menangani pasien menginformasikan bahwa “0” kondisinya memang sudah membaik sejak masuk pada 31 maret 2017 bulan lalu , sehingga bisa kami simpulkan bahwa informasi yang kami dapat dari pasien bisa di katakan benar.

0 comments:

Post a Comment