29.1.17

RESENSI ARTIKEL: TEBAR KEBENCIAN, TUMPULKAN PIKIRAN



HARUSKAH KITA TETAP BERTEMAN PADA ORANG
YANG MEMBENCI KITA?

Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Kebencian adalah emosi yang manusiawi, karena kita tentu pernah merasa benci pada seseorang atau sesuatu. Persoalan gawat akan muncul bila emosi kebencian itu disebarluaskan ke ranah publik. Kebencian yang dipublikasikan itu akan menuai konflik dan kejahatan akan kemanusiaan. Bahkan kebencian itu akan menyebabkan mala petaka kemanusiaan. Manusia yang mempunyai emosi benci ini selalu mencari teman. Ia tidak pernah berani sendirian menentang pihak yang dibencinya.

Bagaimana cara menjelaskan emosi benci dan kecenderungannya mencari bala bantuan? Penjelasan tentang emosi benci ini dapat dijelaskan melalui tahap-tahap kebencian, atau biasa disebut sebagai psikopatologi kebencian. Semuanya ada tujuh tahap, yaitu:


  1. Pembenci mengelompok. Pembenci jarang menyendiri. Mereka akan mencari orang lain untuk menguatkan kebenciannya, mencegah introspeksi, dan meleburkan identitas pribadi guna mengurangi tanggung jawab.

  1. Penguatan identitas kelompok. Simbol, ritual, dan mitologi digunakan untuk membangun identitas kelompok sekaligus merendahkan atau mengisolasi target.

  1. Peremehan target kebencian. Sejalan dengan menguatnya citra diri kelompok, pembenci akan menyebar fitnah dan mengolok-olok secara lisan.

  1. Penghinaan sasaran kebencian. Untuk meningkatkan kadar kebncian terus-menerus, pembenci akan meningkatkan retorika atau tingkat kekerasan pernyataannya sehingga intensitas serangan ke target tetap tinggi. Hinaan dilakukan terbuka.

  1. Penyerangan tanpa senjata. Tahap ini menentukan apakah kebencian yang diungkapkan hanya sebatas kata-kata atau sudah mewujud dalam tindakan kekerasan. Pembenci kian agresif dan intimidasi yang dilakukan kian intensif.

  1. Penyerangan bersenjata. Serangan fisik ke target kebencian menggunakan benada-benda di sekitar hingga senjata api. Bisa juga diakukan dengan menyabotase kepentingan target kebencian. Semua tujuannya sama, menunjukkan dominasi atas target kebencian.

  1. Penghancuran target kebencian. Hancurnya target adalah tujuan kelompok pembenci. Kehancuran itu akan meningkatkan kepercayaan diri pembenci. Namun sejatinya, secara fisik dan psikologis, pembenci pun ikut hancur.

Apa saja hal-hal yang menjadi isi kebencian? Materi kebencian itu menyangkut perbedaan ras, gender, orientasi seksual, suku, agama, atau karakter kelompok lain. Hal ini juga terjadi pada Nazi Jerman. Materi kebencian adalah segala sesuatu yang tidak dipunyai pembenci, namun hal itu justru menjadi karakter bagi target kebencian. Sebagai contoh, seorang teman benci pada saya karena saya dianggap sebagai orang yang sukses sedangkan ia adalah orang yang tidak sukses.

Mengapa terjadi kebencian? Kebencian berhubungan dengan pola pikir kronis atau menetap yang dimiliki. Individu memandang segala hal dari sudut pandang negatif atau ancaman bahayanya. Ketidakmampuan melihat secara obyektif ini memacu kekhawatiran. Individu merasa hidupnya terancam. Skema berpikir yang negatif ini sering kali tidak disadari oleh pelaku.

Akar permasalahan dari rasa benci ini adalah pada pengasuhan atau pengalaman masa kecil. Orang-orang semenjak kecil terpapar dan terbiasa menerima hinaan, cacian, kata-kata merendahkan, atau tidak dihargai, cenderung menjadi individu yang berpandangan negatif. Ia tidak bisa berpikir secara objektif. Ia hanya bisa menerima informasi yang disukai atau ingin dilihatnya. Selain informasi seperti itu, dianggap salah.

