29.12.16

KISAH INSPIRATIF : TIGA KATA SATU ARTI



TIGA KATA SATU ARTI

Deliana Vicria Nurachyani
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
 
            Kini adalah masa mudaku, dimana masa muda adalah masa yang indah bagi tiap manusia. Belum terbesitkan sekalipun mengenai masa tuaku yang akan datang seperti apa dan bagaimana kehidupannya. Kisah ini adalah sedikit membuat saya lebih mensyukuri keadaan dan lebih membuat saya berpikiran mengenai masa tua saya.
            Kisah ini menceritakan suatu perjuangan hidup, tanggungjawab dan juga kasih
sayang yang tak terbatas. Kisah seorang ibu lansia yang masih bersedia bekerja di pinggiran jalan raya. Sebut saja Ibu P , ibu ini adalah seorang janda dua tahun lamanya. Ibu P menjanda karena sang suami telah tiada. Saat sang suami meninggal beliau masih memiliki tanggungan dan tanggungjawab terhadap anaknya yang masih sekolah. Ibu P adalah seorang ibu yang memiliki enam buah hati. Ibu P keseharianya saat ini bekerja sebagai penjual Koran di salahsatu perempatan lampu merah di Yogyakarta. Saya sering melewati perempatan tersebut, sedikit merasa iba melihat ibu yang tak setangguh masa mudanya masih bersedia berjualan di tepian jalan raya itu. Senyum yang menghiasai wajah rentanya seakan membuatku menjadi penasaran akan perjuangan beliau, berbagai macam pertanyaan ingin rasanya aku tanyakan kepada beliau.
            Saya mencoba membeli koran beliau, dengan berbagai rasa penasaranku aku mencoba bertanya kepadanya mengenai awal ia bersedia berjualan koran di usia yang sudah tak muda lagi. Beliau menceritakan kisah-kisahnya yang seakan membuatku entah bagaimana kagumnya saya kepada beliau. Memang sebelum berjualan koran ibu P berjualan lotek di rumahnya, lotek yang ia jualkan sangatlah laris hingga lotek-lotek di sekitar rumah ibu P kalah saing dengan lotek beliau. Ibu P sangat bersyukur lotek jualannya laris manis namun ia juga tak enak hati kepada tetangganya yang berjualan semacam dengannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi jualannya dan mencari pekerjaan lain. Beliau pernah berpikir di usinya yang mulai merenta susah untuk mencari pekerjaan yang layak, beliau bertanya kesana kemari dan meminta bantuan ke sanak saudara untuk mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan juga usianya. Akhirnya ibu P di tawari untuk menjualkan koran, dengan berbekalan niat akhirnya ibu P mau berjualan koran. Saat awal berjualan koran sang suami belum tiada, waktu itu sang suami hanyalah bekerja sebagai tukang ojek. Penghasilan sebagai tukang ojek memang tak seberapa, apalagi untuk mencukupi keenam buah hatinya oleh karena ibu P berjualan koran untuk membantu penghasilan keluarganya. Hingga akhirnya ketika sang suami tiada ibu P tetaplah berjualan koran, ia tak malu ataupun mengeluh bekerja berjualan seperti ini. Menurut beliau kerja apa saja tak jadi masalah asalkan pekerjaannya di ridhoi dan di berkahi oleh Allah. Itulah alasan pertama kenapa ibu P berjualan koran, yaitu masalah ekonomi dalam keluarganya dan juga untuk anak-anaknya juga.
            Tepat di tahun ini sang bungsu telah lulus sekolah menengah atasnya dan sudah bekerja, tentu saya berpikiran ibu P tidak perlu melanjutkan daganganya berjualan koran. Namun pemikiranku salah, beliau masih tetap bekerja meskipun keenam anaknya sudah berpenghasilan semua. . Pernah anaknya menyarankan Ibu Paidi untuk tidak berjualan koran lagi karena kondisi beliau yang semakin menua dan ketidaktegaan anak terhadap ibunya. Namun kini anak-anaknya sepenuhnya mendukung apapaun ibu mereka lakukan, asalkan masih dalam pemantauan mereka. 
Terik panas matahari yang menyengat tak menyurutkan semangatnya berjualan, senyum ramah yang meneduhkan terpancarkan di sudut bibirnya yang selalu ia tunjukkan ke calon pembelinya. Itulah strategi ibu P dalam menjajakan korannya, dimana ia menanamkan sikap keramahan dan juga kesabaran dalam berjualan. Beliau tak kenal malu atau berputus asa dalam berjualannya meskipun usianya sudah di bilang renta. Menurut beliau bahwa ia senang melakukan pekerjaan ini selain mengisi waktu di usia rentanya namun juga tetap mempunyai naluri tanggung jawab sebagai orang tua untuk mencari nafkah. . Walupun keuntungan menjual koran hanya sedikit namun ia sangat merasakan perjuangan seorang ibu demi menafkahi anaknya hingga kini. Bukan hanya itu saja, selain berjualan koran kegiatan keagamaan ia ikuti seperti pengajian setiap rutin di adakan seminggu dua kali di daerah sekitaran kota Yogyakarta.
            Itulah tiga kata satu arti yang saya maksud yaitu Ibu , ibu merupakan seorang wanita yang paling indah, kasih sayangnya yang tak pernah pudar dan tak terbatas yang telah bersusah payah menjaga, mencintai, menemani, mendidik, dan membesarkan anaknya. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan kecintaan, kekuatan, kepahlawanan, dan kekayaan cinta seorang ibu. Kisah ini menjadi pukulan keras saya untuk menjadi ibu untuk anak-anakku kelak, sekaligus pemikiranku mengenai masa tuaku yang akan datang.
            Tepat di bulan Desember yang bertepatan dengan hari ibu membuat saya menulis kisah salah satu ibu lansia yang tetap bekerja selain untuk menambah ekonomi keluarganya namun juga sebagai  naluri ibu,naluri orang tua yang masih mampu bersedia bekerja sebagai  kebanggan tersendiri bisa merasakan perjuangan seorang ibu meskipun sang  suami telah tiada. Walaupun renta namun ia juga masih bersedia melakukan kegiataan keagamaannya.
            Selamat hari ibu. Selamat berjuang menghadirkan generasi mulia, dan menjemput kemuliaan yang Allah siapkan, sebagai balasan atas cinta dan ketulusan tanpa pamrih. 

0 comments:

Post a Comment