16.4.17

ARTIKEL KUNJUNGAN RSJ : SUATU HARI DI RUMAH SAKIT JIWA

ARTIKEL HASIL KUNJUNGAN RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA


SUATU HARI DI RUMAH SAKIT JIWA

NAMA                  : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                       : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI UMUM 2

                Rumah sakit jiwa adalah rumah sakit yang khusus untuk perawatan gangguan mental serius. Rumah sakit jiwa sangat bervariasi dalam tujuan dan metode. Beberapa rumah sakit mungkin mengkhususkan hanya dalam jangka pendek atau terapi rawat jalan untuk pasien berisiko rendah. Orang lain mungkin mengkhususkan diri dalam perawatan sementara atau permanen dari warga yang sebagai akibat dari gangguan psikologis, memerlukan bantuan rutin, perawatan khusus dan lingkungan yang terkendali. Pasien kadang-kadang dirawat secara sukarela, tetapi itu akan dipraktikan ketika seorang individu dapat menimbulkan bahaya yang signifikan bagi diri mereka sendiri atau orang lain. biasanya pasien diberi obat penenang , dan diberi aktivitas sehari-hari seperti olahraga, membaca, dan rekreasi. Pada masa lalu, pasien yang bertingkah laku bahaya sering diberi perawatan  dengan listrik tegangan tinggi. Sekarang, hal ini dianggap melanggar hak asasi manusia.
                Pada hari Kamis, 13 April 2017 dimulai pukul 08.00 – 12.00 WIB, kami mahasiswa Universitas Proklamasi 45 jurusan Psikologi mengadakan kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia yang berada di jalan Kaliurang km 17 Pakem, Sleman, Yogyakarta. Tujuan kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia adalah untuk mengetahui kegiatan di rumah sakit jiwa (RSJ), menambah pengetahuan dan informasi mengenai penerapan ilmu Psikologi pada gangguan jiwa.
Pengalaman yang saya dapatkan dari Kunjungan ke RSJ Grhasia, saya mendapatkan materi mengenai ranah psikologi di RSJ, yaitu RSJ mempunyai beberapa pelayanan untuk gangguan jiwa, antara lain: Poli Psikologi, Psikometri, Rujukan Psikiater, Pasien Jiwa Rawat Inap, Pasien anak di klinik tumbuh kembang, Pasien Visum, Pasien Geriatri dan Pasien Napza semua dibedakan sesuai penyebab gangguan jiwa. Selain materi ranah psikologi, ada materi mengenai peran psikologi di RSJ, diantaranya Anamnesis, Diagnosis Multiaksial, Intervensi Psikologis, Hasil Pemeriksaan Psikologis, Rujukan dan Contoh Kasus.
Setelah pemberian materi selesai, kami diantar petugas RSJ melakukan observasi kepada pasien gangguan jiwa. Kami dibagi beberapa kelompok untuk mengunjungi salah satu bangsal di RSJ Grhasia. Saya berkesempatan mengunjungi Wisma Sadewa yang pasiennya laki – laki usia lanjut berjumlah 26 orang. ketika saya memasuki ruangan Wisma Sadewa, saya merasa empati melihat kondisi mereka dengan beban masalah yang menimbulkan gangguan jiwa. perilaku – perilaku mereka ada yang marah dan tertawa tanpa sebab, mengurung diri, bicara sendiri, waham, halusinasi dan perilaku aneh lainnya. Saya menghampiri salah satu bapak yang sedang duduk dikursi makan, sebut saja namanya “BS”, saya mengajaknya ngobrol dan mengajukan beberapa pertanyaan. Hasil percakapan kami, ternyata beliau pintar berbahasa inggris dan bela diri. Beliau 4 kali gagal masuk TNI dan akhirnya kondisi mentalnya tidak kuat untuk mengatasi permasalahannya sehingga beliau harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Sekitar 30 menit saya berada di dalam ruang Wisma Sadewa dan banyak kesan yang didapatkan bahwa pasien / penderita gangguan jiwa ternyata masih memiliki sisi positif dalam dirinya. Mereka mempunyai bakat dan kreatifitas luar biasa yang belum bisa dikembangkan dan disalurkan. Penderita gangguan jiwa sangat membutuhkan dukungan moral dan perhatian  dari kita semua untuk dapat sembuh.
                Bagi mahasiswa Psikologi dan saya pribadi berharap setelah kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) bisa lebih serius dalam mempelajari ilmu psikologi. Mengaplikasikan dan menerapkan ilmu psikologi yang kita dapat dan miliki dengan tepat dan sesuai dengan masalah yang dihadapi klien / penderita gangguan jiwa. Banyak penderita gangguan jiwa yang ingin sembuh memerlukan bimbingan dan dukungan penuh dari orang lain dan masyarakat. Membuat kegiatan – kegiatan bermanfaat untuk untuk mendukung kesembuhan mereka. Memberikan motivasi sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan moral dan harga diri penderita gangguan jiwa.
                Kesimpulannya, dimulai dari hal kecil dan sederhana seperti berhenti menggunakan istilah “gila” dalam menyebut orang yang menderita gangguan jiwa, karena itu bisa menyinggung bukan orang tersebut tetapi juga keluarganya. Selain itu, jangan melihat mereka seperti orang aneh yang harus dijauhi tetapi seseorang yang membutuhkan bantuan dengan tidak memusuhi apalagi mengucilkan penderita gangguan jiwa.
Untuk refleksi pribadi , ketika ada masalah belajar menghadapi dengan menenangkan pikiran untuk mengurangi stress, berpikir positif dan optimis, bersikap kreatif agar bisa menemukan jalan keluar dari masalah dan paling penting minta pertolongan dan dekatkan dengan Tuhan agar masalah cepat selesai dan menghindari gangguan jiwa.


DAFTAR PUSTAKA :
Wikipedia. Rumah Sakit Jiwa,  (online), (https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_sakit_jiwa, diakses 16 April 2017).



0 comments:

Post a Comment