Sumber kebencian lain adalah politik, bukan perilaku permusuhan bawaan kepribadian seseorang. Situasi politik mengubah sifat alamaiah otak, menyeret sebagian orang apda arus kebencian. Secara alamiah, otak manusia menghindari kebencian. Karakter otak ialah menyukai kesenangan dan menghindari hal-hal yang tidak menyenanngkan. Oleh karena kebencian itu tidak menyenangkan, maka sesungguhnya manusia itu tidak suka membenci. Kebencian juga menguras energi otak. Hal itu membuat otak tumpul dan tidak bisa berpikir tajam. Akibatnya, orang yang dikuasai emosi kebencian akan sulit berpikir dan bertindak adil.

Apa hubungan antara emosi benci dan kelompok? Ketika individu-individu yang mempunyai emosi benci berkelompok, maka cara berpikir yang kronis menjadi ciri kelompok tersebut. Identitas kebencian menjadi kental dan membuat cara berpikir mereka terpolarisasi dengan kelompok lain. Jika pesan kebencian dari pimpinan kelompok disampaikan berulang-ulang, maka realitas yang dipahami ketua kelompok akan menjadi realitas kelompok. Akibatnya mereka menjadi tidak kritis terhadap situasi kelompok, sehingga kelompoknya sendiri menjadi paling benar sedangkan kelompok lain salah.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat kolektif, yaitu senang berkelompok. Mereka tidak percaya pada penilaian dari diri sendiri, namun mereka lebih percaya pada penilaian dari orang lain. Apalagi bila penilaian itu berasal dari pihak mayoritas, maka hal itu dianggap sebagai kebenaran mutlak. Terjadilah kebencian massal pada suatu hal / orang tertentu. Kesukaan seseorang pada penyebar kebencian akan menyebabkan individu juga menyebarkan kebencian yang sama. Sebaliknya, ujaran positif dari orang yang dibenci bisa melahirkan kebencian. Pembenci memandang seseorang bukan atas apa yang dibicarakannya tetapi siapa yang membicarakannya. Istilahnya adalah the singer, not the song. Jadi apa pun yang disuarakan target kebencian maka akan selalu dilihat sebagai hal yang negatif. Padahal mungkin saja hal-hal yang disuarakan itu adalah hal-hal positif. Kelompok yang menjadi target kebencian tidak akan pernah benar.

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi emosi benci ini? Emosi benci ini amat cepat menular, dan bisa terjadi secara massif. Oleh karena itu kebebasan berbicara khususnya yang menyangkut kebencian, harus dibatasi. Kalau perlu, negara harus hadir untuk mencegah eskalasi kebencian ini.

Hal-hal positif dari artikel itu adalah bahwa kita menjadi memahami bahwa pembenci itu selalu mencari bala bantuan. Ia tidak berani sendirian dan terang-terangan mengutarakan kebencian. Sedihnya adalah orang-orang yang diajak untuk membenci kita sering kali tidak menyadari bahwa ia telah dimanipulasi oleh pembenci itu. Pembenci tentu saja akan mengatakan hal-hal buruk tentang kita sebagai umpan. Orang-orang yang membanci kita menjadi bersatu karena memakan umpan yang sama lezatnya.

Hal-hal negatif / kekurangan dari artikel itu adalah tidak menjelaskan tentang langkah-langkah yang bisa dilakukan kita bila menghadapi teman sendiri sebagai pembenci. Pembaca menjadi harus menebak-nebak tentang langkah-langkah yang bisa dilakukan agar hidup menjadi nyaman karena bebas dari gangguan pembenci itu.

Jadi apa yang harus dilakukan, bila teman kita sendiri ternyata membenci kita dan ia secara aktif menyebarkan ujaran negatif tentang kita? Apa pun yang kita lakukan, akan selalu dipandang negatif olehnya. Tidak ada yang benar di matanya, karena kita dianggap sebagai sumber yang menyerangnya. Motifnya adalah ia iri kepada kita. Bersikap mengalah dan berkompromi kepada pembenci nampaknya jauh dari kamus kita. Cara yang mungkin bisa dilakukan adalah kebencian-kebencian itu dijawab dengan kerja, kerja, dan kerja. Bahkan kalau bisa kerja itu berbuah dengan prestasi. Prestasi adalah cara tepat membungkam kebencian itu.

Sumber tulisan:

Wahyudi, M. Z. (2017). Tebar kebencian, tumpulkan pikiran. Kompas. 29 Januari, halaman 5. 



0 comments:

Post a Comment