14.4.17

ARTIKEL: BERILAH ANAK PUJIAN

BERILAH ANAK PUJIAN
Ana Istiqomah (16.310.410.1126)
Psikologi Umum II

Mendidik anak bukanlah suatu hal yang dapat dikatakan sepele. Terlebih bila sudah menyangkut masalah belajar. Pola penanganan yang tidak tepat dapat berdampak buruk bagi perkembangan anak. Karena pada dasarnya, setiap anak memiliki kekhasan sendiri-sendiri dan tentu hal ini mempengaruhi pola belajar mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah menjumpai bahwa anak yang sulit belajar, malas, prestasi rendah, dan susah dinasehati cenderung mendapat kritik yang tak enak didengar. Bahkan dari orangtuanya sendiri pun mendapat kritik yang sama sekali tak membangun, membanding-bandingkan dengan temannya dan semacamnya. Guru di sekolah juga terkadang cenderung mengabaikan anak-anak yang seperti itu.
Seperti yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dalam hierarchy of needsnya, bahwa setiap individu membutuhkan pengakuan, penghargaan diri –terlepas dari apakah individu tersebut mengakuinya atau tidak. Sama halnya dengan anak, mereka pun membutuhkan pengakuan, penghargaan atas apa yang telah mereka capai. Bila mereka gagal, itu adalah hal yang wajar dalam sebuah proses belajar.
Dalam memahami sesuatu, yang paling penting adalah prosesnya. Namun, kebanyakan orang langsung memandang hasilnya. Nah, jika seperti itu bagaimana nasib anak yang memiliki nilai jelek pun malas bila disuruh belajar? Apakah tidak ada hal yang baik yang dapat dilihat dari anak itu?
Belajar, menurut Arthur J. Gates, adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan. Tujuan belajar adalah untuk menambah kualitas diri seseorang. Dalam proses belajar, untuk menjadi tahu dan paham mengenai sesuatu, individu akan melalui tahap yang dinamakan trial and error. Tahap dimana terjadi suatu kesalahan dan mencoba lagi hingga individu mendapatkan pemahaman yang benar. Masalah kegagalan yang anak dapatkan, orangtua haruslah memaklumi hal itu dan memberi nasehat yang tak memberatkan si anak. Penghakiman bukan hal yang bagus untuk perkembangan kepercayaan diri anak.
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa sebuah pujian ternyata memiliki efek yang cukup bagus bagi anak-anak. Kembali pada teori kebutuhan Maslow, bahwa setiap individu membutuhkan pengakuan dan penghargaan diri. Pujian dalam sebuah proses belajar sangat penting. Hal ini dapat mendongkrak kepercayaan diri anak. Dengan pujian juga anak merasa bahwa usahanya diakui dan tak sia-sia. Dengan memberi pujian, secara tidak langsung, orangtua tersebut mengajarkan pada anak akan arti menghargai orang lain.
Wiliam James menulis, “Prinsip terdalam dari kehidupan manusia ialah untuk dihargai.” Saat kita dalam keadaan senang karena dipuji, kita ingin melakukan hal yang lebih baik lagi untuk menyenangkan orang lain. Seorang pengarang sekaligus ahli psikologi sosial, Dr. George W. Crane, berkata, “Seni memuji ialah awal dari seni yang indah tetang menyenangkan orang lain.”
Suatu hari, adik saya menunjukkan pada saya sebuah tulisan dengan angka 100 di samping tulisan tersebut. Saya memujinya, hanya berkata “pinter kamu dek”, dan dia langsung menghilang lagi setelah memamerkan senyum seribu watt-nya. Saya pikir dia pergi bermain, namun ternyata ia pergi mengambil pensil dan bukunya. Lalu belajar. Setiap ia mendapat nilai 100, ia pasti memamerkan pada saya.
Terlalu banyak pujian memang dapat membuat anak besar kepala. Namun, terlalu sedikit pujian juga tak baik, dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri dan harga diri. Dapat dikatakan, nama lain dari pujian adalah motivasi bagi anak. Oleh karena itu, berilah anak pujian. Bila bukan untuk hasil yang mereka dapatkan, setidaknya untuk usaha yang telah mereka lakukan.

Daftar pustaka
Boeree. C. George. (2013). General Psychology: Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi, & Perilaku. Jogjakarta: Prismasophie. 
Muskibin, Imam. (2009). Mengapa Ya Anakku Kok Suka Berbohong...?. Jogjakarta: DIVA Press
Prawira, Purwa Atmaja. (2013). Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

0 comments:

Post a Comment