14.4.17

ARTIKEL: ADOLESCENCE

ADOLESCENCE
Ana Istiqomah (16.310.410.1126)
Psikologi Umum II

Di koran maupun di televisi, kita sering menjumpai berita yang mengabarkan tentang tawuran yang terjadi antar-anak SMA bahkan hingga menyebabkan kematian. Hal itu sering membuat kita tak habis pikir. Sebenarnya, kenapa sih mereka lebih suka main otot daripada main otak?
Masa SMA masuk dalam kategori masa remaja. Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa transisi ini seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan kepada situasi yang membingungkan, disatu sisi ia masih kanak-kanak, namun di sisi lain ia sudah harus bertindak layaknya orang dewasa.
Secara psikologis, remaja adalah masa yang cukup “sibuk”. Secara seksual ia sudah dewasa, namun tidak secara psikologis. Mereka masihlah tetap seorang remaja dengan berbagai tugas perkembangan yang harus mereka lewati dan selesaikan. Di masa ini terjadi lonjakan pertumbuhan yang cukup signifikan. Dari tubuh kecil seorang anak-anak, lalu dengan cepat bertumbuh dan memiliki tubuh layaknya orang dewasa.  
Dalam upayanya untuk mencari identitas diri, tak jarang seorang remaja membantah orangtuanya. Pendapat teman sebaya lebih mereka pertimbangkan ketimbang pendapat orangtuanya. Hal ini karena perasaan senasib yang mereka rasakan. Oleh karena itu, masa remaja dikenal sebagai masa negativistik yang ketiga. Dimasa inilah remaja rentan dengan permasalahan seperti tawuran, free sex, penyalahgunaan narkoba, dan sejenisnya.
Kenakalan remaja sering terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya dari media massa. Media masa kita cenderung mengumbar hal-hal berbau kesenangan ketimbang pendidikan. Misalnya, dalam sebuah sinetron, tokohnya adalah seorang remaja dengan gaya hidup hedonis, pecinta clubbing, penganut aliran sex pranikah is allowed, dan semacamnya. Dari sinetron itu sang tokoh terlihat keren dengan gaya hidupnya itu. Meski masa remaja seharusnya lebih bisa berpikir sebelum meniru (daripada anak kecil), namun terlihat “keren” merupakan ide yang cukup bagus untuknya. Sehingga perilaku-perilaku seperti itu mereka tiru. 
Manusia ditakdirkan menjadi makhluk sosial, yang berarti membutuhkan manusia lain dalam kehidupannya. Menjadi anggota suatu kelompok merupakan penerimaan sosial yang mereka butuhkan pula. Kecenderungan remaja dalam memilih kelompok antara lain karena perasaan senasib, terlebih bila mereka memiliki latar belakang yang tak jauh berbeda –misal sama-sama dari keluarga broken home, persamaan hobi, kesukaan, dan sebagainya. Hal ini cukup riskan bila remaja salah dalam memilih kelompok.
Kesalahan remaja dalam memilih kelompok dapat membawa mereka dalam kasus tawuran. Dengan pertumbuhannya yang cukup signifikan dan menghasilkan tubuh layaknya orang dewasa. Ia merasa sudah besar, merasa lebih kuat, sensitifitasnya pun tinggi, tanpa berpikir matang, siapapun yang berani mengusik egonya, ia akan langsung maju tanpa gentar. Bila bukan dirinya yang terusik, namun temannya, dengan dalih “solidaritas antar-teman”, akhirnya mereka pun maju juga untuk membantu temannya itu. Ini lah yang sering menjadi pemicu tawuran antar-remaja.
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada dirinya, penerimaan sosial adalah hal yang paling penting. Orangtua, di masa ini, tak perlu menjadi seorang “penceramah” yang baik. Yang diperlukan oleh remaja adalah orangtua yang mau mendengarkan keluh kesah mereka, kebingungan mereka, berperan sebagai “teman” mereka.
Pada masa seperti ini, orangtua hendaknya melakukan pengawasan lebih. Terutama dengan pergaulan si anak. Karena sekarang eranya ponsel canggih, perlu juga untuk mengontrol apa saja yang diakses melalui smartphone mereka. Tentunya pendekatan yang dilakukan secara halus dan tanpa menyinggung ego mereka. Karena di masa ini tingkat sensitifitas remaja seperti orang pms.
Daftar pustaka
Boeree. C. George. (2013). General Psychology: Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi, & Perilaku. Jogjakarta: Prismasophie. 
Sarwono, Sarlito W. (2014). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers

0 comments:

Post a Comment