20.4.17

Depresi Pada Remaja


Oleh Nurul Hidayah (153104101104)
Mata Kuliah Psikologi Abnormal

Prevalensi penderita depresi pada  usia remaja menunjukkan peningkatan yang sangat tinggi dibandingkan dengan usia kanak‐kanak dan usia dewasa (Darmayanti, 2008). Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, dan tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davison dkk, 2014). Depresi pada anak-anak sering kali mengakibatkan berbagai keluhan somatik, seperti sakit kepala atau sakit perut (Davison dkk, 2014).
Depresi yang dialami oleh remaja perempuan dan remaja laki-laki berbeda. Kendal & Hammen (dalam Darmayanti, 2008) mengatakan bahwa terjadinya perbedaan depresi diantara remaja perempuan dan laki-laki disebabkan oleh adanya perbedaan dalam cara menghayati dan mengekspresikan gangguan psikologis itu sendiri. Pettersen et al., (dalam Darmayanti, 2008) menyebutkan tiga  faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan gender dalam depresi, pertama karakteristik dari gender itu sendiri, kedua sumber‐sumber untuk mengatasi masalah (coping  resources), dan ketiga kejadian‐kejadian menekan yang dialami remaja laki‐laki dan perempuan.
Hubungan interpersonal remaja dengan orang tua dan lingkungannya di masa kanak-kanak mempengaruhi munculnya depresi pada remaja. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oleh a.l., Billings dkk (dalam Davison dkk, 2014) bahwa berkurangnya dukungan sosial dapat melemahkan kemampuan individu untuk mengatasi berbagai peristiwa hidup yang negatif dan membuatnya rentan terhadap depresi.
Depresi yang terjadi pada remaja juga mempengaruhi hubungan interpersonalnya dengan orang-orang disekitarnya. Perilaku terus-menerus mencari dukungan membuat orang lain merasa terganggu (Joiner dalam Davison dkk, 2014). Karena kepastian bahwa orang lain peduli terhadapnya hanya memuaskan penderita depresi sementara waktu.
Kesimpulannya adalah remaja pada fase perkembangannya belum mencapai kestabilan emosi yang baik. Dibutuhkan pendampingan serta dukungan sosial dari orang tua, guru dan lingkungan sekitar dalam pengolahan emosi remaja. Meskipun depresi cenderung sembuh dengan sendirinya namun episode depresi yang tidak cepat ditangani dapat berlangsung lama. Bahkan dapat berujung pada resiko negatif yang paling dihawatirkan yaitu bunuh diri, mengingat remaja cenderung memiliki kontrol diri yang rendah serta belum tercapainya kematangan berfikir.


Referensi :
Davison, Gerald C., Neale, John M., Kring, Ann M. (2014). Psikologi Abnormal Edisi ke-9. Jakarta. Rajawali Press.

Darmayanti, Nefi. (2008). Meta-Analisis : Gender dan Depresi pada Remaja. Jurnal Psikologi,35(2),164-180, https://jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/download/7950/6148+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=id,diakses 29 Maret 2017

0 comments:

Post a Comment