22.4.17

ARTIKEL PSIKOLOGI SOSIAL : IDENTITAS REMAJA PENGGUNA JEJARING SOSIAL

                          IDENTITAS REMAJA PENGGUNA JEJARING SOSIAL



NAMA             : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                 : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI SOSIAL


            Perkembangan teknologi informasi berjalan dengan sangat pesat. Saat ini, setiap orang hanya perlu duduk di depan komputernya untuk dapat mengetahui perkembangan dunia yang bermil-mil jauhnya. Tidak hanya itu, setiap orang semakin mudah mengakses informasi hanya dengan mengaktifkan telepon seluler atau i-pad yang telah terkoneksi dengan internet. Media teknologi informasi tidak hanya berfungsi sebagai penyedia informasi saja, namun telah berkembang menjadi sebuah wadah bagi para konsumennya untuk membangun jaringan sosial yang semakin hari semakin terbuka. Dengan kata lain, media teknologi informasi telah menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Fenomena yang paling popular saat ini, berkaitan dengan media teknologi informasi adalah munculnya berbagai situs jejaring sosial yang dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat di seluruh belahan dunia. Situs – situs tersebut memberikan kemudahan bagi para penggunanya untuk untuk mengekpresikan pendapat, perasaan bahkan berbagai ungkapan sifatnya pribadi kepada para pengguna lainnya. Hal ini menunjukan bahwa media teknologi informasi telah memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat global.
Realita yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan internet telah sedemikian pesatnya, sehingga saat ini Indonesia menempati posisi Negara kelima dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia pada tahun 2010 (Maruli, 2010). Disebutkan dalam situs yang sama bahwa angka pertumbuhan pengguna internet pun sangat besar, yaitu sebesar 1.150 persen dalam kurun waktu 2000 hingga 2009.
            Teori identitas sosial yang pertama kali dikemukakan oleh Henry Tajfel pada tahun 1959 merupakan teori dalam kajian Psikologi Sosial yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antar kelompok, proses kelompok dan diri yang sosial. Objek yang diteliti adalah factor sosial dalam persepsi dan aspek keyakinan sosial dan kognitif mengenai rasialisme, prasangka dan diskriminasi. Teori tersebut kemudian dikembangkan oleh John Turner pada tahun 1985 dengan sebutan teori kategorisasi diri (Hogg, Terry dan White, 1995).
Teori identitas sosial berpandangan bahwa manusia tidak hanya bersifat individual melainkan bagian dari domain sosio-kultural yang lebih luas, yang akan mempengaruhi bagaimana mereka memersepsikan dirinya sendiri dan kelompok lain. mempelajari individu tanpa memerhatikan konteks akan menyempitkan pandangan. Identitas sosial merupakan pengetahuan individu dimana individu merasa sebagai bagian dari anggota kelompok yang memiliki kesamaan emosi serta nilai (Tajfel,1982). Identitas sosial juga dapat diartikan sebagai konsepsi diri seseorang sebagai anggota kelompok (Abrams & Hogg, 1990).
Remaja merupakan masa transisi dari masa kanak – kanak ke masa dewasa. Pada masa inilah seseorang berusaha  untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial yang ada di lingkungannya dan menyesuaikan dengan keinginan pribadinya. Apabila ditinjau dari teori perkembangan psikososial dari Erikson, maka pada masa remaja seseorang sedang mengalami konflik identity versus role confusion (Crain, 2000). Pada masa ini, remaja merasakan ketidakpastian mengenai dirinya sendiri sehingga mereka cenderung untuk mengidentifikasi dirinya dengan kelompoknya.
Erikson menyatakan bahwa pembentukan identitas merupakan proses yang sangat bergantung pada ketidaksadaran. Seorang remaja yang memiliki karakter kepribadian  tertentu dapat mengubah identitasnya apabila memasuki sebuah situasi kelompok yang baru (Crain, 2000). Apabila ditinjau dari pembentukan konsep diri, remaja juga masih mengalami fluktuasi. Konsep diri pada remaja belum sepenuhnya stabil, namun sangat bergantung pada situasi yang ada disekitarnya. Dengan bertambahnya usia, maka sifat-sifat yang dimiliki seseorang akan semakin menetap.
            Contohnya adalah fenomena “Sinta dan Jojo”, “Bona Paputungan”, “Udin Sedunia” ataupun “Briptu Norman” yang mengekspresikan dirinya melalui situs Youtube. Fenomena video ini kemudian langsung meluas tidak hanya di kalangan para remaja pengguna internet saja, namun turut mewarnai dunia hiburan di Indonesia. Berita mengenai video-video kreatif tersebut segera meluas ke kalangan masyarakat umum di seluruh Indonesia, bahkan orang-orang yang bersangkutan dalam video tersebut segera menjadi selebriti “dadakan” (Tempo Interaktif, 2011). Hal ini merupakan sebuah bukti betapa besarnya pengaruh media teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
            Internet merupakan hal sangat penting dalam kehidupan remaja saat ini, khususnya penggunaan jejaring sosial. Jejaring sosial  merupakan sarana untuk mengekspresikan diri, sarana mendapatkan popularitas, pengakuan eksistensi diri dari teman sebaya dan telah merupakan sarana membentuk gaya hidup. Proses pembentukan identitas remaja harus memperhatikan dampak positif dan negative dari jejaring sosial agar tidak keliru dalam penggunaan dan pengaplikasiannya.



DAFTAR PUSTAKA :
Avin, F.H., & Yopina, G.P. (2012). Psikologi Untuk Kesejahteraan Masyarakat. Yogyakarta:Pustaka Pelajar,101-105.


0 comments:

Post a Comment