22.4.17

ARTIKEL : JEJARING SOSIAL BAGI REMAJA

SITI HANIFAH 
(310.410.1151)
Psikologi Sosial

         Perkembangan teknologi informasi sudah melebihi fungsi awalnya, apalagi dikalangan para remaja yang awalnya hanya berfungsi untuk mengirim pesan. Internet tidak hanya digunakan untuk menambah ilmu pengatahuan namun juga mempengaruhi proses pembentukan identitas remaja. Dalam psikologi masa perkembangan ini disebut sebagai masa badai atau topan.
         Keinginan kuat para remaja untuk menjalin relasi teman sebaya membutuhkan sarana, salah satunya yaitu melalui media sosial. Dijejaring sosial media ini para remaja dapat mengekspresikan diri, sarana mendapatkan popularitas, pengakuan eksistensi diri dari teman sebayanya dan telah menjadi sarana membentuk gaya hidup. Disitulah para remaja mengungkapkan berbagai pemikiran dan perasan yang mereka miliki. Kebutuhan ini mereka sebut sebagai “eksis” (Helmi, Pertiwi, Santoso, 2011). Mereka yang tidak beraktivitas aktif atau tidak memiliki akun jejaring sosial disebut sebagai “ Tidak Eksis”. Mereka yang tergolong “eksis” akan meresa lebih keren. Eksis berati in-grup dan yang tidak eksis berarti Out –grup. Kelompok - kelompok inilah yang menjadi sumber untuk membentuk identitas. Teori identitas sosial menyatakan bahwa remaja yang mengidentifikasi diri dengan kelompok teman sebayanya yang dianggap eksis maka akan semakin menguat ketika bergabung dengan situs jejaring sosial tertentu. Namun pemaknaan kata “eksis”  tentulah berbeda-beda pada setiap individu. Maka setiap remaja akan memilih jejaring sosial media mana yang cocok menurut versinya masig-masing.
        Remaja mendapatkan penguatan melalui in grup favoritism. Artinya, melalui jejaring sosial mereka memperlihatkan perilaku prototipe dari identitas sosialnya. Hal ini semakin memperkuat perasaan dan pikiran anatara in-grup out-grup  dalam bentuk prototip, sehingga proses depersoanalisasi tidak dapat dihindakan lagi. Remaja dipersepsikan bukan sebagai manusia yang unik, namun sebagai individu yang disimbolkan sebagai prototype tertentu. Proses depersonalisasi merupakan jantung dalam mekanisme identitas sosial. Kelempok terbentuk karena kuatnya prototype-prototype yang di yakini oleh masing masing individu anggota kelompok (Hogg & Terry,2000).
            Proses identitas sosial sejatinya adalah proses meleburkan identitas personal kedalam identitas sosial sehingga atribut kelompok terinternalisasi mereka mengidentifikasi atribut-atribut sosial yang memperkuat identitas sosialnya dan juga mencari nilai-nilai kolektif yang mampu menjaga keyakinan mereka terhadap kemampuan kelompoknya. Nilai kolektif tersebut menjadi perangkat bagi perbedaan antar indvidu. Baran (2007) menyebutnya sebagai identitas fiktif, yang digunakan untuk mempertahankan harga diri yang spesifik, yang terikat dengn konteksnya, yaitu relasi sosial didunia maya. Hal ini memunculkan suatu konsep baru mengenai harga diri yang bersifat global. Belum ada istilah baku dalam kajian psikologi. Identitas baru bagi reaja pengguna jejaring sosial “eksis” merupakan sarana untuk meningkatkan harga diri rational dan kontekstual, dan bentuknya utnuk menggantikan identitas personal yang telah terbentuk. Hal ini didasarkan atas teori identitas dari Burke dan Stets (2009) mengenai salah satu peran remaja dalam konteks rasional dalam dunia maya.
Internet merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan remaja saat ini, khususnya penggunaan jejaring sosial, terutama dalam identitas sosialnya menjadi eksis dan tidak eksis. Identitas ini menjadi penting bagi remaja, dan merekapun melakuakan usaha untuk mencapai identitas tersebut, yaitu dengan memiliki akun jejaring sosial dan menggunakan fasilitasnya untuk bersosialisasi dengan orang lain.
        Untuk itu kita sebagai remaja saat ini harus pandai-pandai memilah dan memilih penggunaan jejaring sosial atau penggunaan internet yang bermanfaat. Tau penggunaanya, tau tempat pemakaiannya, tau kapan digunakannya. Karna semakin kita aktif didunia maya kita akan sulit bersosialisasi di dunia nyata.
Referensi :

Febriani, Arum. (2012). Psikologi untuk Kesejahteraan Masyarakat. Pustaka Pelajar:Yogyakarta.

0 comments:

Post a Comment