14.4.17

ARTIKEL: KRISIS MORAL, KRISIS SUPER EGO?

KRISIS MORAL, KRISIS SUPER EGO?
Ana Istiqomah (16.310.410.1126)
Psikologi Umum II

Seperti yang dapat kita lihat, anak muda jaman sekarang banyak yang mengalami krisis moral. Mulai dari pakaian mereka yang seperti kekurangan bahan, sopan santun yang minim, narkoba, mabuk-mabukan, hingga free sex yang seperti sudah “dimaklumi”. Ironis, terlebih bila kita mendengar quotes semacam: pemuda adalah masa depan bangsa. Baiklah, memang tak semua anak muda berperilaku demikian, dan bagi anak muda yang berperilaku demikian pun pasti ada alasannya.
Dalam dunia psikologi, kita tentu tahu dengan teori Sigmund Freud tentang id, ego, dan super ego. Id merupakan representasi psikis kebutuhan-kebutuhan biologis individu. Pekerjaan ego adalah menghubungkan individu dengan realitas dunia melalui alam sadar yang dia tempati, dan dia mencari objek-objek untuk memuaskan keinginan dan nafsu yang dimunculkan id untuk merepresentasi apa yang dibutuhkan individu. Ego bekerja berdasar prinsip-prinsip realitas. Sedangkan super ego, ia memiliki dua sisi yaitu nurani dan ego ideal. Nurani berasal dari internalisasi hukuman dan peringatan, sedangkan ego ideal berasal dari pujian dan contoh-contoh positif yang diberikan kepada anak-anak.
Jadi, apa korelasi antara id, ego dan super ego dengan perilaku anak muda yang “krisis moral”?
Menurut saya, hal ini berawal dari media massa. Media massa kita lebih banyak mengumbar hal-hal berbau kesenangan ketimbang pendidikan. Seperti contoh di film-film atau novel-novel yang menokohkan seorang badboy, playboy, penyuka clubbing, penyuka berkelahi, penganut aliran free sex is allowed dan semacamnya dengan setting tokoh yang ganteng atau cantik, keren, dan segala-gala hal yang dianggap sempurna di mata konsumen. Atau selain itu, artis-artis yang sering muncul di televisi menggunakan gaun yang sebenarnya “kekurangan bahan” namun malah terlihat “wow”. Karena pada dasarnya manusia menyukai keindahan, dan “keindahan” semacam itulah yang sering diagung-agungkan penikmat kesenangan. Ditunjang dengan konsumsi acara televisi pun media lain yang memberi kesenangan lebih laris dibanding pendidikan.  Maka hal ini menjadi stereotype tersendiri di kalangan anak muda.
Dalam hidup, setiap manusia selalu mengalami proses memilih. Dalam proses inilah perang batin terjadi. Antara id (nafsu dan keinginan) dan super ego.
Keinginan untuk terlihat, diakui, untuk menunjukkan eksistensinya, mendorong anak muda untuk meniru gaya hidup yang dinggapnya keren dan “laku di pasaran”. Namun, di sisi lain, superego menunjukkan kepada ego bahwa ada nilai-nilai moral yang harus ditaati serta  hukuman yang akan menjadi konsekuensi dari tindakan itu. Bagi anak muda yang sedari kecil sudah dididik dengan benar dan paham bahwa setiap konsekuensi dari segala tindakannya akan menimbulkan respon dari dan untuk lingkungannya, ia bisa saja tidak akan menuruti kemauan id tersebut. Namun, sebaliknya, anak yang lebih dominan idnya dan kurangnya referensi si super ego untuk menjaga ego, maka anak tersebut cenderung untuk lebih memilih dorongan id demi menyenangkan si ego. Maka terjadilah fenomena “krisi moral” seperti sekarang ini.
Kurangnya referensi si super ego ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya pendidikan anak yang sedari kecil tak diajarkan mengenai nilai-nilai positif, pujian, hukuman dan sebagainya. Bisa juga hal itu terjadi karena keluarga broken home, sehingga orangtua tak terlalu memperhatikan kondisi dan perkembangan si anak. Atau karena si anak memang terlalu diumbar dalam pergaulannya.
Pada dasarnya, semua kembali pada masing-masing individu. Apakah ia akan memilih untuk selalu mengumbar keinginan dan nafsunya, ataukah ia memilih sadar bahwa hidup tak melulu memburu kesenangan dunia. Pembuktian eksistensi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan prestasi.

Daftar pustaka

Boeree. C. George. (2013). General Psychology: Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi, & Perilaku. Jogjakarta: Prismasophie.  

0 comments:

Post a Comment