30.3.17

ARTIKEL: TEORI PERAN DALAM PERILAKU PSIKOLOGI SOSIAL

ARTIKEL:  TEORI PERAN DALAM PERILAKU
PSIKOLOGI SOSIAL

Nama: Irwanto
NIM. 16.310.410.1125
Mata Kuliah: Psikologi Sosial 1

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta



Teori Peran (Role Theory) adalah teori yang merupakan perpaduan berbagai teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran berawal dari dan masih tetap digunakan dalam sosiologi dan antropologi. Dalam ketiga bidang ilmu tersebut., istilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam teater, seorang aktor harus bermain sebagai seorang tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berperilaku secara tertentu. Posisi aktor dalam teater (sandiwara) itu kemudian dianalogikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat. Sebagaimana halnya dalam teater, posisi orang dalam masyarakat sama dengan posisi aktor dalam teater, yaitu bahwa perilaku yang diharapkan daripadanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam kaitan dengan adanya orang-orang lain yang berhubungan dengan orang atau aktor tersebut. Dari sudut pandangan inilah disusun teori-teori peran. Sebetulnya cukup banyak teori peran dalam psikologi. Namun, karena keterbatasan tempat, pembicaraan akan dipusatkan pada teori Riddle & Thomas (1966) saja, dengan di sana-sini bilamana perlu akan disinggung pula teori-teori dari penulis-penulis lain secara sepintas. Cooley (1902) & Mead (1934) menyatakan bahwa hubungan aktor-target adalah untuk membentuk identitas aktor (person, self, ego) yang dalam hal ini dipengaruhi oleh penilaian atau sikap orang-orang lain (target) yang telah digeneralisasikan oleh aktor.
Secord & Backman (1964) menyatakan bahwa aktor menempati posisi pusat (vocal position), sedangkan target menempati posisi padanan dari posisi pusat tersebut (counter position). Dengan demikian, maka target berperan sebagai pasangan (partner) bagi aktor. Hal ini terlihat misalnya pada hubungan ibu-anak, suami-istri atau pemimpin-anak buah. Harapan tentang peran adalah harapan-harapan orang lain (pada umumnya) tentang perilaku yang pantas, yang seyogianya ditunjukkan oleh seseorang yang mempunyai peran tertentu. Contoh, masyarakat umum, pasien-pasien, dan orang-orang sebagai individu mempunyai harapan tertentu tentang perilaku yang pantas dan seorang dokter.

Harapan tentang perilaku dokter ini bisa berlaku umum (misalnya, dokter harus menyembuhkan orang sakit) bisa merupakan harapan dari segolongan orang saja (misalnya, golongan yang kurang mampu mengharapkan agar dokter bersikap sosial) dan bisa juga merupakan harapan dari satu orang tertentu (misalnya seorang pasien tertentu mengharapkan dokternya bisa juga memberi nasihat-nasihat tentang persoalan rumah tangganya selain menyembuhkannya dari penyakit). Peran diwujudkan dalam perilaku oleh aktor. Berbeda dari norma, wujud perilaku ini nyata, bukan sekadar harapan. Dan berbeda pula dari norma, perilaku yang nyata ini bervariasi, berbeda-beda dari satu aktor ke aktor yang lain. Misainya, peran ayah seperti yang diharapkan oleh norma adalah mendisiplinkan anaknya. Namun, dalam kenyataannya, ayah yang satu bisa memukul untuk mendisiplinkan anaknya, sedangkan ayah yang lain mungkin hanya menasihati.
Dalam teori peran dipandang normal dan tidak ada batasnya. Persis dalam teater, di mana tidak ada dua aktor yang bisa betul-betul identik dalam membawakan suatu peran tertentu. Bahkan satu aktor bisa berbeda-beda caranya membawakan suatu peran tertentu pada waktu yang berbeda. Oleh karena itu, teori peran tidak cenderung mengklasifikasikan istilah-istilahnya menurut perilaku khusus, melainkan berdasarkan klasifikasinya pada sifat asal dari perilaku dan tujuannya (atau motivasinya). Jadi, wujud perilaku peran dapat digolongkan misal­nya ke dalam jenis hasil kerja, hasil sekolah, hasil olahraga, pendisiplinan anak, pencarian nafkah, pemeliharaan ketertiban, dan sebagainya.
Goffman meninjau perwujudan peran ini dari sudut yang lain. Ia memperkenalkan istilah permukaan (front), yaitu untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu yang diekspresikan secara khusus agar orang lain mengetahui dengan jelas peran si pelaku (aktor). Misalnya, seorang profesor meletakkan rak penuh buku-buku ilmiah di ruang tamunya. Dengan begitu, tamu-tamunya akan mendapatkan kesan tentang apa dan bagaimana peran seorang profesor itu. Inilah yang disebut permukaan. Di samping itu, tentu ada perilaku-perilaku lain yang
tidak mau ditunjukkan ke permukaan, walaupun tetap saja dilakukan, karena dianggap tidak sesuai dengan peran yang hendak diwujudkan.

KESIMPULAN
Sifat-sifat yang dimiliki bersama seperti jenis kelamin, suku bangsa, usia, atau ketiga sifat itu sekaligus. Semakin banyak sifat yang dijadikan dasar kategori kedudukan, semakin sedikit orang yang dapat ditempatkan dalam kedudukan itu. Perilaku yang sama seperti penjahat (karena perilaku jahat), olahragawan, atau pemimpin. Perilaku ini dapat diperinci lagi sehingga kita memperoleh kedudukan yang lebih terbatas, misalnya penjahat bisa diperinci lagi ke dalam pencopet (perilaku, kejahatannya adalah mencopet), pembunuh, pencuri, pemerkosa, dan sebagainya. Selain itu, penggolongan kedudukan berdasarkan perilaku ini dapat bersilang dengan penggolongan berdasarkan sifat, misalnya pencuri wanita, atau pencuri wanita remaja, yang membuat kedudukan itu semakin eksklusif. Reaksi orang lain terhadap mereka.

REFERENSI
Deaux, K & Lawrence S. W. (1988). Social Psychology. Wadsworth, Inc.
Goldenberg, S. (1987). Thinking Sociologically. Wadsworth, Inc.

Shaw, M.  E. & Philip, R. C. (1985). Theories of Social Psychology, Second Edition. McGraw-Hill, Inc.

0 comments:

Post a Comment