2.11.16

RESENSI ARTIKEL ,KULIAH DI KEDOKTERAN, MENDULANG SUKSES DI BISNIS JASA CUCI SEPATU



Fadli Amin
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


 

Kuliah Di Kedokteran , Mendulang Sukses Di Bisnis Cuci Sepatu

       Berawal dari membuka jasa cuci sepatu di emperan kos-kosan, Tirta Air Mandira Hudhi (25) kini berhasil memiliki 19 gerai di beberapa kota di Indonesia, termasuk di Singapura.
Bahkan, berkat gerai cuci sepatu yang diberinya nama "Shoes And Care" ini, Tirta mendapat penghargaan dari Google.
Sejak kecil, Tirta Air Mandira Hudhi bercita-cita menjadi seorang dokter. Setelah lulus SMA, pria kelahiran Karanganyar, 30 Juli 1991, ini lantas meneruskan studinya masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Kuliah di Fakultas Kedokteran UGM tak semulus yang diperkirakan. Meski biaya kuliah di UGM saat itu terbilang masih sangat murah, namun ia harus memutar otak demi bisa membeli buku-buku medis yang harganya mahal. Ditambah ia harus mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari di Yogyakarta.
"Pada waktu itu yang menjadi problem adalah membeli electronic book, buku-buku medis yang harganya mahal. Saya tidak ingin merepotkan orangtua dengan mengandalkan uang saku, jadi bertekad mencari uang sendiri," ucap Tirta saat ditemui Kompas.com di gerai Shoes and Care miliknya di Jalan Cendrawasih Demangan, Sleman, Selasa (31/05/2016).

Makan roti basi
     Dari tekad untuk mencari uang tambahan itulah akhirnya Tirta membuat usaha mulai dari bidang informasi dan teknologi (IT) sampai fashion. Semuanya dipasarkan dengan basic online. Namun usaha yang dirintisnya itu malah bangkrut.
"Tahun 2010 saya juga buka usaha jual beli sepatu, dan justru di situ juga gagal," katanya.
Kegagalan dalam membuka usaha itu membuatnya benar-benar tidak memiliki uang lagi. Bahkan Tirta terpaksa harus makan roti basi karena saking tidak ada uang untuk hidup.
"Benar-benar tidak ada uang, seminggu saya makan roti basi. Saya merefleksikan diri, apa yang salah dengan usaha itu, kenapa sampai gagal," tuturnya.
Dalam keterpurukannya itu, Tirta teringat masih memiliki sepatu-sepatu bekas. Sepatu itu ia kumpulkan dan dibersihkan. Setelah bersih, sepatu bekas itu lantas dijualnya.
"Uang itu yang menjadi tambahan untuk hidup saya di saat terpuruk. Lumayan bisa untuk menyambung hidup, tapi saya saat itu memutuskan belum membuka usaha lagi," tandasnya.

Sumber ; Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma. Kompas ,1 juni 2016

kritik;
Artikel tersebut menjelaskan bahwa memang jalan rezeki manusia tidak di atur dari sebuah Jurusan yang kita ambil di masa kuliah, Namun Justru Kesuksesan tersebut diraihnya dari serangkaian  macam kegagalan usaha yang pernah  di alaminya . Artikel tersebut juga sangat menginspirasi , bahwa kegagalan dalam merintis usaha tidak akan membuat jiwa kita langsung merasa putus asa, dengan kesabaran dan kerja keras maka kesuksesan pasti akan diraih.

0 comments:

Post a Comment