27.10.16

RESENSI ARTIKEL : PENJAGA NAPAS BATIK CIWARINGIN

RESENSI ARTIKEL : PENJAGA NAPAS BATIK CIWARINGIN
Chusnul Rizatul Untsa
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Batik Ciwaringin sempat dua dekade mengalami lesu darah. Para perajinnya yang sebagian besar perempuan berbondong – bondong terbang ke Timur Tengah untuk mencari nafkah. Hal ini membuat Batik Ciwaringin tidak lagi banyak produksi. Namun pasangan suami istri Nursalim dan iim Rohimah memilih tetap bertahan di desa dan berusaha memperpanjang napas batik ciwaringin yang tersisa. Ciwaringin sendiri merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Cirebon Jawa barat.
Menurut Nursalim sejak 1980-an semua wanita di desa itu membatik termasuk nenek dan ibunya. Memasuki tahun 1990-an usaha batik tulis ciwaringin mulai surut lantaran dihantam batik printing yang harganya jauh lebih murah. Sedangkan batik tulis lebih memerlukan pengerjaan yang rumit dan lama. Sehingga harga tertinggal dan lebih mahal dibanding yang printing. Dengan keadaan sesulit itu para agen – agen penyalur Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masuk ke Ciwaringin. Mereka membujuk warga khususnya perempuan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah dengan iming – iming gaji jutaan rupiah.
Uang yang dibawa para TKI pulang ke Ciwaringin memang bisa memperbaiki perekonomian desa. Rumah – rumah yang dulunya reot dibangun ulang oleh para TKI menjadi mentereng. Namun disisi lain harga yang harus dibayar dari kemajuan itu ialah kisah perselingkuhan, perceraian dan anak – anak yang terlantar mulai bermunculan. Banyak keluarga – keluarga TKI di Ciwaringin amburadul.
Nursalim yang saat itu lulus dari pesantren merasa prihatin akan keadaan masyarakat desanya. Ia pun mulai berkeliling kampung untuk mengingatkan bahwa mendatangkan mudarat ketimbang manfaat. Namun ocehan Nursalim tidak digubris warga karna dianggap masih anak ingusan. Penolakan itu membuatnya berfikir keras karna dakwahnya ia sadari tidak memberikan solusi. Karna semua butuh duit untuk hidup.
Ketika Nursalaim menikah dengan Iim Rohimah yang berasal dari keluarga pebatik. Pada tahun 2009 Dinas Koperasi Kabupaten Cirebon berinisiatif mengangkat bisnis batik Ciwaringin kembali dengan menggandeng Iim dan sejumlah pebatik lain. Hasilnya usaha batik Ciwaringin mulai berkembang lagi. Akan tetapi keuntungan sangat minim sehingga tidak banyak warga yang mau terjun terus menerus di bidang ini. Tapi Nursalim dan Iim masih tetap setia menggeluti batik Ciwaringin. Dengan giat merangkul kaum perempuan untuk menekuni kembali batik. Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil satu demi satu mantan TKI ikut terjun kembali ke bisnis ini. Dengan bersinarnya kembali bisnis batik Ciwaringin perlahan para perempuan Ciwaringin meninggalkan jalan hidup sebagai TKI lagi.

Sumber :

Prabowo, H. Wawan, (2016), Penjaga Napas Batik Ciwaringin. Kompas 21 Oktober hal 16

0 comments:

Post a Comment