14.4.17

ARTIKEL : RUANG PUBLIK YANG MENJELMA MENJADI RASA TAKUT DAN KECEMASAN

Siti Hanifah 
(16.310.410.1151)
Psikologi Umum 


              Sebagai manusia sosial tentunya kita tidak terlepas dari ruang publik. Dikotalah kita sering berbagi ruang tersebut. Ruang yang kita persepsikan sebagai sebuah tempat dengan makna dan nilai tertentu. Ditempat – tempat tersebut yang menarik perhatian kita adalah orang yang berulang kali kita lihat, namun tidak secara langsung kita berinterksi dengannya. Orang asing yang sangat kita kenal ini walaupun kita sering men”cuek”kannya, perlahan namun pasti kita menciptakan sebuah perasaan terikat dalam diri kita dan tidak jarang akhirnya kita memiliki hubungan riil dengan mereka.
Orang asing yang kukenal ( familiar stranger) adalah suatu fenomena social yang pertama kali ditunjukkan oleh psikolog Stanley Milgram (1977). Sebagai seorang individu yang kita secara teratur memperhatikannya, tetapi tidak saling berinteraksi. Secara definitif, orang asing haruslah ; (1) mendapatkan perhatian kita, (2) terus menerus, namun (3) tidak berinteraksi. Interaksi yang kita miliki dengan orang asing yang kita kenal ini adalah sebuah interaksi yang nyata dimana kedua belah pihak setuju untuk satu sama lain saling mengabaikan, tanpa perlu menciptakan sikap permusuhan. Sebagai contoh, seseorang yang selalu kita jumpai di halte bus tiap pagi ketika mau pergi ke kantor. Jika sehari saja orang tersebut tidak muncul, kita langsung merasakan ada yang hilang. Kita merasa tidak afdol tanpa kehadiran orang tersebut dan  menjadi kesepian dan terasing di antara orang asing lainnya yang hanya sesekali saja kita temui di halte tersebut. Orang-orang seperti itu sangat kita butuhkan, meskipun kita “mencuekkan” mereka setiap hari. karena kita selalu menjumpai mereka secara teratur dalam sebuah setting yang dikenali, maka mereka pun menciptakan sebuah koneksi dalam pikiran kita dalam mengidentifikasi tempat-tempat tersebut.
         Berbagai permasalahan di zaman modern seperti ini, seperti masalah rumah tangga serta masalah pekerjaan yang semakin kompleks, warga kota lebih cenderung mengunjungi ruang publik baik di luar ruangan maupun dalam ruangan dengan lebih sering sebagai tempat pelarian, dimana orang asing yang kita kenal digunakan untuk mencegah rasa sepi di tengah keramaian ruang publik. Hal tersebut bukanlah suatu hal yang negative, sebaliknya hal penting dari sebuah ruang publik bagi kesehatan mental individu. Warga kota pada hakiktnya sangat tergantung pada kehadiran orang asing. Ketidakhadiran total mereka hampir bisa dipastikan dapat mempunyai efek negatif terhadap kesehatan mental. Sayangnya, meskipun dibutuhkan, mereka tetap saja orang asing dan tidak ada interaksi sosial riil yang terjadi di antara mereka, ruang publik pun terasa semakin menghilang.
                Terasa sangat ironis mengingat ruang publik seharusnya menjadi tempat berinteraksi sosial. Interaksi sosial dari individu dapat mengubah orang asing menjadi sahabat, tetapi faktanya warga kota memperlakukan orang asing sebagai orang asing tanpa adanya interaksi karena perasaan saling curiga dan tingkat individualisme para warga kota yang semakin meningkat di zaman modern seperti saat ini. Ini merupakan sistem mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) warga kota yang jauh lebih sensitif dari pada warga di pedesaan dalam hal melindungi diri mereka terhadap hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa terjadi karena mereka berada di suatu tempat di luar wilayah teritorial mereka, dimana mekanisme itu mengajarkan kita untuk menghormati batas-batas territorial yang ada. Milgram dan Hollander (1964) menyatakan ruang-ruang publik juga bisa menjelma menjadi tempat yang menimbulkan kecemasan dan rasa takut. Karena khawatir akan keselamatan mereka sendiri, warga kota secara psikologis dan emosional menjadi semakin takut sehingga lebih baik bagi mereka untuk menjaga jarak dengan orang asing.
           Dari situ dapat disimpulkan bahwa tingkat kecemasan orang perkotaan dengan orang pedesaan sangat jauh berbeda. Untuk itu, kita sebagai warga desa maupun warga kota hendaknya tetap melakukan interaksi sosial di manapun dan kapanpun kita berada, sehingga orang asing yang tidak kita kenal sekali pun bisa menjadi orang terdekat bagi kita dengan menyingkirkan fikiran negatif, rasa cemas dan rasa takut dari dalam diri kita.

Daftar Pustaka 
 Halim, Deddy Kurniawan.(2008). Psikologi Lingkungan Perkotaan: Orang Asing Yang Kita Kenal. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

0 comments:

Post a Comment