26.10.16

Resensi Artikel : Ia Yang Tak Kenal Putus Asa

Resesnsi Artikel : Ia Yang Tak Kenal Putus Asa
Chusnul Rizatul Untsa
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

               
Terlahir tanpa lengan, Muhammad Amanatullah berusia 23 tahun tak mau menyerah pada keadaan. Pemuda asal Gresik Jawa Timur itu menggambar dan melukis dengan menggunakan kakinya. Ia pun tak sega untuk berbagi semangat dan keahliannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Bahkan ia mengajari sejumlah anak penyandang difabel atau anak berkebutuhan khusus lain untuk menggambar dan mewarnai. Ia memperagakan cara melukis dengan menggunakan kakinya dengan sangat terampil. Jempol dan jari kaki kanannya menjepit spidol warna hitam.
                Aam begitu sapaan akrabnya di PPABK (Paguyuban Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus) di Universitas Muhammadiyah Gresik. Aam senang dipercaya PPABK ikut mengajari ABK. Kadang ada kendala komunikasi karena ABK itu punya latar belakang berbeda. Namun kehadirannya bukan hanya berbagi sebagai penyandang difabel melainkan juga sebagai motivator dan memberikan inspirasi kepada ABK agar jangan sampai putus asa.
                Menjadi bungsu dari enam bersaudara dari pasangan Aliantoro dan Nasifah. Aam terlahir dengan keadaan kekurangan. Akan tetapi ia tidak lantas mengutuk keadaan apalagi menggugat Tuhan. Ia yakin dibalik keterbatasan tubuhnya Tuhan telah memberinya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Terbukti dari juara yang ia raih dari berbagai lomba saat duduk di bangku sekolah dasar di SLB Kemala Bhayangkari Gresik. Prestasi itu bukti dari ketertarikannya pada bidang seni khususnya menggambar dan melukis.
                Sejak lulus SMA Aam menekuni bakatnya melukis hingga berkembang. Ia juga mengajari anak – anak di kampungnya mengaji di Taman Pendidikan Alquran Al Hidayah. Disana ia sering melukis bunga yang sedang mawar mekar. Beberapa karyanya dikoleksi sejumlah tokoh. Ada juga lukisan karyanya dibeli oleh mantan Kepala Kepolisian Daerah Jatim. Aam saat itu diundang langsung oleh beliau.

                Pada akhirnya Aam memperoleh kesempatan kuliah dan mendapat difasilitasi PPABK serta pusat Kajian dan Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus di Universitas Muhammadiyah Gresik. Ia dipilih menjadi motivator bagi anak – anak berkebuthan khusus. Ia ingin menebarkan energi positif terutama kepada anak – anak atau para pemuda yang memiliki keterbatasan seperti dirinya. Jika ingin maju dan berhasil, orang harus selalu bersemangat. Ia ingin menularkan virus semangat itu kepada sesama difabel dan mereka yang berkebutuhan khusus. Jangan mudah berputus asa. Itu menghalangi sukses.

Sumber :

Prabowo ,H. Wawan,(2016) Ia Yang Tak Kenal Putus Asa. Kompas, 22 Oktober hal 16 

0 comments:

Post a Comment