14.4.17

ARTIKEL: ANAK BUTUH BERMAIN, MAMA

ANAK BUTUH BERMAIN, MAMA
Ana Istiqomah (16.310.410.1126)
Psikologi Umum II

Di era modern ini, persaingan semakin ketat. Menyadari kehidupan yang semakin keras dan tak mudah ini, orangtua menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Mereka mengikutkan anak-anak mereka dalam berbagai les agar tak kalah saing dengan teman-temannya. Bahkan, saking padatnya jadwal les yang anak ikuti, si anak tak memiliki waktu untuk sekadar bermain.
Dalam hidup, manusia melewati tahap-tahap perkembangan. Salah satunya adalah masa anak-anak. Dalam masa ini, tugas mereka diantaranya adalah bermain, bereksplorasi dengan lingkungan, bersosialisasi dengan teman dan sebagainya.
Bermain bagi anak tidak selamanya berdampak buruk bagi perkembangan jiwa anak. Bermain bagi anak adalah suatu pembebasan diri mereka dari berbagai kewajiban dan aturan dari orangtua. Saat bermain, anak dapat mengungkapkan keceriaan mereka, bercerita dan menangkap makna interaksi dengan teman sebayanya. Bermain merupakan proses belajar. Saat bermain, anak belajar bergaul, mendapatkan pengalaman dari lingkungan, mengolah rasa, mengolah kreativitas, belajar menyenangkan orang lain, mengerti nilai-nilai sosial dan lain sebagainya.
Dari beberapa penelitian, bermain bagi anak dengan terkendali dapat mendorong perkembangan anak ke arah yang lebih maju. Imam Al Ghazali berpendapat bahwa bermain bagi anak merupakan sesuatu yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Tindakan melarang anak bermain merupakan tindakan keliru karena dapat mematikan hati anak, mengganggu kecerdasannya dan merusak irama kehidupannya (Ismail, 2006).
Sedikit memprihatinkan bahwa kenyataannya sekarang banyak orangtua yang mejadikan anak mereka “robot” –dengan berbagai program les dan sedikitnya “waktu anak-anak”. Terlebih dengan kecanggihan teknologi yang semakin menunjang “kerobotan” anak. Orangtua lebih “perhatian” dengan nilai-nilai bagus ketimbang prestasi lain diluar kemampuan akademik. Hal ini diperparah dengan standar sekolah elit dan favorit yang dengan bangganya menulis “nilai-nilai bagus” sebagai kriteria penerimaan siswa baru. Tentu saja orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, sehingga mereka mengejar “nilai bagus” agar selalu tercetak di rapor si anak dengan harapan si anak mendapatkan pendidikan yang terbaik. 
Anak dengan kecerdasan kognitif yang sangat bagus cenderung tidak kreatif, hal ini karena kemampuan afektif anak kurang dilatih. Anak yang menghabiskan waktunya untuk belajar, cenderung susah bersosialisasi, dan memungkinkan anak untuk memiliki sifat egois. Bahkan bisa menyebabkan anak frustasi, mudah putus asa, dan kesulitan dalam memecahkan suatu masalah. Sifat-sifat seperti ini akan menumbuhkan generasi yang arogan dan hanya mengandalkan kecerdasan kognitifnya.
Manusia ditakdirkan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial, yang berarti bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalani kehidupannya. Untuk itu, kemampuan bersosialisasi merupakan hal yang sangat penting. Sesuai dengan teori Freud, bahwa pengalaman-pengalaman di masa pertumbuhan sangat mempengaruhi karakter dan kepribadian individu. Dan salah satu dampak bagus dari waktu bermain yang cukup saat anak-anak adalah anak mendapatkan hal akan sangat berguna bagi kehidupan masa depannya –kemampuan bersosialisasi, olah rasa, kreativitas, dll. Jadi, tak ada salahnya bukan memberi anak waktu bermain jika hal itu setimpal dengan keuntungan yang akan sangat berguna di masa depan.

Daftar pustaka
Boeree. C. George. (2013). General Psychology: Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi, & Perilaku. Jogjakarta: Prismasophie. 
Prawira, Purwa Atmaja. (2013). Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

0 comments:

Post a Comment