21.4.17

ARTIKEL : RUANG KULIAH YANG RAMAH BERPENGARUH PADA PRESTASI

                                                                       SITI HANIFAH
                                                                     (16.310.410.1151)    
                                                                       Psikologi Sosial          

               Ruang Kuliah Yang Ramah Berpengaruh Pada Prestasi 

             Ruang kuliah perguruan tinggi sering merupakan tempat yang membosankan dan suram. Dinding dicat dengan warna “abu-abu kelembagaan”, meja kursi mudah dibersihkan, tetapi tidak nyaman dan tidak menarik. Kursi diatur berderet lurus menghadap mimbar atau meja guru.
Dalam suatu penelitian (Ferrenkopf, 1947) lebih dari 80 persen mahasiswa di sebuah universitas menilai ruang kuliah mereka secara negative, dengan melukiskannya sebagai tempat yang buruk, sempit, sesak, tidak nyaman, dan sebagainya. Penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi mulai memperlihatkan bahwa ruang kelas yang tidak menarik tidak hanya tidak memiliki daya pikat, tetapi juga mempengaruhi prestasi akademis.
              Dalam penelitian peragaan yang diadakan oleh sommor dan olsen (1980), sebuah ruang kuliah yang kecil diubah menjadi ruang yang oleh sebuah peneliti disebut “ ruang kuliah yang lembut/nyaman.” Sederetan kursi yang dilengkapi dengan alas duduk ditempatkan disekitar dinding, ditambahkan karpet, pencahayaan disesuaikan dengan baik, dan digantungkan gambar-gambar yang cerah. Para mahasiswa memberikan reaksi secara antusias dengan memberikan komentar seperti “ Ini sebuah kejutan.” Atau “Saya sangat terkesan!” Perbandingan perilaku mahasiswa diruang kuliah yang lain  menunjukkan bahwa partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas dua atau tiga kali lebih banyak di dalam ruang yang lebih menarik.
               Penelitian tentang lingkungan ruang kuliah yang dikenali dengan cermat dilakukan oleh wollin dan montage (1981 ). Mereka memilih dua ruang kuliah identik yang terletak bersebelahan di gedung psikologi . Ruang kuliah pengendali, yang mereka sebut “ ruang kuliah yang steril”.” Berdinding putih, memiliki karpet abu-abu”, dan sederetan meja tulis plastik. Ruang kuliah eksperimental, yang mereka sebut “ ruang kuliah yang ramah,” dihias kembali dengan meminta bantuan seorang konsultan desain. Beberapa dinding dicat dengan warna cerah , poster seni digantungkan di dinding, sejumlah tanaman diletakkan di ruang tersebut, dan layang-layang Cina yang berwarna cerah digantungkan dilangit-langit. Selain itu meja tulis tradisionil, sebagian ruangan dilengkapi dengan permadani, alas tempat duduk yang mempunyai warna serasi, dan kubus kayu untuk menyediakan kursi yang tidak tradisional.
             Para peneliti menyelidiki bagaimana kedua lingkungan yang berbeda ini mempengaruhi prestasi dalam perkuliahan yang sebenarnya. Dua professor yang mengajar pengantar psikologi bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, meskipun mereka tidak diberitahu tentang tujuan penelitian tersebut. Ketika masa kuliah dimulai, tiap tingkat ditempatkan secara acak disalah satu dari dua ruang kuliah itu. Pada pertengahan masa kuliah, kedua tingkat tersebut ditukar , sehingga mahasiswa di kedua tingkat itu berada di ruang pengendalian  selama setengah masa kuliah dan di ruang “ramah” selama setengah masa kuliah. Para mahasiswa tersebut tidak diberitahu bahwa mereka sedang diteliti, terjadinya pertukaran kelas dijelaskan sebagai akibat dibutuhkannya ruang yang semula untuk pemutan video
              Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang berada diruang “ramah” secara signifikan prestasinya lebih baik saat ujian dari pada yang berada diruang steril.
Jadi, tampak bahwa lingkungan fisik dapat mempengaruhi jumlah pengetahuan yang dapat dipelajari, setidaknya-tidaknya terukur melalui nilai ujian. Disamping itu mahasiswa juga disuruh mengevaluasi para pengajar mereka. Secara signifikan pengajar dinilai lebih positif bila perkuliahan diadakan di ruang kelas yang menarik. Diruang eksperimental, pengajar dinilai lebih berpengetahuan, lebih menarik perhatian, dan lebih tertib dibandingakan pengajar yang berada di ruang pengendalian. Jadi, penilaian kita tentang orang lain setidak-tidaknya sebagian dipengaruhi oleh lingkungan fisik dimana kita berinteraksi dengan mereka.
Jadi alangkah lebih baik jika kita menciptakan ruang kuliah yang ramah/nyaman. Hal itu tidaklah mustahil bagi kita jika ada eksen yang nyata. Paling tidak jika tidak bisa mewujutkannya selalu jaga ruang kuliah agar tetap kondusif sepeti tidak membuat gaduh ataupun meninggalkan sampah diruang kelas, dan menata kembali meja/kursi. Di mulai dari hal yang kecil yang berdampak pada hal besar. Dari situ mulai tunjukkanlah sikap sosial pada lingkungan kita sendiri

Referensi :

Adryanto. Michael. (1991). Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga. 

0 comments:

Post a Comment