16.4.17

ARTIKEL RSJ GRHASIA : DUKUNGAN DAN KASIH SAYANG KELUARGA ITU YANG UTAMA

   SITI HANIFAH 
(16.310.410.1151)
       
          

             Rumah Sakit Jiwa Grahasia berada di Jalan Kaliurang km.17, Pakem Yogyakarta merupakan satu-satunya rumah sakit yang menangani masalah penyakit syaraf di Yogyakarta. Namun pasien disini tidak hanya penderita penyakit kejiwaan, tetapi juga para penderita penyakit syaraf. Artinya segala gangguan syaraf akan mendapat penanganan yang sesuai di Rumah Sakit ini. Untuk gangguan kejiawaan itu sendiri Rumah Sakit Grahasia pastinya juga menangani kasus skizofrenia.
Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.
          Pengertian dari Halusinasi itu sendiri adalah gangguan persepsi yang membuat seseorang dapat melihat sesuatu atau mendengar suara yang tidak ada sumbernya, bisa berupa halusinasi pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan dan perabaan. (Diagnostic and Statistik Manual of Mental Disorder / DSM-IV TR, 2000). 
Waham atau delusi, yaitu kesalahan dalam menilai diri sendiri, atau keyakinan tentang isi pikirannya padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Atau pernyataan yang telah terpaku / terpancang kuat dan tidak dapat dibenarkan berdasarkan fakta dan kenyataan tetapi tetap dipertahankan. disebut juga kepercayaan yang palsu dan sudah tidak dapat dikoreksi.
       Pada tanggal 13 April 2017 tepat pukul 08.00 kami (Fakultas psikologi UP’45) melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia. Rangkaian demi rangkaian acara dibacakan oleh pembawa acara setelah acara yang pertama yaitu sambutan dari pihak Grhasia dan dilanjukan sambutan dari Universitas Proklamasi Yogyakarta. Acara tersebut diikuti kurang lebih sekitar 50an peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok mengobservasi setiap bangsal yang berbeda.
Saya bersama teman-teman saya memasukki Bangsal Drupadi. Dalam bangsal terdapat 6 Ruang Tidur 1 Ruang Isolasi, Dapur dan Kamar Mandi di setiap ruang tidur. Disana ada 24 Orang yang sedang rawat inap kegiatan yang dilakukan mereka hari itu adalah Senam, Bercerita, Bersih-bersih, Menata ruangan dan Istirahat. Saya mewawancarai salah seorang pasien di bangsal Drupadi yang berinisial “S”. Ibu yang berinisial “S” ini dulunya adalah seorang pegawai dimuseum purbakala namun entah mengapa menjelang mahrib ibu ini katanya ditarik oleh seorang lali-laki gendut, agak pendek, hitam dan kemudian diajak kesini beliau juga sering mendengar suara-suara yang sering membisikkan kata-kata untuk mengajaknya pergi. Beliau selalu menuliskan alamat rumahnya ,alamat kantornya , nomer kakaknya nomer adeknya dan juga menuliskan keinginan beliau untuk pulang dan kemudia beliau simpan dalam kantong baju . Ibu yang berinisial “S” ini mengalami halusinasi. Saat saya tanya apakah ibu yang disampingnya yang berinisial “N” juga melihat suara-suara seperti ibu “S” ini, beliau menjawab tidak.  Setelah saya mau mengajak bersalaman ibu “N” ini menolak alasan beliau menolak adalah karena nanti garis tangan ibu ini hilang. Ternyata beliau mengalami waham yang menganggap nanti kekuatannya hilang jika garis tangannya hilang saat diajak bersalaman.
Tak jauh sari sana saya melihat ada satu orang yang sedang menjalani pembiasaan diruang Isolasi orang ini ditaruh di ruang Isolasi karena berak atau buang air sembarangan, disana beliau dibiasakan untuk pipis dikamar mandi, diruangan Isolasi ini beliau duduk sendiri dipojok ruangan. Diruang tersebut pintu dibiarkan tetap terbuka agar ibu ini bisa leluasa keluar masuk jika ingin pergi makan/minum.
Dari sana juga saya mengamati beberapa orang yang hanya terdiam dan tidak melakukan interaksi dengan satu dan yang lain ada juga yang mengobrol saling bercanda/bergembira, bernyanyi saling bercerita saling berbagi makanan.
       Tak jauh dari situ didalam ruangan saya melihat ada 3 ibu-ibu lansia yang tengah berbaring diatas tempat tidurnya. Dibangsal Drupadi ini merupaka ibu-ibu lansia yang usia diatas 36 tahun. Ada sekitar 12 orang yang sedang melakukan kegiatan rehabilitasi diluar seperti diajari menjahit diajari bercocok tanam dan lain-lain.
Disana saya juga melihat bagaimana mereka bisa bertanggung jawab atas barang pribadi mereka saat petugas bertanya pada beberapa orang disana apakah piring atau gelas sudah dikembalikan pada tempatnya mereka menjawab sudah ditaruh pada tempatnya.
Mereka juga menawari kami makanan ringan seperti kacang, ada ibu-ibu yang sangat hafal dengan beberapa lagu yang dari lirik awal sampe lirik akhir. Dan pertanyaan- yang ditanyakan pada teman yang lain pun sangat logis
yang ditanyakan mereka kepada saya yaitu “ KAPAN PULANG”  tidak hanya 1 orang namun ada lebih dari 2 orang yang bertanya kapan pulang. Saat saya tanya “ kenapa ingin pulang?" mereka menjawab, "ya saya kangen," "coba bayangkan jika mbak dikos atau merantau pasti mabak kangen dengan kampung halaman".
          Yang saya rasakan saat di bangsal tersebut yaitu senang karena itu adalah pengalaman pertama saja berkunjung ke rumah sakit jiwa, saya bisa melihat langsung berbagai penyakit yang diajarkan di kampus tidak hanya secara teori tapi benar-benar secara langsung. 
Dan disitu pula kita diharapkan mampu untuk menerapkan dan implementasikan pelajaran yang didapatkan selama ini.
        Jika kita mempunyai keluarga di Rumah Sakit Jiwa atau di Grhasia sebaiknya kita sering menjenguknya karena bukan hanya obat tentu yang mereka membutuhkan tapi dukungan dan kasih sayang dari keluarga itu yang utama.
Dan jika melihat / mempunyai tetangga rumah yang mengalami gangguan seperti diatas sebaiknya lekas-lekas untuk ditangani bukan dicela/dihina sebagai orang “gila” karna tentu kata-kata tersebut tidaklah pantas. Langsung segera hubungi Rumah Sakit Jiwa terdekat agar segera dilakukan penanganan yang terbaik.  

Referensi:
http://www.alodokter.com/skizofrenia

0 comments:

Post a Comment